Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 13 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Ada dua nikmat yang luar biasa istimewa yang Allah anugerahkan kepada manusia, yaitu nikmat iman dan nikmat Islam. Keduanya bukan hasil usaha semata, melainkan pilihan langsung dari Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”
(QS. Yunus: 25)
Dan dalam ayat lain:
“Dan demikianlah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang wasathan (pertengahan), agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”
(QS. Al-Baqarah: 143)
Iman dan Islam adalah nikmat yang tidak bisa diwariskan, sebagaimana harta benda yang dapat dibagikan kepada anak cucu. Seseorang bisa lahir dari orang tua yang saleh, tetapi hidayah iman tetap milik Allah semata. Bahkan anak seorang nabi pun belum tentu beriman, sebagaimana anak Nabi Nuh ‘alaihissalam yang menolak mengikuti ayahnya saat banjir besar.
Allah berfirman:
“Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang beriman); sesungguhnya (perbuatannya) tidak baik. Maka janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang engkau tidak mengetahui hakikatnya. Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”
(QS. Hud: 46)
Ayat ini menjadi bukti bahwa iman tidak bisa diwariskan dan Islam tidak dapat ditransfer seperti halnya uang atau harta benda.
Kewajiban Menjaga Nikmat Iman dan Islam
Karena begitu berharganya nikmat ini, maka menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan merawatnya melalui amaliyah yang terkandung dalam Rukun Iman dan Rukun Islam, serta menyempurnakannya dengan Rukun Ihsan.
Rukun Iman mengajarkan keyakinan,
Rukun Islam mengajarkan pengamalan,
dan Rukun Ihsan mengajarkan kesempurnaan dalam ibadah — yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah, dan jika tidak mampu, meyakini bahwa Allah selalu melihat kita.
Rasulullah ï·º bersabda dalam Hadis Jibril yang masyhur:
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu (merasa melihat-Nya), maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.”
(HR. Muslim)
Inilah puncak kesempurnaan agama, di mana iman, Islam, dan ihsan berpadu dalam diri seorang hamba, menjadikannya manusia mulia (insan kamil) yang selaras antara hati, amal, dan kesadaran kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agamamu.”
(QS. Al-Maidah: 3)
Maka barang siapa telah dianugerahi nikmat iman dan Islam, hendaklah ia bersyukur dan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Karena tidak ada nikmat yang lebih besar daripada menjadi seorang mukmin yang mengenal Tuhannya dan tunduk kepada-Nya.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup
Nikmat iman dan Islam adalah puncak rahmat Allah yang menuntun manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia tidak bisa diwariskan, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa ditukar. Maka siapa yang memilikinya, wajib bersyukur, menjaga, dan memperkuatnya dengan amal saleh serta keikhlasan dalam ibadah.
Semoga kita termasuk golongan hamba yang senantiasa memelihara iman, menegakkan Islam, dan memperindahnya dengan ihsan hingga akhir hayat.
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)


