Oleh: Dr. Ir. Narmodo, M.Ag, Akademisi, Da’i dan Pengamat Kebijakan Publik
Dalam berbagai laporan resmi, ekonomi Indonesia digambarkan berada dalam kondisi yang relatif stabil. Pertumbuhan terjaga, inflasi terkendali, dan disiplin fiskal terus dipertahankan. Dari sudut pandang makroekonomi, situasi ini mencerminkan ketahanan yang patut diapresiasi, terlebih di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Namun, stabilitas tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi rasa aman dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Di tingkat rumah tangga, banyak warga masih merasakan tekanan yang nyata. Kesempatan kerja terasa terbatas, biaya hidup meningkat, dan penghasilan sulit mengejar kebutuhan yang kian kompleks. Di sinilah paradoks itu muncul: ekonomi stabil, tetapi kehidupan terasa tertekan.
Paradoks ini tidak lahir dari kesalahpahaman terhadap data statistik, melainkan dari pengalaman konkret yang dihadapi masyarakat. Ketika indikator makro menunjukkan perbaikan, sebagian warga justru menghadapi kenyataan ekonomi yang makin rapuh. Kesenjangan antara kinerja ekonomi nasional dan pengalaman ekonomi rumah tangga menjadi ruang refleksi yang tidak bisa diabaikan.
Struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung bertumpu pada sektor-sektor padat modal. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto memang signifikan, tetapi daya serap tenaga kerjanya relatif terbatas. Investasi tumbuh dan proyek berjalan, namun penciptaan lapangan kerja berkualitas tidak selalu mengikutinya. Akibatnya, banyak orang bekerja dalam situasi yang kurang pasti, dengan tingkat perlindungan dan kepastian pendapatan yang terbatas.
Penurunan tingkat pengangguran secara statistik belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kualitas kerja. Pekerjaan informal, kontrak jangka pendek, dan pekerjaan berbasis platform digital semakin menonjol. Banyak pekerja tetap aktif secara ekonomi, tetapi berada dalam kondisi yang rentan. Dalam konteks ini, bekerja tidak selalu identik dengan meningkatnya kesejahteraan.
Tekanan juga terasa dari sisi biaya hidup. Inflasi nasional yang relatif terkendali belum sepenuhnya menggambarkan beban yang dirasakan rumah tangga. Harga pangan, sewa tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan layanan kesehatan menjadi komponen utama yang menentukan kualitas hidup. Ketika pengeluaran dasar ini meningkat lebih cepat daripada pendapatan, stabilitas makro kehilangan resonansinya di tingkat mikro.
Kelompok kelas menengah merasakan tekanan ini dengan cara yang paling sunyi. Mereka tidak berada dalam kategori miskin ekstrem, tetapi juga tidak lagi merasa aman secara ekonomi. Tabungan tergerus, beban utang meningkat, dan ruang untuk merencanakan masa depan semakin menyempit. Padahal, kelas menengah selama ini menjadi penyangga utama konsumsi domestik dan stabilitas sosial. Ketika kelompok ini melemah, daya tahan ekonomi nasional ikut terpengaruh.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan ekonomi Indonesia ke depan tidak berhenti pada menjaga stabilitas. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa stabilitas itu terhubung dengan kesejahteraan nyata masyarakat. Penciptaan kerja layak, pengendalian biaya hidup dasar, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah yang produktif, serta perlindungan terhadap kelompok rentan baru perlu ditempatkan dalam satu kerangka kebijakan yang saling terkait.
Pendidikan dan pelatihan kerja juga memegang peran penting dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja masih perlu diperkuat secara lebih realistis. Program vokasi berbasis kebutuhan lokal, magang berbayar, dan sertifikasi keterampilan yang relevan dapat membantu generasi muda memasuki dunia kerja dengan kesiapan yang lebih baik.
Lebih jauh, cara menilai keberhasilan ekonomi juga patut diperluas. Selain pertumbuhan dan inflasi, indikator seperti upah riil, kualitas pekerjaan, dan ketahanan rumah tangga layak mendapatkan perhatian yang setara. Indikator-indikator inilah yang lebih dekat dengan pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan capaian stabilitas yang telah diraih. Sebaliknya, ia merupakan ajakan untuk melengkapinya. Stabilitas makro adalah prasyarat penting, tetapi belum cukup. Ekonomi menemukan maknanya ketika stabilitas tersebut mampu menghadirkan ketenteraman, kepastian, dan harapan di tingkat rumah tangga. Tanpa itu, paradoks ini akan terus berulang: ekonomi stabil, kehidupan tetap tertekan. (AZN)


