Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 19 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Di kalangan ulama dan penuntut ilmu dikenal ungkapan masyhur:
“Al-adabu fauqal ‘ilm”
Adab lebih utama daripada ilmu.
Sekilas, ungkapan ini tampak paradoks. Bukankah adab sendiri merupakan bagian dari ilmu? Jika demikian, mengapa adab justru ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu?
Untuk memahami maknanya secara utuh, kita perlu meninjau hakikat ilmu dalam Islam, tujuan penciptaan manusia, serta struktur ajaran agama yang terhimpun dalam konsep Iman, Islam, dan Ihsan.
Adab adalah Ruh dari Ilmu
Dalam Islam, ilmu bukan sekadar akumulasi pengetahuan rasional, melainkan cahaya yang membimbing hati menuju kebenaran. Namun, ilmu tanpa adab ibarat pedang di tangan orang gila: tajam, tetapi berbahaya.
Imam Malik رØÙ…Ù‡ الله pernah menasihati seorang penuntut ilmu:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Sebab adab adalah wadah, sedangkan ilmu adalah isi. Wadah yang rusak akan merusak apa pun yang ada di dalamnya.
Rasulullah ï·º bersabda:
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا بُعِØ«ْتُ Ù„ِØ£ُتَÙ…ِّÙ…َ Ù…َÙƒَارِÙ…َ الْØ£َØ®ْÙ„َاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa misi kenabian bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan adab dan akhlak.
Ilmu Adab dan Hakikat Tasawuf
Jika ditelusuri secara mendalam, ilmu adab merupakan inti tasawuf. Tasawuf bukanlah ilmu yang berdiri di luar syariat, melainkan ruh yang menghidupkan seluruh cabang ilmu.
Secara garis besar, adab terbagi menjadi dua:
1. Adab terhadap Allah (Hablum minallah)
Meliputi:
Allah berfirman:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِÙ†ْسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ibadah tanpa adab melahirkan kesombongan spiritual, sebagaimana Iblis yang berilmu tetapi kehilangan adab.
2. Adab terhadap Sesama Makhluk (Hablum minannas)
Meliputi:
- Fiqih mu’amalah
- Akhlak sosial
- Kasih sayang dan keadilan
Rasulullah ï·º bersabda:
Ø£َÙƒْÙ…َÙ„ُ الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ Ø¥ِيمَانًا Ø£َØْسَÙ†ُÙ‡ُÙ…ْ Ø®ُÙ„ُÙ‚ًا
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)
Ilmu yang tidak melahirkan akhlak mulia berarti belum menyentuh hakikatnya.
Seluruh Ilmu Mengandung Nilai Tasawuf
Pada hakikatnya, setiap cabang ilmu dalam Islam mengandung unsur tasawuf, yaitu penyucian jiwa dan pembentukan adab:
- Tauhid → melahirkan tawadhu’
- Fiqih → melahirkan ketaatan
- Hadis → melahirkan keteladanan
- Tafsir → melahirkan ketundukan
- Mu’amalah → melahirkan kejujuran
Ilmu yang tidak membentuk jiwa hanyalah informasi, bukan hidayah.
Pendidikan Anak: Akhlak Didahulukan Sebelum Ilmu
Dari sini jelas bahwa akhlak harus ditanamkan lebih dahulu, sebelum ilmu-ilmu yang lain.
Luqman al-Hakim mendidik anaknya bukan dengan teori, melainkan dengan adab dan hikmah:
ÙŠَا بُÙ†َÙŠَّ Ù„َا تُØ´ْرِÙƒْ بِاللَّÙ‡ِ
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah.”
(QS. Luqman: 13)
Ini adalah pendidikan tauhid sekaligus adab kepada Allah.
Iman, Islam, dan Ihsan: Urutan Hakiki Pendidikan
Secara struktur, Ihsan disebut terakhir. Namun dalam proses pembentukan manusia, Ihsan adalah ruh yang harus ditanamkan sejak awal.
Tanpa Ihsan:
- Iman menjadi kering
- Islam menjadi formalitas
- Ilmu berubah menjadi alat kesombongan
Kesimpulan
Ungkapan “adab lebih utama daripada ilmu” bukan merendahkan ilmu, melainkan menjaga ilmu agar tetap bernilai ibadah.
- Adab adalah ilmu tertinggi
- Tasawuf adalah ruh seluruh ilmu
- Akhlak adalah tujuan akhir pendidikan Islam
- Ihsan adalah puncak kesempurnaan agama
Maka yang pertama kali diajarkan kepada manusia bukan banyaknya ilmu, melainkan ilmu akhlak, agar ilmu yang datang setelahnya menjadi cahaya, bukan petaka.
اللَّÙ‡ُÙ…َّ زَÙŠِّÙ†َّا بِزِينَØ©ِ الْØ¥ِيمَانِ ÙˆَØُسْÙ†ِ الْØ£َØ®ْÙ„َاقِ
“Ya Allah, hiasilah kami dengan keindahan iman dan kemuliaan akhlak.”


