BANTEN, infoDKJ.com | Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kediaman Abuya Muhtadi, putra pertama almarhum Abuya Dimyati Cidahu, dalam rangka Haul Abuya Dimyati Cidahu, yang digelar pada Kamis malam, 22 Januari 2026 M bertepatan dengan 4 Sya’ban 1447 H, di Cidahu, Pandeglang, Banten.
Acara yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB hingga selesai tersebut dipusatkan di kediaman Abuya Muhtadi dan dihadiri jamaah dari wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, serta berbagai daerah di Provinsi Banten. Sejak pagi hari, arus kedatangan jamaah sudah terlihat, bahkan mulai berdatangan sejak pukul 09.00 WIB dan terus mengalir hingga menjelang waktu shalat Isya.
Rangkaian kegiatan haul diisi dengan istighotsah dan Maulid Akbar, yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lanjut usia, baik putra maupun putri.
Meski cuaca kurang bersahabat dengan gerimis hingga hujan deras, hal tersebut tidak menyurutkan langkah para jamaah untuk tetap mengikuti seluruh rangkaian acara. Mereka hadir dengan niat ngalap berkah dari keilmuan, keteladanan, dan karomah Abuya Dimyati, serta keberkahan dari para dzurriyah beliau.
Di antara ribuan jamaah yang hadir, tampak rombongan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kebon Jeruk, yang dipimpin langsung oleh H. M. Amru Zuhri. Kehadiran rombongan ini menjadi bukti kuat kecintaan umat kepada para ulama sebagai pewaris keilmuan dan perjuangan dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ketua MWC NU Kebon Jeruk, H. M. Amru Zuhri, menyampaikan bahwa kehadiran pihaknya dalam haul tersebut merupakan wujud ta’dzim dan mahabbah kepada para ulama.
“Kehadiran kami di Haul Abuya Dimyati Cidahu ini semata-mata untuk ngalap berkah dari keilmuan, keteladanan, dan karomah beliau. Para ulama adalah pewaris Nabi, dan menjaga hubungan batin dengan mereka merupakan bagian dari menjaga sanad keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan haul memiliki nilai strategis dalam memperkuat ukhuwah serta menanamkan kecintaan generasi muda terhadap ulama dan pesantren.
“Haul bukan sekadar peringatan wafat, tetapi momentum untuk meneladani akhlak, perjuangan dakwah, serta keistiqamahan para ulama dalam membimbing umat,” tambahnya.
Selama acara berlangsung, para santri tampak sigap melayani jamaah yang hadir. Konsumsi disediakan secara tertib dan memadai. Bahkan sejak pagi hari, Abuya Muhtadi secara langsung menyembelih sapi dan kerbau, yang dagingnya diolah sebagai salah satu menu hidangan prasmanan bagi para jamaah.
Acara haul berakhir sekitar pukul 01.00 WIB. Sebagian rombongan jamaah langsung kembali ke daerah masing-masing, sementara sebagian lainnya memilih untuk bermalam di sekitar lokasi kegiatan.
Haul Abuya Dimyati Cidahu kembali menjadi momentum spiritual yang mempertemukan umat dalam suasana dzikir, shalawat, dan doa, sekaligus menguatkan ikatan batin antara ulama, santri, dan masyarakat luas.
(Yansen)




