ACEH UTARA, infoDKJ.com | Cahaya matahari hanya menyelinap sempit dari mulut sumur. Di dinding beton yang lembap dan berlumut, lumpur sisa banjir masih menempel tebal. Di dasar sumur itulah Miftah Ghulam Halim, relawan Muhammadiyah Jakarta, berdiri dengan tubuh setengah terendam, menguras kotoran yang menggenang demi satu hal paling mendasar bagi kehidupan warga: air bersih.
Aksi itu terjadi di Desa Cot Seurani, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (24/1/2026), beberapa hari setelah banjir surut. Air mungkin telah pergi dari jalanan dan rumah-rumah, tetapi jejak kehancurannya masih tertinggal di sumur warga—sumber utama kehidupan sehari-hari.
Dengan selang penyedot air di tangan dan ember berisi lumpur di kaki, Miftah turun ke dalam sumur tanpa banyak bicara. Bau lumpur bercampur limbah menusuk, dinding sumur licin, dan ruang sempit menyisakan risiko. Namun langkahnya mantap.
“Kalau sumur ini tidak dibersihkan, warga tidak bisa masak, tidak bisa mandi, tidak bisa hidup normal,” ujar salah satu relawan di atas sumur, menyaksikan Miftah bekerja dari kejauhan.
Bagi warga Cot Seurani, banjir bukan hanya soal air yang meluap, tetapi tentang hilangnya akses air bersih. Sumur yang terkontaminasi lumpur dan kotoran menjadi ancaman kesehatan. Di situlah para relawan Muhammadiyah mengambil peran—melakukan pekerjaan sunyi yang jarang terlihat kamera.
Aksi Miftah bukan sekadar kerja fisik. Ia adalah simbol keberanian dan empati. Turun ke sumur berarti menempatkan diri di titik paling bawah—secara harfiah dan maknawi—untuk mengangkat kembali harapan warga agar bisa bangkit.
Relawan Muhammadiyah Jakarta dalam misi kemanusiaannya di Aceh Utara tidak hanya menyalurkan bantuan logistik, tetapi juga fokus pada pemulihan sanitasi, pembersihan rumah warga, dan edukasi kesehatan lingkungan. Mereka tahu, bencana tidak selesai ketika air surut.
Seorang warga setempat hanya bisa menatap sumur itu dengan mata berkaca-kaca.
“Air ini yang kami pakai setiap hari. Kalau tidak ada relawan, entah kapan bisa dipakai lagi,” katanya lirih.
Di tengah sunyi dasar sumur, di antara lumpur dan sisa banjir, nilai kemanusiaan bekerja tanpa panggung. Tidak ada sorak, tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya tangan-tangan yang kotor oleh lumpur, namun bersih oleh niat.
Aksi Miftah Ghulam Halim hari itu mengingatkan satu hal sederhana namun penting:
kemanusiaan sering lahir dari keberanian untuk turun ke tempat paling gelap, demi orang lain bisa kembali melihat terang.



Masya allah
BalasHapusSemoga allah memberi keselamatan kesehatan dan ke kuatan save pengamanan..
Usulan aja itu pegangan embernya .. doble tali jaga jaga patah masih ada penahan..
Semangat ghulam.. khoirun nas anfaahum linnas....
DU'A ABAH DAN MAMAH MENYERTAIMU