Jakarta, infoDKJ.com | Kamis, 19 Februari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani yang Allah syariatkan untuk membentuk manusia yang lebih sadar, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa bukanlah sekadar perubahan fisik, melainkan lahirnya takwa—kesadaran hati yang hidup dan terjaga. Dari praktik menahan diri ini, terpancar berbagai hikmah yang mendalam.
1. Kedalaman Jiwa Melalui Kekosongan
Saat perut kosong, manusia terlepas sejenak dari kesibukan kenikmatan duniawi. Kekosongan itu bukan kehampaan, melainkan ruang sunyi tempat jiwa berbicara. Lapar meruntuhkan kesombongan, sebab manusia menyadari betapa lemahnya dirinya tanpa nikmat Allah.
Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits qudsi:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi; hanya Allah dan hamba yang mengetahui kejujurannya. Di situlah letak keikhlasannya.
2. Kesabaran sebagai Perhiasan Mental
Puasa melatih kemampuan menunda keinginan. Secara psikologis, ia membangun kontrol diri dan ketahanan emosi. Allah menegaskan:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Nabi ï·º juga bersabda:
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai ini bukan hanya melindungi dari dosa, tetapi juga dari ledakan emosi dan reaksi yang merusak diri. Dengan menahan diri, seseorang belajar menjadi tenang sebelum bertindak.
3. Empati yang Nyata
Rasa lapar membuat seseorang benar-benar merasakan penderitaan orang lain. Ini bukan sekadar teori sosial, melainkan pengalaman fisik yang nyata. Dari sinilah tumbuh kasih sayang dan dorongan untuk berbagi.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya.”
(HR. Thabrani)
Puasa menjembatani jarak antara yang mampu dan yang kekurangan. Ia melembutkan hati yang sebelumnya mungkin keras dan abai.
4. Kejernihan Pikiran dan Kedekatan Spiritual
Ketika tubuh tidak disibukkan dengan makan dan minum, fokus batin meningkat. Banyak ulama menjelaskan bahwa lapar yang terkontrol membantu kejernihan hati dan kekhusyukan ibadah.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dalam keadaan fisik yang lebih ringan, hati lebih mudah hadir dalam doa, dzikir, dan tafakur. Lapar menjadi jembatan menuju ketenangan.
5. Kemerdekaan Batin Melalui Rasa Cukup
Puasa mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada banyaknya konsumsi. Orang yang mampu menahan diri telah merdeka dari perbudakan nafsu.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Rasa cukup (qana’ah) menjadikan seseorang tetap tenang meski dunia di sekelilingnya berubah. Ia tidak mudah gelisah karena telah menemukan sumber kebahagiaan di dalam dirinya.
Penutup
Menahan diri dalam puasa adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap budaya konsumtif. Ia mengubah kekosongan fisik menjadi kekayaan batin. Lapar bukanlah penderitaan, melainkan pintu pendidikan Ilahi.
Dari sana lahir kesabaran, empati, kejernihan, dan kemerdekaan jiwa. Puasa mengajarkan bahwa perhiasan sejati manusia bukanlah apa yang ia miliki, melainkan kualitas hati yang ia bangun.
Dan ketika hati telah terdidik oleh lapar karena Allah, di situlah manusia menemukan makna hidup yang sesungguhnya.


