Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 28 Februari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Sering kali seseorang merasa gelisah karena telah beribadah, namun hatinya belum sepenuhnya ikhlas. Perasaan ini bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa hati masih hidup. Justru kegelisahan tersebut menjadi bukti bahwa iman masih bekerja di dalam jiwa.
Karena itu, jangan berhenti beribadah hanya karena merasa belum ikhlas. Teruskan amalnya. Keikhlasan adalah karunia Allah yang tumbuh melalui proses, bukan sesuatu yang hadir secara tiba-tiba.
1. Perintah Beribadah dengan Ikhlas
Allah ï·» menegaskan bahwa tujuan utama ibadah adalah keikhlasan:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa ikhlas adalah inti dari setiap ibadah. Namun para ulama menjelaskan bahwa memurnikan niat merupakan perjalanan hati. Ia tidak selalu langsung sempurna, melainkan harus terus dilatih dan diperjuangkan.
2. Ikhlas Bertumbuh Lewat Istiqamah
Istiqamah adalah kunci agar hati dibimbing menuju keikhlasan. Rasulullah ï·º bersabda:
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa setelah iman, langkah berikutnya adalah konsistensi. Bukan menunggu ikhlas terlebih dahulu baru beramal, tetapi beramallah sambil terus memohon keikhlasan kepada Allah.
3. Niat Menjadi Penentu Nilai Amal
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan alasan untuk meninggalkan amal ketika niat belum sempurna. Justru ia mengajarkan agar kita senantiasa memperbaiki niat di tengah amal yang sedang berjalan. Niat diperbarui, hati diluruskan, dan amal tetap dilanjutkan.
4. Waspada Tipu Daya Syaitan
Salah satu bisikan halus syaitan adalah membuat manusia putus asa dari ibadah. Allah ï·» telah mengingatkan:
“Karena Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.”
(QS. Al-A‘raf: 16)
Bisikan seperti, “Percuma beribadah kalau belum ikhlas,” adalah tipu daya agar seseorang meninggalkan amal. Padahal meninggalkan ibadah justru semakin menjauhkan diri dari keikhlasan.
5. Mujahadah: Jalan Menuju Hati yang Tulus
Rasulullah ï·º bersabda:
“Orang yang berjihad adalah orang yang berjihad melawan dirinya.”
(HR. Tirmidzi)
Melawan rasa riya, malas, dan keinginan untuk dipuji adalah bentuk jihad batin. Semakin sering seseorang berjuang meluruskan niat, semakin Allah tanamkan ketulusan di dalam hatinya.
6. Ikhlas Adalah Anugerah Ilahi
Keikhlasan bukan semata-mata hasil usaha manusia, melainkan cahaya dari Allah. Namun cahaya itu diberikan kepada hamba yang terus mengetuk pintu-Nya dengan sabar, istiqamah, dan sungguh-sungguh.
Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”
Penutup
Jangan menunggu ikhlas baru beribadah. Beribadahlah sambil terus memohon keikhlasan. Karena orang yang terus berjalan menuju Allah, meski langkahnya tertatih, lebih dicintai daripada mereka yang berhenti karena merasa belum sempurna.
Ikhlas adalah hadiah bagi mereka yang tidak menyerah dalam ketaatan.


