Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 2 Februari 2026
Fenomena ketergantungan pada Artificial Intelligence (AI) di kalangan peserta didik saat ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Di satu sisi, AI merupakan alat bantu yang luar biasa. Namun di sisi lain, AI dapat menjadi pisau bermata dua yang mengikis kemampuan kognitif apabila digunakan secara tidak bijak.
Berikut ulasan mendalam mengenai isu tersebut.
Krisis Kognitif: Dilema Jawaban Instan di Era AI
Dahulu, ujian merupakan momen bagi siswa untuk memeras otak, menghubungkan berbagai informasi yang telah dipelajari, serta merangkai argumen secara mandiri. Namun kini, pemandangan tersebut mulai bergeser.
Muncul tren di mana peserta didik merasa kesulitan menjawab pertanyaan secara mandiri dan lebih memilih jalur pintas: AI sebagai jawaban mutlak.
1. Akar Masalah: Mengapa Pengetahuan Peserta Didik Rendah?
Rendahnya kemampuan peserta didik dalam menjawab pertanyaan tidak terjadi secara tiba-tiba. Terdapat beberapa faktor utama yang melatarbelakanginya:
a. Kehilangan Kemampuan Literasi
Kebiasaan membaca teks panjang mulai tergantikan oleh konsumsi konten pendek. Akibatnya, kemampuan memahami konteks soal yang kompleks menurun secara signifikan.
b. Orientasi pada Hasil, Bukan Proses
Sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada capaian nilai angka mendorong siswa mencari cara tercepat memperoleh jawaban “benar”, bukan “paham”.
c. Ilusi Pengetahuan
Ketika siswa sering menggunakan AI, muncul perasaan seolah-olah mereka memahami materi karena jawaban tersedia di depan mata. Padahal, informasi tersebut tidak tersimpan dalam memori jangka panjang.
2. Ketergantungan AI Saat Ujian: Dampak dan Risiko
Penggunaan AI sebagai “joki” saat ujian membawa dampak jangka panjang yang mengkhawatirkan, antara lain:
a. Atrofi Kemampuan Berpikir Kritis
Otak manusia bekerja layaknya otot. Jika jarang dilatih untuk berpikir dan memecahkan masalah secara mandiri, kemampuan analisis akan melemah.
b. Ketidakmampuan Mengonstruksi Kalimat
AI menyajikan jawaban yang rapi dan terstruktur. Tanpa bantuan tersebut, banyak siswa menjadi gagap dalam menyusun kalimat yang logis dan persuasif secara mandiri.
c. Runtuhnya Integritas Akademik
Kejujuran menjadi nilai yang tergerus. Hal ini berpotensi melahirkan generasi yang terbiasa memanipulasi keadaan demi mencapai target pribadi.
3. Memutus Rantai Ketergantungan
Teknologi tidak mungkin dilarang, namun cara berinteraksi dengannya dapat diarahkan. Beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain:
a. Revolusi Bentuk Soal
Guru perlu merancang soal yang bersifat kontekstual, reflektif, atau berbasis pengalaman pribadi, sehingga sulit dijawab oleh AI secara generik.
b. Ujian Berbasis Proses
Penilaian tidak hanya bertumpu pada hasil akhir ujian, tetapi juga pada keaktifan di kelas, proses berpikir, dan kemampuan menjelaskan kembali melalui diskusi lisan.
c. Edukasi Etika AI
Peserta didik perlu memahami bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai asisten riset untuk memperluas wawasan, bukan sebagai pengganti otak dalam berpikir.
Penulis: Abdul Hamid QodarullahSekretaris MGMP PAI Jakarta Pusat 1



