![]() |
| Foto: Dok. MDMC Jakarta, Februari 2026 |
Kisah Inspiratif dari Relawan Muhammadiyah di Bireuen, Aceh
Di sebuah sudut kawasan masjid di Gampong Pante Baro Kumbang, Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, seorang relawan tampak tertidur lelap. Tubuhnya terkulai dalam posisi seadanya, di lantai sudut pekarangan masjid yang menjadi saksi bisu kerja-kerja kemanusiaan pascabencana.
Ia adalah bagian dari relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)—mereka yang datang bukan untuk disambut, tetapi untuk membantu; bukan untuk dipuji, tetapi untuk meringankan beban sesama.
Tidur singkat itu bukan bentuk kelalaian. Ia adalah jeda alami dari tubuh yang telah bekerja melampaui batas normal. Hari-harinya diisi dengan distribusi bantuan, pendampingan warga, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, dan menghadirkan rasa aman di tengah situasi yang tidak pasti akibat bencana.
Bencana Menguras Tenaga, Kemanusiaan Menguatkan Jiwa
Dalam situasi kebencanaan, relawan sering bekerja dalam kondisi terbatas: cuaca yang tidak bersahabat, waktu istirahat minim, dan tekanan psikologis yang tinggi. Mereka menyaksikan langsung rumah rusak, sumber air tercemar, anak-anak kehilangan ruang aman, dan keluarga yang harus memulai kembali dari nol.
Namun di tengah semua itu, mereka tetap bertahan. Bukan karena fisik yang kuat semata, tetapi karena niat kemanusiaan dan keyakinan spiritual yang menguatkan langkah.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Tidak ada lelah yang dialami seorang mukmin di jalan Allah, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
(HR. Bukhari)
Lelah relawan bukan sekadar kelelahan fisik. Ia adalah bukti pengabdian—bahwa seseorang memilih hadir di saat orang lain membutuhkan.
Relawan: Bekerja dalam Sunyi, Dicatat oleh Langit
Di lapangan, kerja kemanusiaan sering berlangsung tanpa sorotan. Relawan hadir lebih awal dan pulang paling akhir. Kadang tanpa dokumentasi, kadang tanpa pujian. Namun Islam mengajarkan bahwa nilai amal tidak ditentukan oleh siapa yang melihat, melainkan oleh siapa yang diniatkan.
Bahkan kelelahan karena membantu sesama memiliki nilai jihad:
“Barangsiapa yang lelah karena mencari nafkah untuk keluarganya, maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah.”
(HR. Ahmad)
Apalagi lelah karena memastikan air bersih layak konsumsi, makanan tersalurkan, dan warga terdampak bencana kembali memiliki harapan.
Saat Relawan Tertidur, Pahala Tetap Terjaga
Tidur singkat relawan di lantai sudut pekarangan masjid itu bukan akhir dari tugas, melainkan pengingat bahwa manusia punya batas. Islam tidak memuliakan pengorbanan yang mematikan diri, tetapi menghargai ikhtiar yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Lelah di dunia adalah istirahat di akhirat.”
(HR. Tirmidzi)
Barangkali hari ini relawan tidur di lantai dingin tanpa alas apapun. Namun Allah menjanjikan istirahat yang jauh lebih indah bagi mereka yang ikhlas di jalan-Nya.
Relawan Muhammadiyah dan Spirit Kemanusiaan Berbasis Iman
Kerja-kerja relawan Muhammadiyah tidak hanya berbasis teknis kebencanaan, tetapi juga nilai dakwah kemanusiaan. Setiap bantuan adalah pesan bahwa Islam hadir sebagai rahmat, bukan sekadar wacana. Setiap relawan adalah saksi bahwa kepedulian masih hidup, bahkan di tengah krisis.
Relawan datang bukan membawa solusi instan, tetapi ikhtiar berkelanjutan—mendampingi warga bangkit, perlahan dan bermartabat.
Penutup
Lelah itu pasti. Namun selama niat tetap lillah, kelelahan akan berubah menjadi keberkahan.
Semoga kisah sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua:
bahwa di balik setiap bencana, ada tangan-tangan ikhlas yang bekerja tanpa pamrih.
Bahwa di balik setiap kelelahan relawan, ada pahala yang tak pernah tertidur.
Karena lelah yang lillah bukanlah kelemahan.
Ia adalah bukti cinta—kepada sesama dan kepada Allah.
Penulis: Adang


