Aceh, infoDKJ.com | Selasa, 3 Februari 2026
Sekelumit Kisah dari Muara Batu, Aceh Usai Bencana Banjir Bandang
Banjir bandang yang menerjang Desa Keude Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, meninggalkan jejak kerusakan yang tidak kecil. Jalur rel kereta api yang melintas kawasan tersebut terdampak langsung, terendam air bercampur lumpur, mengganggu aktivitas warga sekaligus mengancam infrastruktur transportasi vital.
Tak hanya Aceh Utara, sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen juga dilaporkan terendam banjir selama kurang lebih empat hari. Air bah setinggi hingga 160 sentimeter merangsek masuk ke permukiman warga, merendam rumah, fasilitas umum, hingga sekolah dan kantor. Akibatnya, buku pelajaran, arsip penting, serta dokumen administrasi warga rusak dan tidak sedikit yang hilang.
Bagi banyak keluarga, banjir kali ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ujian berat yang memaksa mereka beradaptasi dalam keterbatasan. Aktivitas sehari-hari terhenti, akses transportasi terganggu, dan ruang hidup berubah menjadi kolam air keruh.
Rel Kereta yang Berubah Wajah
Rel kereta api yang biasanya menjadi simbol pergerakan dan konektivitas, kini berubah wajah. Genangan air menutup bantalan rel, menyisakan pemandangan sunyi sekaligus mengkhawatirkan. Bagi orang dewasa, situasi ini memunculkan kecemasan tentang keselamatan dan pemulihan pascabanjir.
Namun di tengah kekhawatiran itu, muncul potret lain yang tak terduga.
Saat Genangan Menjadi Ruang Bermain
Di sekitar kawasan rel yang tergenang, anak-anak tampak memegang pancing sederhana, duduk atau berdiri di tepian air. Mereka memancing ikan kecil yang muncul di genangan banjir, tertawa dan saling bersahut, seolah lupa sejenak pada bencana yang baru saja melanda.
Pemandangan ini menghadirkan ironi sekaligus kehangatan. Di saat orang dewasa disibukkan dengan kerugian dan pemulihan, anak-anak menunjukkan daya lenting kehidupan—kemampuan menemukan keceriaan bahkan di tengah kondisi yang serba sulit.
Bagi mereka, genangan air bukan hanya simbol bencana, melainkan ruang bermain dadakan yang memberi hiburan di tengah keterbatasan.
Pelajaran dari Tengah Bencana
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di balik dampak besar banjir bandang, ada kisah-kisah kecil tentang ketangguhan dan harapan. Tawa anak-anak di sekitar rel kereta yang terendam seolah menyampaikan pesan sederhana: kehidupan terus berjalan, meski dalam kondisi yang tidak ideal.
Namun, keceriaan itu tak boleh menutup mata semua pihak terhadap kebutuhan mendesak warga. Pemulihan infrastruktur, penggantian buku dan arsip penting, serta perlindungan bagi anak-anak dari risiko kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas.
Menjaga Harapan, Menyiapkan Pemulihan
Banjir bandang di Aceh Utara dan Bireuen adalah pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan, tata kelola lingkungan, dan respons kebencanaan yang cepat dan terintegrasi. Di sisi lain, kisah anak-anak yang memancing di genangan air mengajarkan bahwa harapan bisa tumbuh di tempat yang paling tak terduga.
Di antara lumpur, air bah, dan rel kereta yang terendam, kehidupan menemukan caranya sendiri untuk bertahan—dan tersenyum.
Penulis: Adang



