Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 21 Februari 2026
Ibadah puasa Ramadhan adalah amalan yang sangat khusus. Ia menjadi ibadah yang benar-benar rahasia antara seorang hamba dengan Allah ﷻ. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Ia bisa saja masuk dapur untuk minum, atau pergi ke warung untuk makan secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah dan dirinya sendiri.
Karena itu, motivasi utama dalam berpuasa adalah keikhlasan. Rasulullah ﷺ bersabda:
« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian pula dengan qiyamullail (shalat Tarawih):
« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dua Syarat Diterimanya Amal
Imam Fudhail bin Iyadh ketika menafsirkan firman Allah:
“... supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)
Beliau menjelaskan bahwa amal terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai sunnah).
أخلصه وأصوبه. إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل، وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل.
“Amal yang paling ikhlas dan paling benar. Jika suatu amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai tuntunan), maka tidak diterima. Dan jika benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima.”
Hal ini sejalan dengan firman Allah:
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena agama...”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Kata mukhlisiin berarti ikhlas, sedangkan hunafaa’ bermakna mengikuti ajaran Rasul ﷺ.
Demikian pula firman Allah:
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus?”
(QS. An-Nisa: 125)
Aslama wajhahu lillah berarti ikhlas, dan muhsin adalah orang yang mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« إنما الأعمال بالنيات »
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.”
Dalam riwayat lain:
« نية المؤمن أبلغ من عمله »
“Niat seorang mukmin lebih mengena daripada amalnya.”
(HR. Baihaqi)
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata:
“Belajarlah tentang niat, karena ia lebih penting daripada amal.”
(Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)
Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa pembahasan niat menempati sepertiga ilmu dalam Islam.
Para Nabi dan Keikhlasan
Allah menyebut para nabi sebagai hamba-hamba yang ikhlas.
Tentang Nabi Musa عليه السلام:
“Dia benar-benar seorang yang ikhlas, seorang rasul dan nabi.”
(QS. Maryam: 51)
Tentang Nabi Yusuf عليه السلام:
“Sesungguhnya dia termasuk hamba Kami yang ikhlas.”
(QS. Yusuf: 24)
Tentang Nabi Muhammad ﷺ:
“Dan hanya kepada-Nya kami dengan ikhlas mengabdikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 139)
Ikhlas Itu Berat
Sufyan Ats-Tsauri berkata:
“Tidak ada yang lebih berat bagiku daripada memperbaiki niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
Yusuf Ar-Razi berkata:
“Yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Aku berusaha menghilangkan riya dari hatiku, tetapi ia tumbuh lagi dengan bentuk yang lain.”
Ibnul Qayyim memberikan tiga resep menjaga niat:
- Sebelum beramal, tanyakan: untuk siapa ini? Jika bukan karena Allah, tinggalkan.
- Saat beramal, jaga agar tidak disusupi riya dan hawa nafsu.
- Setelah beramal, lupakan. Jangan disebut-sebut.
Tanda-Tanda Orang Ikhlas
1. Mengharap hanya ridha Allah
“... mereka menyeru Tuhannya pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya...”
(QS. Al-Kahfi: 28)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah di jalan Allah.”
(Muttafaq ‘alaih)
2. Suka beramal secara tersembunyi
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan menyembunyikan amalannya.”
(HR. Muslim)
3. Penampilan biasa, ibadah luar biasa
Lihat ciri hamba Ar-Rahman dalam QS. Al-Furqan: 63–67: rendah hati, rajin qiyamullail, takut neraka, dan sederhana dalam infak.
Ada pula hadits yang sangat menggetarkan:
“Mereka adalah saudara kalian... mereka bangun malam seperti kalian. Tetapi jika sendirian dan berhadapan dengan larangan Allah, mereka melanggarnya.”
(HR. Ibnu Majah, shahih)
4. Takut amal tidak diterima
“Dan mereka memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut...”
(QS. Al-Mukminun: 60)
Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang ayat ini. Nabi ﷺ menjelaskan: mereka bukan orang yang berbuat maksiat, tetapi orang yang shalat, puasa, dan bersedekah, namun takut amalnya tidak diterima. (HR. Tirmidzi)
5. Tidak mengharap pujian manusia
“Imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.”
(QS. Asy-Syu’ara: 109)
“Kami memberi makan kepadamu hanya karena mengharap ridha Allah, tidak mengharap balasan dan terima kasih.”
(QS. Al-Insan: 9)
6. Tidak takut celaan manusia
“Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela.”
(QS. Al-Maidah: 54)
Niat adalah puncak tertinggi dalam amal. Ia halus, samar, dan mudah berubah. Karena itu, memperbaiki niat adalah jihad terbesar dalam diri.
Semoga Allah menjadikan puasa dan seluruh amal kita di bulan Ramadhan ini benar-benar ikhlas karena-Nya dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Bersambung…


