![]() |
| Foto bersama peserta dan pembicara acara "Ruang Aksi Goes to Campus" di kampus Universitas Muhammadiyah Saintek, Rabu 25 Februari 2026 |
Jakarta, infoDKJ.com | Krisis iklim tidak hanya menghadirkan tantangan global, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi generasi muda. Melalui konsep green jobs, mahasiswa didorong untuk melihat transisi menuju ekonomi berkelanjutan sebagai ruang kontribusi sekaligus masa depan dunia kerja.
Topik ini menjadi fokus dalam kegiatan Ruang Aksi Goes to Campus yang diselenggarakan di Kampus Universitas Saintek Muhammadiyah, Rabu (25/2), hasil kolaborasi antara Universitas Saintek Muhammadiyah, Koaksi Indonesia, dan GreenFaith Indonesia.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Universitas Saintek Muhammadiyah, Imam Suprapta, S.E., M.M., menekankan pentingnya mahasiswa memanfaatkan forum diskusi untuk memperluas perspektif masa depan.
“Karier tidak selalu harus dimaknai sebagai bekerja dalam arti sempit. Forum seperti ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menemukan posisi dan peran mereka di masa depan,” ujarnya.
Green Jobs: Peluang Masa Depan yang Inklusif
Direktur Kemitraan Strategis dan Pengembangan Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menjelaskan bahwa meningkatnya bencana akibat perubahan iklim menuntut transformasi menuju ekonomi berkelanjutan.
Menurutnya, green jobs memiliki tiga karakter utama:
- Berkontribusi pada kelestarian lingkungan,
- Bersifat layak dan adil bagi pekerja, serta
- Inklusif bagi semua kalangan.
“Mahasiswa adalah penggerak pembangunan masa depan. Green jobs bukan sekadar tren, tetapi bagian dari transformasi ekonomi menuju keberlanjutan,” jelas Indra Sari.
Iman dan Lingkungan: Pendekatan Ekoteologi
Perspektif nilai keagamaan turut diangkat dalam diskusi melalui paparan Syahrul Ramadan, Circle Manager GreenFaith Indonesia. Ia memperkenalkan pendekatan ekoteologi, yaitu cara pandang yang mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis.
Menurutnya, krisis lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan kesadaran spiritual.
“Manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Green jobs dapat menjadi salah satu bentuk aksi nyata dari nilai iman,” ungkapnya.
Transisi Energi dan Kebutuhan SDM Baru
Sesi gelar wicara yang dimoderatori Raihan Febriansyah, Dosen Fakultas Komunikasi dan Bisnis Universitas Saintek Muhammadiyah, menghadirkan perspektif lintas sektor.
Dari sisi pemerintah, Didik Hadiyanto, Widyaiswara Madya pada Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE), menjelaskan bahwa Indonesia tengah mendorong transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan guna menurunkan emisi gas rumah kaca. Proses tersebut diiringi penguatan keterampilan SDM melalui pelatihan dan sertifikasi.
Dari perspektif industri, Aki Soehartono, RE Project Consultant Inovasi Dinamika Pratama, menegaskan bahwa peluang green jobs terbuka luas, tidak hanya bagi tenaga teknis, tetapi juga bagi bidang komunikasi, sosial, dan bisnis yang memiliki wawasan lingkungan.
Sementara itu, Fitrianti Sofyan, Manajer Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia, menambahkan bahwa sektor hijau bersifat inklusif dan dapat diakses oleh berbagai latar belakang keilmuan selama berkontribusi terhadap keberlanjutan.
Dari kalangan akademisi, Mario Zulhadi Amrullah, Dosen Fakultas Komunikasi dan Bisnis Universitas Saintek Muhammadiyah, menekankan pentingnya peran kampus dalam menjembatani kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri, sekaligus mengintegrasikan perspektif lingkungan dalam kurikulum pendidikan.
Peran Kampus dalam Menyiapkan SDM Hijau
Diskusi menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong inovasi, membangun kesadaran lingkungan, serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan kerja berbasis keberlanjutan.
Mengacu pada proyeksi pembangunan nasional, Indonesia berpotensi menciptakan sekitar 4 juta tenaga kerja hijau di masa depan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami tantangan perubahan iklim, tetapi juga melihatnya sebagai peluang untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan sekaligus membangun karier di sektor masa depan.
Kontak Media
Salsabila – Koaksi Indonesia (0822-3347-6001)
Farah – GreenFaith Indonesia (0811-255-1236)
Tentang Koaksi Indonesia
Koaksi Indonesia adalah organisasi nirlaba yang berperan sebagai simpul jejaring dan pembelajaran untuk solusi serta aksi inovatif dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Koaksi menjalankan advokasi kebijakan, kampanye publik, serta kolaborasi strategis dengan mitra multipihak—mulai dari pembuat kebijakan, sektor swasta, akademisi, CSO, komunitas, hingga penggerak orang muda. Organisasi ini mendorong transisi energi berkeadilan dan percepatan pengembangan energi terbarukan yang berdampak pada sektor strategis seperti hutan, transportasi, limbah, dan industri.
Tentang GreenFaith Indonesia
GreenFaith Indonesia merupakan bagian dari gerakan akar rumput global lintas agama yang membangun gerakan keadilan iklim. Di Indonesia, GreenFaith berdiri sejak 2023 dengan fokus pada Faith for Climate Action, yakni aksi nyata individu lintas agama dalam menghadapi perubahan iklim, pelatihan lintas agama untuk climate justice, serta penguatan perspektif lintas agama dalam transisi energi.
Tentang Universitas Saintek Muhammadiyah
Universitas Saintek Muhammadiyah adalah perguruan tinggi berbasis sains dan teknologi yang berlandaskan nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. Universitas ini memiliki dua fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Komputer (Teknik Informatika, Sistem Informasi, dan Sains Data) serta Fakultas Komunikasi dan Bisnis (Ilmu Komunikasi, Film & Televisi, dan Kewirausahaan). Kampus beralamat di Jl. Raya Kelapa Dua Wetan No. 17, Ciracas, Jakarta Timur.
(Farah)





