Ustadz Farid Okbah, M.A. (UFO)
Seseorang atau sekelompok pasukan yang berada di dalam benteng akan merasa aman. Dalam sebuah pertempuran, musuh biasanya akan menyasar benteng-benteng pertahanan terlebih dahulu.
Pada masa modern, bentuk peperangan tidak selalu menggunakan senjata berat. Saat ini muncul berbagai bentuk “senjata baru”, seperti senjata biologis, nuklir, hingga yang paling berbahaya yaitu senjata pemikiran dan pemurtadan. Dalam istilah modern sering disebut brainwashing (cuci otak).
Dalam perspektif Islam, hal ini dikenal sebagai syubhat. Syubhat bahkan lebih berbahaya daripada syahwat. Keduanya merupakan senjata setan, baik dari kalangan manusia maupun jin.
Allah SWT berfirman:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ
"Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan..."
(QS. Al-An’am: 112)
Allah juga mengingatkan:
كَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَّاَكْثَرَ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًا...
"(Keadaan kamu) seperti orang-orang sebelum kamu. Mereka lebih kuat daripada kamu dan lebih banyak harta serta anak-anaknya..."
(QS. At-Taubah: 69)
Jika seseorang diserang secara fisik, ia akan merasakan sakitnya dan cenderung melawan. Namun ketika seseorang terkena racun syubhat, sering kali ia tidak menyadarinya. Bahkan ia bisa merasa nyaman dengan keadaan tersebut.
Misalnya, banyak orang yang pikirannya telah dipengaruhi oleh materialisme dan kapitalisme, sehingga tujuan pendidikan anak semata-mata untuk kepentingan dunia.
Orang tua merasa bangga ketika anaknya hebat dalam matematika, fisika, atau kimia, tetapi tidak merasa khawatir ketika anaknya tidak bisa membaca Al-Qur’an, shalatnya bolong-bolong, atau jauh dari nilai-nilai agama.
Fenomena lain juga terlihat ketika sebagian perempuan Muslim yang telah baligh meninggalkan jilbab demi mengikuti tren gaya hidup Barat. Atau banyak kaum Muslimin yang terjerumus dalam praktik riba, namun menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja.
Inilah sebagian kecil gambaran problematika umat yang menunjukkan merosotnya nilai-nilai keagamaan. Banyak yang tidak sadar bahwa keyakinannya sedang digerogoti atas nama modernisme.
Untuk membentengi umat dari berbagai ancaman tersebut, Imam As-Safarini dalam kitab Ghidza’ul Albaab menyebutkan lima benteng utama agar agama seseorang tetap terjaga.
1. Benteng Keimanan
Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ...
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya..."
(QS. Al-Anfal: 2–4)
Benteng keimanan adalah benteng yang paling utama. Iman melahirkan kekuatan luar biasa yang tidak dapat ditembus oleh harta maupun teknologi. Karena itu, sebagian besar surah Makkiyah yang berjumlah sekitar 84 surah banyak menanamkan fondasi keimanan.
2. Benteng Keikhlasan
Allah SWT berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ...
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata..."
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Keikhlasan menjadikan seorang Muslim selalu terhubung dengan Allah SWT. Setan berusaha merusak benteng ini dengan menanamkan sifat riya dan mencari pujian manusia.
3. Benteng Ketaatan pada Syariat
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا...
"Kemudian Kami jadikan engkau mengikuti syariat dari agama itu, maka ikutilah..."
(QS. Al-Jatsiyah: 18)
Benteng ini diwujudkan dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun dengan sesama manusia (hablum minannas).
4. Benteng Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ
Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ...
(QS. Ali Imran: 31)
Dan firman-Nya:
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا...
(QS. Al-Hasyr: 7)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan."
(HR. Bukhari)
Mengikuti sunnah Nabi ﷺ adalah jalan keselamatan. Dalam kehidupan, iman seseorang kadang mengalami naik turun (futur). Ketika kondisi itu terjadi, Rasulullah ﷺ mengingatkan agar tetap berpegang pada sunnahnya.
5. Benteng Akhlak
Akhlak merupakan cerminan kepribadian seseorang. Nabi ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي
"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah ciptaanku, maka perindahlah pula akhlakku."
(HR. Ibnu Hibban dan Thabrani)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
(HR. Ahmad)
Akhlak yang baik adalah buah dari keimanan, keikhlasan, ketaatan kepada syariat, dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Itulah lima benteng utama yang harus dimiliki oleh umat Islam agar memiliki ketahanan iman dan kekuatan jiwa.
Dalam lagu Indonesia Raya terdapat kalimat:
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan jiwa adalah fondasi utama. Tubuh yang sehat belum tentu memiliki jiwa yang sehat. Banyak orang yang tubuhnya kuat, tetapi jiwanya rusak—seperti para koruptor yang sehat fisiknya, namun sakit hatinya.
Karena itu, yang benar adalah: dalam jiwa yang sehat akan lahir tubuh yang sehat.
Semoga kita semua diberikan kesehatan rohani dan jasmani, serta mampu menjaga benteng keimanan dalam kehidupan.
Aamiin.


