Jakarta, infoDKJ.com |Sabtu, 14 Maret 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
رُبَّ تَالٍ لِلْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ يَلْعَنُهُ
"Betapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an melaknatnya."
(Disandarkan kepada Anas bin Malik)
Ungkapan ini terdengar keras, namun sarat dengan peringatan mendalam. Bagaimana mungkin kitab suci yang menjadi petunjuk dan rahmat justru melaknat pembacanya?
Allah ﷻ berfirman:
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian."
(QS. Al-Isra’: 82)
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah rahmat bagi orang-orang beriman yang menerima dan mengamalkan isinya. Namun bagi orang yang zalim—yang mengabaikan petunjuknya—Al-Qur’an justru menjadi hujjah yang memberatkan dirinya.
1. Membaca Tanpa Ilmu
Al-Qur’an tidak cukup dibaca sekadar menggugurkan kewajiban. Ia harus dipelajari dengan benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya."
(HR. Bukhari)
Belajar Al-Qur’an berarti memperbaiki tajwid, memahami makna, dan mengetahui kandungan ayat-ayatnya. Membaca tanpa ilmu dapat menyebabkan kesalahan dalam melafalkan ayat, bahkan berpotensi mengubah makna.
Allah ﷻ mengingatkan:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya."
(QS. Al-Isra’: 36)
Karena itu, membaca Al-Qur’an tanpa usaha memperbaiki bacaan dan memahami maknanya termasuk bentuk kelalaian terhadap amanah wahyu.
2. Membaca dengan Benar, Tetapi Tidak Mengamalkan
Ini adalah keadaan yang lebih berat. Lisan fasih melantunkan ayat, tetapi perilaku bertentangan dengan ajarannya.
Allah ﷻ berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
(QS. As-Saff: 2–3)
Al-Qur’an memerintahkan shalat, tetapi ia meninggalkannya.
Al-Qur’an melarang ghibah, tetapi lisannya tetap mencela.
Al-Qur’an memerintahkan kejujuran, tetapi ia masih berdusta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Al-Qur’an itu bisa menjadi hujjah (pembela) bagimu atau menjadi hujjah atasmu."
(HR. Muslim)
Jika diamalkan, ia akan menjadi pembela kita di akhirat. Namun jika diabaikan, ia akan menjadi saksi yang memberatkan.
3. Kaum yang Pandai Membaca, Tetapi Hampa Amal
Dalam hadits tentang kaum Khawarij, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, bacaan itu tidak sampai ke hati. Ia tidak menumbuhkan iman, tidak membentuk akhlak, dan tidak melahirkan ketundukan kepada Allah.
Al-Qur’an Diturunkan untuk Diamalkan
Allah ﷻ menegaskan tujuan turunnya Al-Qur’an:
"Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran."
(QS. Shad: 29)
Kata liyaddabbaru (agar mereka mentadabburi) menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan dan diamalkan dalam kehidupan.
Renungan
Di bulan Ramadhan, banyak orang berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an. Itu adalah amalan yang baik. Namun yang lebih penting adalah memastikan:
- Bacaan kita benar
- Hati kita hadir
- Akhlak kita berubah
Jangan sampai Al-Qur’an yang kita baca setiap hari justru menjadi saksi atas kelalaian kita.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
“Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, tetapi manusia menjadikan membacanya sebagai amalan.”
Semoga kita termasuk golongan yang ketika membaca Al-Qur’an, ayat-ayatnya menjadi cahaya dalam hidup, penuntun langkah, dan pembela di akhirat, bukan sebaliknya menjadi penuntut yang memberatkan.
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya di hati kami, petunjuk dalam hidup kami, dan syafaat bagi kami di hari kiamat. Aamiin.


