Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 25 Maret 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam perjalanan menuju Tuhan, ego atau nafs sering kali menjadi penghalang terbesar. Ia merasa berkuasa, merasa memiliki, dan merasa mampu berdiri sendiri. Namun, ketika badai penderitaan datang menghantam, tembok-tembok kesombongan itu runtuh.
Di sinilah tasawuf memandang rasa sakit bukan sebagai musibah semata, melainkan sebagai “pisau bedah” yang memotong keterikatan hati pada selain Allah.
1. Runtuhnya Kesombongan, Terbitnya Kesadaran
Penderitaan memaksa manusia berhenti mengandalkan logika, harta, maupun jabatan. Saat semua sandaran duniawi goyah, manusia tidak memiliki pilihan selain bersandar kepada Al-Haq.
Luka di hati sejatinya adalah celah tempat cahaya Tuhan masuk. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
2. Menghidupkan Sosok “Ibrahim” dalam Diri
Dalam khazanah spiritual, Nabi Ibrahim AS adalah simbol ketauhidan yang murni (hanif). Beliau rela mengorbankan apa yang paling dicintainya karena keyakinan penuh kepada kehendak Ilahi.
Ketika seseorang mampu berserah di tengah derita tanpa pemberontakan batin, ia sedang menjalani proses “penyembelihan” ketergantungan duniawi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
3. Bukan Kehilangan, Melainkan Menemukan Diri Sejati
Pengorbanan ego melalui rasa sakit bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan spiritual. Ketika ego “mati”, maka diri sejati—yakni ruh yang suci—akan bangkit.
Seseorang yang mencapai maqam ini tidak lagi diperbudak oleh pujian, maupun dijatuhkan oleh hinaan. Ia merdeka, karena hanya bergantung kepada Allah.
Dalam Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:
“Aku berada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Dalam konteks penderitaan, jika seseorang berprasangka baik (husnuzan) bahwa luka adalah jalan pembersihan, maka ia akan menemukan kedekatan yang tidak pernah dirasakan saat lapang.
Kesimpulan
Rasa sakit adalah cara Tuhan “mengosongkan” hati kita dari keterikatan dunia, agar hati itu cukup luas untuk menampung kehadiran-Nya.
Jangan melihat luka sebagai akhir, melainkan sebagai awal dari pengenalan yang lebih dalam kepada Sang Pencipta.
Berhenti mengandalkan diri, dan mulailah mengandalkan Dia.


