Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 2 Maret 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Banyak orang berkata, “Hidup harus punya prinsip.” Kalimat ini benar adanya. Prinsip adalah kompas kehidupan. Tanpa prinsip, manusia mudah terombang-ambing oleh arus lingkungan, tekanan sosial, dan pengaruh zaman. Prinsip menjaga arah langkah, meneguhkan hati, serta menjadi fondasi dalam mengambil keputusan.
Namun pertanyaannya: bagaimana jika prinsip itu keliru?
Bagaimana jika yang kita pegang bukan kebenaran, melainkan sekadar selera, ego, atau kebiasaan yang diwarisi tanpa ditimbang dengan ilmu dan petunjuk Allah?
Di sinilah prinsip bisa berubah dari cahaya menjadi tirai yang menutup hati.
Prinsip Tanpa Kebenaran: Kesombongan yang Terselubung
Bahaya terbesar manusia bukan sekadar tidak tahu, melainkan menolak kebenaran setelah mengetahuinya.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa keyakinan tidak boleh dibangun di atas asumsi, kebiasaan, atau perasaan semata. Prinsip harus berdiri di atas ilmu dan kebenaran. Jika tidak, ia berubah menjadi pembenaran diri.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)
Sering kali, ketika seseorang berkata, “Saya punya prinsip sendiri,” padahal prinsip itu bertentangan dengan kebenaran, yang berbicara sebenarnya bukan prinsip — melainkan ego yang enggan tunduk.
Hati yang Mengeras Tanpa Disadari
Allah menggambarkan kondisi hati yang keras:
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”
(QS. Al-Baqarah: 74)
Hati yang keras bukan sekadar hati yang kasar dalam ucapan. Ia adalah hati yang menolak nasihat, sulit menerima kebenaran, dan merasa selalu benar. Secara lahir tampak tegas, namun batinnya rapuh karena takut mengakui kesalahan.
Sebaliknya, Rasulullah ï·º bersabda:
“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Kerendahan hati adalah tanda hati yang hidup. Keras kepala adalah tanda hati yang mulai tertutup.
Mengapa Seseorang Bertahan pada Prinsip yang Salah?
Ada beberapa sebab mengapa seseorang sulit melepaskan prinsip yang keliru:
- Ego yang dominan — merasa harga diri turun jika mengakui kesalahan.
- Lingkungan yang membenarkan — dikelilingi orang-orang dengan pola pikir serupa sehingga kesalahan terasa wajar.
- Kurangnya ilmu — tidak pernah menguji keyakinan dengan dalil dan pengetahuan yang benar.
- Takut berubah — karena perubahan menuntut kerendahan hati.
Allah mengingatkan:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ketika prinsip lahir dari hawa nafsu, nasihat terasa seperti ancaman, bukan pertolongan.
Prinsip Seorang Mukmin
Prinsip sejati seorang mukmin bukanlah:
“Pokoknya saya begini.”
Melainkan:
“Jika ini benar menurut Allah dan Rasul-Nya, maka saya terima.”
Allah memuji orang beriman dengan sifat ini:
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka adalah mereka berkata: ‘Kami mendengar dan kami taat.’”
(QS. An-Nur: 51)
Inilah prinsip tertinggi: tunduk kepada kebenaran, bukan kepada ego.
Penutup: Prinsip yang Menyelamatkan
Memiliki prinsip adalah keharusan. Namun lebih penting lagi memastikan bahwa prinsip tersebut bersumber dari kebenaran, bukan sekadar pembenaran.
Hati yang lembut selalu siap berkata:
“Mungkin aku salah, ajari aku yang benar.”
Sedangkan hati yang keras berkata:
“Aku sudah benar, tak perlu diajari.”
Semoga kita termasuk hamba yang hatinya hidup, mudah menerima nasihat, dan berani memperbaiki diri.
Karena prinsip yang benar akan menyelamatkan.
Sedangkan prinsip yang lahir dari ego, perlahan menyesatkan.


