Misi utama puasa Ramadan adalah membentuk orang beriman menjadi muttaqin, yaitu hamba yang siap menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Perintah Allah termasuk kategori ma’ruf yang wajib dilaksanakan, sedangkan larangan Allah termasuk kategori mungkar yang wajib ditinggalkan.
Ma’ruf adalah segala sesuatu yang baik menurut syariat Islam dan akal sehat, sedangkan mungkar adalah segala sesuatu yang buruk menurut syariat dan akal sehat.
Puasa dan Ketakwaan Sosial
Dalam realitas kehidupan bermasyarakat, selalu ada orang yang cenderung pada kebaikan dan kebenaran, namun ada pula yang condong pada keburukan. Seandainya suatu masyarakat benar-benar menjaga iman dan takwa secara konsisten, niscaya Allah akan menjaga dan melimpahkan keberkahan kepada mereka.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf: 96)
Karena itu, umat Islam diberi amanah untuk mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Inilah salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ.
Allah ﷻ berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)
Dan Allah juga berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)
Pelajaran dari Bani Israil
Berbeda dengan umat Islam yang diperintahkan aktif dalam amar ma’ruf nahi mungkar, Bani Israil justru dilaknat karena membiarkan kemungkaran terjadi tanpa saling mengingatkan.
Allah ﷻ berfirman:
كَانُوْا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ
“Mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sungguh buruk apa yang mereka perbuat.”
(QS. Al-Maidah: 78–79)
Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, serta dilarang bekerja sama dalam dosa dan permusuhan.
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“…Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan…”
(QS. Al-Maidah: 2)
Mengapa Manusia Melanggar Aturan Allah?
Salah satu sebabnya adalah godaan setan yang datang dari berbagai arah.
Allah ﷻ mengisahkan ucapan setan:
ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْ
“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka…”
(QS. Al-A’raf: 17)
Karena itu Allah memperingatkan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan…”
(QS. An-Nur: 21)
Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Para ulama sepakat bahwa amar ma’ruf nahi mungkar hukumnya wajib. Dalam kondisi tertentu bisa menjadi wajib ‘aini (kewajiban individu), dan dalam kondisi lain menjadi wajib kifayah (kewajiban kolektif yang harus dilakukan oleh sebagian umat). Dalam literatur fiqih, tugas ini dikenal dengan istilah hisbah.
Rasulullah ﷺ pernah dipertanyakan oleh Zainab binti Jahsy:
“Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sementara di tengah kami masih ada orang-orang saleh?”
Beliau menjawab:
“Ya, apabila kemaksiatan telah merajalela.”
(HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar harus menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika tidak, Allah akan menimpakan azab kepada kalian, lalu kalian berdoa kepada-Nya tetapi tidak dikabulkan.”
(HR. Tirmidzi dan Ahmad, hasan shahih)
Puasa Ramadan bukan hanya ibadah individual, tetapi juga pembinaan karakter sosial. Ia melahirkan pribadi bertakwa yang peduli terhadap lingkungannya — mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Bersambung…


