Salah satu peringatan paling menggetarkan dalam Al-Qur’an adalah bahwa azab Allah tidak selalu hanya menimpa orang-orang zalim saja. Ia bisa meluas hingga mengenai orang-orang saleh, apabila kemungkaran dibiarkan tanpa ada upaya untuk mengingatkan dan memperbaikinya.
Allah ﷻ berfirman:
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”
(QS. Al-Anfal: 25)
Namun sebaliknya, Allah tidak akan membinasakan suatu negeri selama masih ada orang-orang yang melakukan perbaikan (ishlah) melalui amar ma’ruf dan nahi mungkar.
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ
“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat perbaikan.”
(QS. Hud: 117)
Mengapa Nahi Mungkar Sering Dihindari?
Bencana sosial dan keruntuhan moral sering kali terjadi karena syiar nahi mungkar diabaikan. Banyak orang bersedia melakukan amar ma’ruf karena relatif aman dan tidak berisiko. Namun ketika harus melarang kemungkaran, sebagian memilih diam karena khawatir menghadapi tekanan atau risiko.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan tahapan yang jelas:
“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa nahi mungkar bukan pilihan, tetapi kewajiban yang disesuaikan dengan kemampuan.
Perumpamaan Kapal: Jika Dibiarkan, Semua Tenggelam
Rasulullah ﷺ menggambarkan bahaya membiarkan kemungkaran melalui perumpamaan yang sangat kuat:
“Perumpamaan orang yang menjaga batas-batas Allah dan orang yang melanggarnya seperti suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Sebagian berada di atas dan sebagian di bawah. Orang yang di bawah ingin mengambil air dan harus melewati orang di atas. Mereka berkata, ‘Bagaimana jika kita buat lubang saja di bagian kita agar tidak mengganggu yang di atas?’ Jika orang di atas membiarkan mereka, niscaya semua akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, maka semuanya akan selamat.”
(HR. Bukhari)
Kemungkaran yang dibiarkan ibarat lubang kecil di kapal. Jika tidak dicegah, kehancuran bukan hanya menimpa pelaku, tetapi seluruh masyarakat.
Empat Golongan Umat Islam
Dalam realitas umat, setidaknya ada empat golongan terkait amar ma’ruf nahi mungkar:
1️⃣ Golongan Pertama: Penegak Kebenaran
Mereka adalah orang-orang beriman yang menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dengan ilmu dan komitmen.
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ…
“Orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar…”
(QS. At-Taubah: 71)
Merekalah yang dijanjikan rahmat Allah.
2️⃣ Golongan Kedua: Kaum Munafik
Mereka justru membalik nilai — menyuruh kepada yang mungkar dan melarang yang ma’ruf.
اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ… يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ…
(QS. At-Taubah: 67–68)
Golongan ini mendapat ancaman keras berupa laknat dan azab yang kekal.
3️⃣ Golongan Ketiga: Setengah Hati
Mereka melakukan sebagian amar ma’ruf dan nahi mungkar, namun lemah komitmen dan sering terjatuh dalam dosa. Syiar ini ada pada diri mereka, tetapi tidak kuat dan tidak konsisten.
4️⃣ Golongan Keempat: Lalai dan Tidak Peduli
Golongan awam yang sibuk dengan urusan dunia, minim ilmu agama, dan tidak mau belajar. Mereka abai terhadap misi besar ini sehingga tidak berkontribusi dalam menjaga masyarakat dari kerusakan.
Seruan Penutup
Wilayah amar ma’ruf nahi mungkar sangat luas — seluas syariat Islam dan seluas kehidupan manusia: keluarga, masyarakat, ekonomi, keamanan, politik, hukum, dan peradaban.
Ramadan seharusnya menjadi titik awal penguatan misi ini. Kita berharap menjadi bagian dari golongan pertama — yang menyelamatkan diri dan masyarakatnya dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Mari perkuat semangat hisbah, mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar.
Semoga Ramadan ini menjadi bekal untuk sebelas bulan ke depan hingga kita bertemu Ramadan berikutnya.
Amin.


