Anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada kedua orang tuanya. Amanah ini merupakan tanggung jawab besar yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Di satu sisi, anak adalah ujian. Namun di sisi lain, anak juga merupakan perhiasan kehidupan dunia.
Allah ﷻ berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfal: 28)
Allah juga berfirman:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahfi: 46)
Anak Bisa Menjadi Musuh atau Penyejuk Mata
Anak juga bisa menjadi beban bahkan musuh, jika orang tua salah dalam mendidiknya. Namun jika dididik dengan benar, mereka akan menjadi penyejuk mata bagi orang tua.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni mereka, maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. At-Taghabun: 14)
Allah juga mengajarkan doa:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)
Anak Adalah Keindahan Rumah Tangga
Betapa indahnya kehadiran anak dalam sebuah rumah tangga. Hal ini sangat terasa ketika kita melihat pasangan yang belum dikaruniai anak atau mengalami kemandulan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ada empat model keluarga dalam hal keturunan:
- Keluarga yang dikaruniai anak perempuan saja
- Keluarga yang dikaruniai anak laki-laki saja
- Keluarga yang dikaruniai anak laki-laki dan perempuan
- Keluarga yang tidak dikaruniai anak (mandul)
Allah ﷻ berfirman:
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”
(QS. Asy-Syura: 49–50)
Mana yang Paling Beruntung?
Banyak orang beranggapan bahwa model ketiga (memiliki anak laki-laki dan perempuan) adalah yang paling beruntung, jika mampu mendidik mereka dengan baik.
Namun jika tidak mampu mendidik dengan benar, sebagian ulama mengatakan lebih baik tidak memiliki anak, karena masih bisa mengadopsi anak yatim untuk dirawat dan dididik dengan baik.
Apalagi jika anak tersebut kelak menjadi penghafal Al-Qur’an dan mendalami ilmu agama, maka pahala yang mengalir kepada orang yang mendidiknya akan sangat besar.
Kasih Sayang Rasulullah kepada Anak
Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan pendidikan anak dan menunjukkan kasih sayang yang besar kepada mereka.
Beliau bahkan sering mencium anak-anak.
Suatu hari Rasulullah ﷺ mencium seorang anak. Hal itu dilihat oleh Aqra’ bin Habis, yang kemudian berkata:
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau mencium anak?”
Rasulullah ﷺ bertanya kembali:
“Mengapa memang?”
Aqra’ menjawab:
“Demi Allah, aku memiliki sepuluh anak, tetapi tidak pernah satu pun aku cium.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَن لا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ»
“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pendidikan Anak Sejak Dini
Para sahabat Rasulullah ﷺ juga mendidik anak-anak mereka dengan sangat serius.
Mereka bahkan membiasakan anak-anak berpuasa sebelum baligh. Ketika anak-anak merasa lapar, mereka dialihkan dengan permainan hingga waktu berbuka tiba.
Ada pepatah mengatakan:
“Tidak ada anak hebat kecuali di belakangnya ada orang tua yang hebat.”
Kisah Imam Syafi’i
Imam Syafi’i menjadi ulama besar karena motivasi dan dukungan dari ibunya. Beliau menjadi yatim sejak kecil karena ayahnya wafat.
Ibunya kemudian membawa beliau dari Gaza (Palestina), tempat kelahirannya, menuju Mekkah agar dapat menuntut ilmu. Sementara itu ibunya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Kisah Imam Bukhari
Begitu pula dengan Imam Bukhari, yang sangat diperhatikan oleh ibunya sejak kecil.
Pada usia 16 tahun, ibunya mengantarkan beliau bersama saudaranya Ahmad ke Mekkah untuk menunaikan haji.
Setelah haji, ibu dan saudaranya kembali ke Bukhara, sedangkan Imam Bukhari tetap tinggal di Mekkah untuk menuntut ilmu.
Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ilmu ke Madinah dan berbagai negeri lain, termasuk Baghdad, untuk belajar kepada para ulama besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal.
Setelah bertahun-tahun mengembara menuntut ilmu, beliau kembali ke Bukhara sebagai seorang ulama besar. Namun karena penguasa Bukhara merasa tersaingi oleh pengaruhnya, beliau akhirnya meninggalkan kota tersebut menuju Samarkand, hingga wafat di sana.
Bersambung…


