Farid Achmad Okbah, M.A.
Imam Al-Ghazali menulis sebuah buku nasihat untuk anak berjudul Ayyuhal Walad (Wahai Anak). Dalam buku tersebut diceritakan sebuah kisah menarik tentang dialog antara seorang guru bernama Syaqiq Al-Balkhi (wafat tahun 194 H/810 M) dengan muridnya Hatim Al-Asham (wafat tahun 237 H/851 M).
Sang guru bertanya kepada muridnya:
"Engkau telah belajar bersamaku selama 30 tahun. Apa yang telah engkau peroleh?"
Muridnya menjawab:
"Aku mendapatkan delapan pelajaran penting."
Pertama
Aku melihat setiap orang memiliki seseorang yang dicintai dan dirindukan. Sebagian dari kekasih itu hanya menemaninya hingga saat ia sakit menjelang ajal, sebagian lagi mengantarkannya hingga ke tepi kubur, lalu mereka kembali meninggalkannya dalam kesepian dan kesendirian. Tidak ada seorang pun yang menyertainya masuk ke dalam kubur.
Lalu aku berpikir: sebaik-baik kekasih adalah yang dapat menemaniku hingga ke dalam kubur. Aku tidak menemukannya kecuali amal-amal saleh. Maka aku menjadikan amal saleh sebagai kekasihku, agar ia menjadi penerang dalam kuburku dan penenang yang tidak meninggalkanku seorang diri.
Kedua
Aku melihat banyak manusia mengikuti hawa nafsu dan kesenangannya. Lalu aku merenungkan firman Allah Ta’ala:
وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى
فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى
"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya."
(QS. An-Nazi’at: 40–41)
Aku meyakini Al-Qur’an adalah kebenaran, lalu aku melawan hawa nafsuku dengan sungguh-sungguh hingga ia tunduk untuk taat kepada Allah.
Ketiga
Aku melihat manusia sibuk mengumpulkan dan menyimpan harta dunia. Lalu aku merenungkan firman Allah:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍ
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal."
(QS. An-Nahl: 96)
Maka aku menyerahkan hartaku di jalan Allah dan membagikannya kepada orang-orang miskin sebagai simpanan di sisi-Nya.
Keempat
Aku melihat sebagian manusia menganggap kemuliaan berasal dari banyaknya keluarga dan pengikut. Sebagian lagi menganggap kemuliaan berasal dari banyaknya harta dan keturunan. Ada pula yang merasa mulia dengan merampas hak orang lain, berbuat zalim, bahkan melakukan pembunuhan.
Lalu aku merenungkan firman Allah:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)
Maka aku memilih takwa, menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Kelima
Aku melihat sebagian manusia mencela dan menggunjing orang lain. Setelah aku teliti, penyebabnya adalah hasad, iri, dan dengki terhadap harta, kedudukan, dan ilmu.
Lalu aku merenungkan firman Allah:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
"Kami telah menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia."
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Maka aku ridha terhadap pembagian Allah dan tidak lagi iri kepada siapa pun.
Keenam
Aku melihat manusia saling bermusuhan satu sama lain. Lalu aku merenungkan firman Allah:
اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا
"Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh."
(QS. Fathir: 6)
Maka aku memahami bahwa manusia tidak layak bermusuhan dengan sesamanya, karena musuh yang sebenarnya adalah setan.
Ketujuh
Aku melihat manusia bekerja keras mencari rezeki hingga ada yang terjatuh dalam perkara syubhat bahkan haram.
Lalu aku merenungkan firman Allah:
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا
"Tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah menjamin rezekinya."
(QS. Hud: 6)
Maka aku yakin bahwa rezekiku telah dijamin oleh Allah, lalu aku lebih banyak mencurahkan waktuku untuk beribadah.
Kedelapan
Aku melihat manusia bersandar pada selain Allah. Ada yang bersandar pada harta, kekuasaan, pekerjaan, ataupun sesama manusia.
Lalu aku merenungkan firman Allah:
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Maka aku bertawakal kepada Allah, sebaik-baik tempat berserah diri.
Setelah mendengar jawaban tersebut, Syaqiq Al-Balkhi berkata kepada muridnya:
"Semoga Allah memberimu taufik. Aku telah membaca kitab Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Aku menemukan bahwa inti ajaran keempat kitab itu terangkum dalam delapan pelajaran tersebut. Barang siapa mengamalkannya, maka seakan-akan ia telah mengamalkan seluruh isi kitab-kitab itu."
Betapa beruntungnya orang tua yang memiliki anak yang terdidik dengan ilmu agama yang kuat, terlebih jika disertai dengan penguasaan ilmu dunia sehingga mampu meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Apalagi jika kelak menjadi pemimpin umat yang membawa kejayaan Islam.
Allahu Akbar.


