Di banyak negara, sepertiga penduduknya adalah orang tua. Bagaimana mereka diperlakukan? Tidak jarang, pada akhirnya mereka tinggal di panti jompo. Berbeda dengan umat Islam yang diajarkan agamanya untuk menghormati orang tua, terlebih ketika mereka semakin tua dan tidak berdaya. Pada masa itu, mereka lebih membutuhkan perhatian anak-anaknya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'"
(QS. Al-Isra’ [17]: 23–24)
Tidak ada manusia yang berjasa setelah para Nabi ‘alaihimussalam melebihi orang tua. Sebesar apa pun yang dilakukan seorang anak kepada orang tuanya, tidak akan sebanding dengan apa yang telah diberikan orang tua kepada anaknya.
Dikisahkan, seorang pemuda dari Yaman datang berhaji sambil menggendong ibunya. Setelah tawaf dan sa’i, ia bertanya kepada sahabat Nabi ﷺ, Abdullah bin Umar, “Apakah dengan aku berhaji sambil menggendong ibu, aku telah membalas jasanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum mampu membalas satu tarikan napas saat ibumu melahirkanmu.” Subhanallah.
Sebagai anak, siapa pun kita, harus menyadari pengorbanan orang tua—nyawa, perasaan, peluh, dan kerja keras mereka. Pantas jika Al-Qur’an menyebut hak orang tua begitu besar setelah tauhid.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا...
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua..."
(QS. An-Nisa’ [4]: 36)
Kewajiban anak kepada orang tua adalah keniscayaan.
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا...
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula..."
(QS. Al-Ahqaf [46]: 15–16)
Meski begitu besar jasa orang tua, apabila mereka mengajak kepada kesyirikan, tidak boleh ditaati dalam perkara tersebut, namun tetap wajib berbuat baik dalam urusan dunia.
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي... فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
"Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik..."
(QS. Luqman [31]: 14–15)
Para Nabi ‘alaihimussalam memberikan teladan akhlak mulia kepada orang tua.
Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa:
رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ...
"Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku..."
(QS. Nuh: 28)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa:
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ...
(QS. Ibrahim [14]: 40–41)
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berdoa:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ... وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ...
(QS. An-Naml: 19)
Nabi Yahya ‘alaihissalam disebut:
وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّا
"Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong lagi durhaka."
(QS. Maryam [19]: 14)
Terlebih hak ibu yang melebihi hak ayah dalam tiga keadaan: saat hamil, saat melahirkan, dan saat menyusui. Ketiganya tidak dapat digantikan oleh ayah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
“Lalu siapa?”
“Ibumu.”
“Lalu siapa?”
“Ibumu.”
“Lalu siapa?”
“Ayahmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Malaikat Jibril ‘alaihissalam pun mengingatkan melalui Rasulullah ﷺ:
شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ
"Celakalah seorang hamba yang mendapati orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua, namun tidak dapat masuk surga (karena tidak berbakti)."
(HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, shahih)
Semoga di bulan Ramadhan ini kita dimudahkan untuk memuliakan kedua orang tua kita jika masih hidup. Jika keduanya telah wafat, maka selain doa, kita bisa bersedekah atas nama mereka serta memuliakan kerabat dan sahabat-sahabatnya yang masih hidup.
Wallahu a’lam.


