![]() |
| Kelompok diskusi dari Puskor Hindunesia sedang mempresentasikan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari pelatihan. (Foto oleh: Fajar Firmansyah) |
Denpasar, 28 Februari 2026 — infoDKJ.com | Ruang Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (UNHI) pagi itu dipenuhi salam lintas iman sekaligus kegelisahan yang sama: Bali sedang tidak baik-baik saja. Dalam satu dekade terakhir, cuaca semakin sulit diprediksi, hujan turun lebih deras, musim kering terasa lebih panjang, dan bencana datang dengan intensitas yang meningkat.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat, sepanjang Januari–Oktober 2025 terjadi sekitar 50 kejadian bencana—didominasi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Sebanyak 41 orang meninggal dunia, 18 orang luka-luka, dan 812 warga terdampak atau mengungsi. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai ±Rp145,4 miliar, melonjak tajam dibandingkan 2024 yang mencatat 39 kejadian dengan estimasi kerugian ±Rp11,8 miliar.
Angka-angka tersebut menjadi latar pertemuan bertajuk “Memperkuat Peran Pemimpin Agama Lintas Iman dalam Menghadapi Krisis Iklim di Bali”, yang diinisiasi GreenFaith Indonesia bersama 350.org dan mitra kampus.
Sekitar 30 pemuka agama dari Hindu, Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, dan Konghucu hadir. Mereka tidak sekadar berdialog, tetapi menyusun langkah bersama—bergerak dari toleransi menuju ko-aksi.
![]() |
| Presentasi Rencana Tindak Lanjut hasil diskusi dari kelompok peserta dari organisasi keagamaan Kristen Protestan dan Katolik (Foto oleh: Fajar Firmansyah) |
Krisis Ekologi sebagai Krisis Spiritual
Rektor UNHI, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, menegaskan bahwa krisis ekologi yang dihadapi Bali bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga krisis kesadaran spiritual manusia.
“Ketika alam rusak, sesungguhnya yang tercederai bukan hanya tanah dan air, tetapi juga kesadaran kita sebagai manusia beragama,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan sejati tidak diukur dari tingginya gedung yang berdiri, melainkan dari kemampuan menjaga keseimbangan antara alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta.
“Ukuran keberhasilan kita bukanlah seberapa tinggi gedung yang kita bangun, tetapi seberapa utuh keseimbangan yang mampu kita pertahankan untuk generasi mendatang,” tegasnya.
Data Ilmiah: Intensitas Cuaca Ekstrem Meningkat
Perwakilan BMKG Bali, I Nyoman Gede Wiryajaya, memaparkan bahwa peningkatan suhu global dan akumulasi gas rumah kaca berkontribusi terhadap meningkatnya intensitas cuaca ekstrem.
“Secara ilmiah, kita melihat kecenderungan kejadian El Niño dan La Niña makin sering. Jika dulu siklusnya 3–7 tahun, kini bisa 2–5 tahun sekali. Ini berdampak pada anomali curah hujan, baik kekeringan ekstrem maupun hujan sangat lebat,” jelasnya.
Dalam klasifikasi BMKG, hujan ekstrem terjadi ketika curah hujan melebihi 150 mm per hari. Menurutnya, kombinasi anomali suhu laut, perubahan pola angin monsun, dan peningkatan suhu global meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
“Hampir 99 persen bencana di Indonesia berkaitan dengan faktor hidrometeorologi. Krisis iklim bukan ancaman jauh—ia sudah hadir di sekitar kita,” tegas Wiryajaya.
![]() |
| Foto bersama peserta pelatihan Keadilan Iklim Lintas Agama di Bali, dengan menyuarakan pesan untuk bumi. (Foto oleh: Fajar Firmansyah) |
Dimensi Hukum: Dari Kerusakan Ekologi ke Gugatan Iklim
Dari sisi advokasi, perwakilan LBH Bali, Rezky Pratiwi, S.H., menekankan bahwa krisis iklim juga menyentuh aspek keadilan hukum.
“Kita tidak bisa memisahkan bencana dari pilihan kebijakan energi dan tata kelola ruang. Ketergantungan pada energi fosil, alih fungsi lahan, dan pembangunan yang abai terhadap daya dukung lingkungan berkontribusi pada meningkatnya risiko bencana,” ujarnya.
Ia menyinggung inisiatif “Gugatan Iklim Bali” sebagai langkah mendorong tanggung jawab negara dan perlindungan hak warga atas lingkungan hidup yang sehat.
“Korban bencana tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima bantuan. Mereka memiliki hak atas kebijakan yang berpihak pada keselamatan publik,” katanya.
Iman sebagai Kompas Moral
Direktur GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, menegaskan bahwa krisis iklim adalah krisis moral.
“Iman tidak boleh berhenti pada ritual. Ia harus menjadi kekuatan yang melindungi manusia dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” ujarnya.
Menurutnya, setiap tradisi iman memiliki fondasi teologis untuk membela lingkungan—dari konsep Tri Hita Karana dalam Hindu, khalifah dalam Islam, panggilan merawat ciptaan dalam Kekristenan, hingga welas asih dalam Buddhisme.
Perwakilan 350.org Indonesia, Sisilia Nurmala Dewi, menambahkan bahwa solidaritas lintas iman menjadi kekuatan strategis menghadapi krisis global.
“Rumah ibadah bisa menjadi pusat edukasi iklim, pusat mitigasi bencana, dan ruang solidaritas ketika krisis terjadi. Jika Bali mampu menunjukkan praktik keadilan iklim berbasis komunitas, itu akan menjadi pesan kuat bagi dunia,” ujarnya.
![]() |
| Presentasi Rencana Tindak Lanjut hasil diskusi peserta dari Kementerian Agama Prov. Bali (Foto oleh: Fajar Firmansyah) |
Komitmen Aksi Nyata
Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, Ida Bagus K. Susena, menegaskan komitmen organisasinya dalam menjaga kelestarian alam sesuai nilai Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan.
Sejak 2003, Puskor Hindunesia terlibat dalam berbagai advokasi lingkungan, mulai dari penolakan proyek geothermal Bedugul, reklamasi Teluk Benoa, hingga isu konversi lahan produktif dan kawasan konservasi.
Pelatihan sehari penuh tersebut dipandu oleh Syahrul Ramadhan, Circle Manager GreenFaith Indonesia, dengan pendekatan partisipatif.
“Gerakan lintas iman hari ini tidak cukup di level koeksistensi. Kita harus naik kelas ke ko-aksi—bergerak bersama untuk perubahan konkret,” ujarnya.
Forum menyepakati pembentukan jejaring komunikasi lintas iman untuk keadilan iklim di Bali, yang akan berfokus pada:
- Integrasi isu krisis iklim dalam materi dakwah dan pendidikan keagamaan
- Dukungan moral terhadap advokasi kebijakan berkeadilan iklim
- Program konkret seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas, konservasi air, dan penanaman pohon
Di tengah ancaman yang kian nyata, pertemuan ini mengirim pesan tegas: menjaga bumi bukan sekadar pilihan ekologis, melainkan panggilan spiritual dan tanggung jawab peradaban. Dari Denpasar, para pemimpin iman menyatakan satu sikap—Bali harus diselamatkan bersama, dengan iman yang berani dan tindakan yang nyata.
Tentang 350.org
350.org adalah organisasi aktivis lingkungan internasional yang membangun gerakan akar rumput global untuk mengatasi krisis iklim, menghentikan bahan bakar fosil, dan mempercepat transisi ke energi terbarukan. Nama 350 merujuk pada batas aman konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, yakni 350 ppm.
Tentang GreenFaith Indonesia
GreenFaith adalah organisasi akar rumput global lintas agama yang membangun gerakan untuk keadilan iklim. Di Indonesia, GreenFaith berdiri sejak 2023 dengan fokus pada Faith for Climate Action, pelatihan lintas agama untuk climate justice, serta penguatan perspektif lintas agama dalam transisi energi. Informasi kegiatan dapat diakses melalui Instagram @greenfaith.id.
Tentang Puskor Hindunesia
Puskor Hindunesia merupakan organisasi swadaya keumatan Hindu berskala nasional yang berfokus pada perjuangan sosial kemanusiaan dan pemberdayaan umat berdasarkan konsep harmoni Tri Hita Karana. Berdiri sejak 2003 di Denpasar, organisasi ini menghimpun jejaring sumber daya Hindu lintas latar sosial dan budaya.
Narahubung:
Moko (350.org) — +62 857-3743-9019
Sukowati (GreenFaith) — +62 815-1076-7004





