Kedua, perbaiki jiwa.
Pengetahuan manusia tentang jiwa sebenarnya tidak pernah tuntas, karena manusia hanya mengandalkan observasi melalui pancaindra. Sementara Sang Pencipta tentu lebih mengetahui hakikat jiwa manusia. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada jiwa?
Allah Ta’ala berfirman:
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَا (7) فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا (8) قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا (10)
"Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."
(QS. Asy-Syams, 91: 7–10)
Ada tiga kategori jiwa:
Pertama, jiwa yang cenderung kepada kejahatan.
وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Yusuf, 12: 53)
Kedua, jiwa yang labil, kadang benar dan kadang menyimpang.
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
"Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya."
(QS. Al-Qiyamah, 75: 2)
Ketiga, jiwa yang tenang dan mantap di atas kebenaran.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ (27) ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْ (29) وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ (30)
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. Al-Fajr, 89: 27–30)
Ketiga, mencerdaskan akal.
Pola pendidikan yang juga harus diperhatikan adalah mencerdaskan akal. Pendidikan akal harus dimulai dengan menanamkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar melahirkan generasi seperti para sahabat Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
"Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
(QS. Ali ‘Imran, 3: 164)
Pola pendidikan Qur’ani ini disebut oleh Al-Qur’an sebagai pendidikan rabbani, yang bertujuan melahirkan generasi rabbani.
Allah Ta’ala berfirman:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ
"Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Tetapi (dia berkata), ‘Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya.’"
(QS. Ali ‘Imran, 3: 79)
Menurut Ibnu Abbas, generasi rabbani memiliki tiga kriteria:
- ‘Ulama, yaitu orang yang menguasai ilmu Islam sekaligus ilmu dunia.
- Hukama, yaitu memiliki kebijaksanaan dalam berbicara dan bertindak.
- Hulama, yaitu memiliki sikap santun dan akhlak yang mulia.
Subhanallah.
Kita merindukan lahirnya generasi ideal seperti itu. Namun generasi tersebut tidak akan lahir tanpa persiapan yang serius. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, kita harus menemukan jati diri untuk membangun masa depan umat dan bangsa.
Harapannya, umat Islam dapat menjadi pionir perubahan, memimpin peradaban dunia menuju keadilan, kejayaan, dan keharmonisan, setelah gagalnya berbagai konsep peradaban Barat maupun Timur. Kembalinya umat kepada konsep ilahi adalah jalan menuju kebangkitan tersebut.
Wallahu a’lam.


