Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 18 April 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan sosial, kita sering terlibat dalam perjalanan orang lain menuju kesuksesan. Kita membantu, memberi saran, membuka jalan, bahkan mungkin mengorbankan tenaga dan waktu. Namun di balik semua itu, ada satu penyakit hati yang sangat halus namun berbahaya: merasa paling berjasa.
Padahal, kesuksesan seseorang bukanlah hasil dari satu tangan saja. Ia merupakan rangkaian takdir Allah yang melibatkan banyak sebab, banyak orang, dan banyak proses yang sering kali tidak terlihat oleh mata manusia.
Hakikat Kesuksesan: Datangnya dari Allah
Allah ï·» berfirman:
“Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.”
(QS. Al-Anfal: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap keberhasilan sejatinya berasal dari Allah. Manusia hanyalah perantara (wasilah). Maka ketika kita merasa paling berjasa, sejatinya kita sedang lupa bahwa semua itu terjadi atas izin-Nya.
Allah juga mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Artinya, perjalanan menuju kesuksesan melibatkan banyak faktor yang tidak kita ketahui, termasuk bantuan dari orang-orang yang mungkin tidak tampak.
Ikhlas: Kunci Amal yang Diterima
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika kita membantu orang lain, niatkan karena Allah, bukan untuk mendapatkan pengakuan. Sebab ketika pengakuan manusia menjadi tujuan, maka kekecewaan akan mudah muncul saat kita tidak dihargai.
Ikhlas berarti memberi tanpa menuntut balasan, termasuk balasan berupa pujian atau pengakuan.
Bahaya Mengungkit Jasa
Allah ï·» berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)...”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini tidak hanya berlaku pada sedekah harta, tetapi juga pada segala bentuk kebaikan. Mengungkit jasa dapat menghapus pahala dan merusak keikhlasan.
Sering kali tanpa sadar kita berkata dalam hati, “Dia sukses karena saya.” Padahal, bisa jadi kita hanya bagian kecil dari rencana besar Allah.
Husnuzhan dan Lapang Dada
Ketika seseorang yang kita bantu tidak menyebut jasa kita, jangan terburu-buru berprasangka buruk. Bisa jadi:
- Ia lupa karena panjangnya proses yang dilalui
- Ia tidak mengetahui seluruh bantuan yang kita berikan
- Atau ada orang lain yang lebih besar jasanya
Allah ï·» berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Sikap terbaik adalah husnuzhan (berprasangka baik) dan lapang dada.
Balasan Sejati Ada di Sisi Allah
Rasulullah ï·º bersabda:
“Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan pentingnya berterima kasih. Namun sebagai pemberi bantuan, kita tidak boleh memaksa orang lain untuk mengakui jasa kita. Karena balasan sejati bukan dari manusia, melainkan dari Allah.
Allah berjanji:
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
Menjadi Pribadi yang Ikhlas dan Tenang
Seorang mukmin tetap tenang dan ikhlas meskipun tidak disebut jasanya. Ia yakin bahwa Allah Maha Mengetahui setiap kebaikan, sekecil apa pun.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Yang dinilai bukan seberapa besar pengakuan manusia, tetapi keikhlasan hati.
Penutup
Kesuksesan seseorang adalah hasil dari banyak jalan, banyak tangan, dan yang paling utama adalah kehendak Allah.
Jangan merasa paling berjasa, karena itu dapat merusak keikhlasan. Jangan pula kecewa jika tidak diakui, karena Allah tidak pernah lupa.
Tugas kita hanyalah berbuat baik dengan tulus, membantu dengan ikhlas, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.


