Jakarta, infoDKJ.com | Kamis, 2 April 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan masyarakat, sering muncul pandangan bahwa kemiskinan identik dengan kesalehan. Semakin sederhana seseorang secara ekonomi, semakin dianggap dekat dengan Tuhan. Sebaliknya, memiliki kecukupan materi kadang dipandang seolah menjauhkan seseorang dari nilai spiritual.
Salah satu kisah yang kerap dijadikan dasar pandangan ini adalah cerita tentang Nabi Muhammad ï·º yang pernah mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Kisah tersebut memang benar dan diriwayatkan dalam banyak literatur sirah. Pada saat Perang Khandaq, ketika Madinah dikepung dan persediaan makanan sangat terbatas, para sahabat menahan lapar hingga mengikat batu di perut mereka.
Ketika seorang sahabat mengadu kepada Nabi tentang rasa lapar yang sangat, beliau membuka bajunya dan memperlihatkan bahwa beliau bahkan mengikat dua batu di perutnya.
Namun, penting dipahami bahwa peristiwa itu terjadi dalam situasi perang dan krisis, bukan sebagai pola hidup normal yang sengaja dipertahankan.
Nabi Bukan Simbol Kemiskinan
Jika menelusuri kehidupan Nabi Muhammad ï·º sejak muda, beliau dikenal sebagai seorang pedagang yang sangat terpercaya. Integritas dan kejujurannya membuat masyarakat Makkah memberinya gelar Al-Amin, yang berarti “orang yang sangat dapat dipercaya”.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya manusia bekerja dan berusaha dalam kehidupan:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.”
(QS. Al-Mulk: 15)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak memerintahkan umatnya untuk pasif dalam urusan dunia, melainkan berusaha mencari rezeki yang halal.
Rasulullah ï·º juga bersabda:
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa bekerja dengan usaha sendiri adalah kemuliaan, bukan sesuatu yang harus dihindari.
Islam Tidak Mengajarkan Ketergantungan
Islam justru mendorong umatnya untuk hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Rasulullah ï·º bersabda:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud tangan di atas adalah tangan yang memberi, sedangkan tangan di bawah adalah tangan yang meminta. Artinya, Islam mendorong umatnya untuk memiliki kecukupan sehingga dapat membantu orang lain.
Hidup Cukup Agar Bisa Berbuat Baik
Para ulama menjelaskan bahwa yang dianjurkan dalam Islam adalah kecukupan (kifayah), bukan kemewahan yang berlebihan, tetapi juga bukan kemiskinan yang menyulitkan kehidupan.
Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menunjukkan keseimbangan: manusia tetap mengejar akhirat, tetapi tidak melupakan kebutuhan hidup di dunia.
Hakikat Zuhud yang Sebenarnya
Banyak orang menyamakan zuhud dengan kemiskinan. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa zuhud adalah sikap hati, bukan kondisi harta.
Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Zuhud adalah ketika hati lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan sendiri.
Dengan kata lain, seseorang bisa saja memiliki harta namun tetap zuhud jika hatinya tidak bergantung pada harta tersebut.
Penutup
Kemiskinan bukanlah simbol kesucian, sebagaimana kekayaan juga bukan tanda kemuliaan. Yang menjadi ukuran dalam Islam adalah ketakwaan dan sikap hati.
Meneladani Nabi Muhammad ï·º bukanlah berlomba menjadi orang paling miskin, melainkan berusaha hidup dengan integritas, kecukupan, dan kepedulian kepada sesama.
Nabi memang pernah lapar, tetapi beliau tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mengabadikan kemiskinan. Yang beliau ajarkan adalah bekerja dengan jujur, bersyukur atas rezeki, dan menggunakan kehidupan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah.


