Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 20 Mei 2026
Oleh: Priyono JA, S.E., M.M.
(Pemerhati Masalah Sosial)
Hari ini, di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kota metropolitan hingga kecamatan, dari kantor gubernur dan wali kota hingga pelosok desa, masyarakat memperingati Hari Kebangkitan Nasional atau yang akrab disebut “Harkitnas”. Upacara peringatan juga dilaksanakan di sekolah-sekolah dan berbagai instansi pemerintah sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.
Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun 2016 mengusung tema:
“Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”
Tema tersebut merupakan seruan penting untuk menyiapkan generasi penerus yang berkarakter, tangguh, dan berdaya saing sebagai fondasi pertahanan serta masa depan Indonesia.
Makna dari tema tersebut mengandung beberapa pesan penting, antara lain:
1. Faktor Demografi dan Generasi Milenial
Generasi muda merupakan investasi masa depan bangsa. Pemuda menjadi elemen utama dalam mempertahankan kedaulatan negara di berbagai bidang, baik ekonomi, teknologi, sosial, maupun moralitas.
2. Peran Aktif Setiap Warga Negara
Setiap warga negara memiliki andil dalam menjaga keutuhan NKRI, menjunjung supremasi hukum, serta membela tanah air melalui kesadaran bela negara.
3. Momentum Refleksi Nasional
Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum bersejarah sekaligus pengingat kolektif agar seluruh elemen bangsa terus mendukung anak-anak dan generasi muda untuk tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Mari bersama menyalakan semangat persatuan dan kesatuan demi membangun Generasi Emas Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaulat.
Selain itu, kita juga berharap generasi muda sebagai pewaris perjuangan bangsa mampu mengimplementasikan sikap arif dan bijaksana, berakhlakul karimah, berkepribadian luhur, serta tetap mempertahankan budaya adiluhung yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Harapan tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan, mengingat hingga hari ini masih banyak generasi muda Indonesia yang cerdas dan berbudi pekerti luhur.
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional
Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi yang didirikan oleh mahasiswa STOVIA di Batavia (Jakarta), menjadi tonggak lahirnya organisasi kebangsaan modern di Hindia Belanda. Berdirinya organisasi ini menandai bangkitnya kesadaran nasional rakyat Indonesia untuk bersatu melawan penjajahan bangsa Eropa.
Tanggal 20 Mei kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, bertepatan dengan lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Momentum ini menandai perubahan strategi perjuangan bangsa Indonesia, dari perjuangan yang bersifat kedaerahan menuju gerakan nasional yang lebih terorganisir.
Tonggak Penting Hari Kebangkitan Nasional
1. Lahirnya Boedi Oetomo (20 Mei 1908)
Organisasi ini diprakarsai oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo dan didirikan oleh dr. Soetomo bersama para pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia. Boedi Oetomo menjadi pelopor organisasi modern pertama di Nusantara yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan.
2. Pergeseran Strategi Perjuangan
Sebelum tahun 1908, perlawanan terhadap penjajah lebih bersifat fisik dan sporadis sehingga mudah dipatahkan. Berdirinya Boedi Oetomo menandai transisi perjuangan menuju jalur pendidikan, diplomasi, dan organisasi modern.
3. Penetapan Resmi oleh Pemerintah
Pada masa awal kemerdekaan, Presiden Soekarno mengusulkan perlunya simbol pemersatu bangsa. Atas saran Ki Hajar Dewantara, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.
Tonggak Perjuangan Bangsa
Periode Kebangkitan Nasional menjadi dasar lahirnya berbagai momentum besar dalam sejarah Indonesia, di antaranya:
- Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) yang melahirkan tekad satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
- Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945) sebagai puncak perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.
Organisasi Kebangsaan Sebelum Boedi Oetomo
Sejarah mencatat bahwa sebelum Boedi Oetomo lahir, telah muncul beberapa organisasi dan kelompok pergerakan nasional, antara lain:
1. Sarekat Priyayi (1906)
Didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo sebagai wadah kaum priyayi dan bangsawan untuk memajukan pendidikan masyarakat pribumi.
2. Klub Panti Harsojo (1908)
Didirikan di Yogyakarta sebagai organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran.
3. Sarekat Dagang Islam (SDI)
Didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905 untuk melindungi kepentingan pedagang pribumi dari monopoli pedagang asing. Organisasi ini kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam pada tahun 1912.
Keberadaan organisasi-organisasi tersebut menjadi pelopor lahirnya kesadaran nasionalisme, semangat persatuan, dan budaya berorganisasi di Indonesia.
Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi yang terus bangkit, memiliki semangat menjaga persatuan, serta mampu mempertahankan dan melestarikan Indonesia sesuai dengan geopolitik dan geostrategi bangsa.
Selamat Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2016
(Disarikan dari berbagai sumber)


