Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 8 Mei 2026
Oleh : Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat, Akademisi, Da’i, dan Wirausahawan
الحمد لله الحمد لله الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَرَزَقَنَا مِنْ الطَّيِّبَاتِ، وَنَهَانَا عَنِ الْإِسْرَافِ وَالتَّبْذِيرِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benar takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Karena hanya dengan ketakwaan, kehidupan manusia akan memperoleh keberkahan, ketenangan, dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari-hari ini dunia sedang menghadapi situasi yang tidak menentu. Konflik geopolitik di berbagai kawasan dunia, perang dagang antarnegara, ketegangan energi global, ancaman krisis pangan, naik turunnya nilai mata uang, hingga perlambatan ekonomi dunia telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.
Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan semakin ketat, gelombang PHK terjadi di berbagai sektor, biaya hidup naik, sementara daya beli masyarakat melemah. Bahkan banyak keluarga mulai merasakan tekanan ekonomi yang berat.
Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan kepada kita satu prinsip penting: hidup hemat, sederhana, dan tidak berlebihan.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
﴿وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾
"Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A‘raf: 31)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang makan dan minum, tetapi tentang seluruh pola hidup manusia. Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki Allah, tetapi Islam melarang pemborosan dan gaya hidup yang melampaui batas.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Hari ini banyak manusia terjebak dalam budaya konsumtif. Ukuran keberhasilan sering diukur dari kemewahan, bukan dari keberkahan. Orang membeli sesuatu bukan lagi karena kebutuhan, tetapi karena gengsi dan dorongan gaya hidup.
Akibatnya, penghasilan habis untuk hal-hal yang tidak penting, sementara kebutuhan masa depan diabaikan. Banyak orang terlihat kaya di luar, tetapi rapuh secara ekonomi di dalam.
Padahal Rasulullah Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan hidup sederhana dan penuh keseimbangan.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
«كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ»
"Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa kesombongan dan tanpa berlebihan."
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Islam tidak melarang kita menikmati nikmat Allah. Tetapi semuanya harus dilakukan secara proporsional, tidak boros, tidak pamer, dan tidak melampaui batas.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Perilaku hidup hemat bukan berarti pelit. Hemat adalah kemampuan mengelola nikmat Allah secara bijaksana. Orang hemat berpikir jauh ke depan. Ia sadar bahwa kondisi dunia dapat berubah sewaktu-waktu.
Hari ini mungkin kita masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Tetapi siapa yang bisa menjamin keadaan ekonomi beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan? Karena itu Islam mengajarkan sikap hati-hati, persiapan, dan pengelolaan harta yang baik.
Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا﴾
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya."
(QS. Al-Furqan: 67)
Inilah prinsip ekonomi Islam: seimbang.
Tidak boros, tetapi juga tidak bakhil.
Tidak berlebihan, tetapi juga tidak menelantarkan keluarga.
Tidak menghamburkan harta, tetapi tetap peduli kepada sesama.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di tengah situasi geopolitik dunia yang tidak stabil, umat Islam harus membangun ketahanan ekonomi keluarga. Mulailah dari hal-hal sederhana: mengurangi gaya hidup konsumtif, membedakan kebutuhan dan keinginan, menghindari utang yang tidak produktif, membiasakan menabung, serta menggunakan nikmat Allah secara bijak.
Gunakan makanan secukupnya, hemat listrik dan air, serta hindari pembelian yang hanya didorong oleh gengsi dan keinginan sesaat.
Karena sering kali krisis ekonomi bukan hanya menghancurkan harta, tetapi juga merusak mental, rumah tangga, bahkan keimanan seseorang.
Rasulullah ﷺ pernah berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kemiskinan."
(HR. Abu Dawud)
Mengapa kemiskinan disebut berdampingan dengan kekafiran? Karena tekanan ekonomi yang berat terkadang membuat manusia kehilangan kesabaran, kehilangan akal sehat, bahkan kehilangan pegangan agama.
Maka hidup hemat sejatinya bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga bagian dari menjaga kehormatan dan ketahanan iman.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian ini, perilaku hidup hemat tidak hanya menjadi kewajiban individu dan keluarga, tetapi juga harus menjadi prinsip dalam pengelolaan negara.
Karena sesungguhnya uang negara yang dikelola dalam APBN bukanlah milik pribadi para pejabat, melainkan amanah rakyat yang harus digunakan secara hati-hati, tepat sasaran, dan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan masyarakat.
Ketika rakyat diminta berhemat, maka negara pun harus memberi teladan dalam pengelolaan anggaran. Jangan sampai di saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, justru terjadi pemborosan anggaran, perjalanan yang tidak perlu, proyek yang tidak prioritas, atau kebocoran akibat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا﴾
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya."
(QS. An-Nisa: 58)
APBN adalah amanah besar. Setiap rupiah yang dikeluarkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Karena itu anggaran negara harus diarahkan untuk hal-hal yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat: pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, lapangan kerja, pemberdayaan UMKM, perlindungan sosial, dan pembangunan yang produktif.
Bukan untuk kemewahan birokrasi, pencitraan, atau proyek-proyek yang tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menjaga amanah rakyat dengan penuh tanggung jawab, hidup sederhana, dekat dengan penderitaan masyarakat, dan menggunakan anggaran negara secara efektif, efisien, serta berkeadilan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling banyak menghamburkan uang, tetapi bangsa yang mampu mengelola sumber daya secara disiplin, jujur, dan berpihak kepada rakyat.
Demikian pula keluarga yang kokoh bukan keluarga yang paling mewah, tetapi keluarga yang mampu hidup sederhana, bersyukur, saling menguatkan, dan tetap tenang menghadapi ujian zaman.
Apabila rakyat hidup hemat tetapi negara boros, maka ketimpangan akan melahirkan ketidakpercayaan. Namun apabila rakyat dan pemerintah sama-sama menjaga amanah, sama-sama hidup proporsional, serta sama-sama menghindari pemborosan, maka insyaAllah bangsa ini akan lebih kuat menghadapi gejolak ekonomi global dan tekanan geopolitik dunia.
Semoga Allah memberikan keberkahan kepada negeri kita, menjaga bangsa ini dari krisis berkepanjangan, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk hidup sederhana, hemat, dan penuh rasa syukur.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita jadikan momentum ini untuk memperbaiki pola hidup kita. Jangan sampai kita menjadi generasi yang sibuk mengejar kemewahan tetapi lupa mempersiapkan masa depan.
Tanamkan dalam keluarga kita nilai kesederhanaan, qana‘ah, disiplin, dan tanggung jawab. Ajarkan kepada anak-anak bahwa kemuliaan manusia bukan pada kemewahan hartanya, tetapi pada akhlak, ilmu, dan ketakwaannya.
Perbanyak istighfar, sedekah, dan doa. Karena keberkahan hidup tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi oleh pertolongan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْأَزَمَاتِ وَالْفَقْرِ وَالْفَسَادِ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ الصَّابِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


