Oleh: Ferawati
Jakarta — Kehadiran para Bundo Kanduang Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Keluarga Minang (DPW IKM) DKI Jakarta dalam kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kapasitas Aparatur, Relawan serta Potensi Masyarakat Lainnya dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana yang diselenggarakan oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah DKI Jakarta di Auditorium Lantai 5 Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya No. 49, Senen, Jakarta Pusat, pada Selasa, 2 Juni 2026 M bertepatan dengan 15 Dzulhijjah 1447 H, menjadi bukti nyata komitmen perempuan Minangkabau dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana dan penguatan ketangguhan masyarakat.
Partisipasi Bundo Kanduang DPW IKM DKI Jakarta dalam kegiatan tersebut tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap isu kebencanaan, tetapi juga mencerminkan peran aktif perempuan perantau Minang dalam berbagai agenda sosial dan kemanusiaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa nilai-nilai adat, budaya, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan masyarakat modern.
Bundo Kanduang Lintas Biro Hadir Menguatkan Kebersamaan
Kegiatan ini diikuti oleh para Bundo Kanduang lintas biro di lingkungan DPW IKM DKI Jakarta, yang berasal dari berbagai bidang pengabdian dan pemberdayaan masyarakat, antara lain Biro Pendidikan, Biro Sosial dan Kesehatan, Biro Pemberdayaan Perempuan, Biro Budaya dan Adat, Biro Ekonomi dan Koperasi, Biro Pemuda dan Generasi Muda, serta unsur-unsur lainnya yang menjadi bagian dari keluarga besar Ikatan Keluarga Minang DKI Jakarta.
Kehadiran para Bundo lintas biro tersebut menunjukkan bahwa kebencanaan bukan hanya menjadi urusan satu bidang tertentu, melainkan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Dengan latar belakang pengalaman dan bidang pengabdian yang beragam, para peserta dapat saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan strategi dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi berbagai risiko bencana.
Semangat kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan Minangkabau tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai budaya, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Perempuan sebagai Pilar Ketangguhan Keluarga
Dalam tradisi Minangkabau, Bundo Kanduang merupakan simbol kearifan, keteladanan, dan penjaga nilai-nilai kehidupan. Peran tersebut tidak terbatas pada lingkungan keluarga dan adat semata, tetapi juga meluas pada berbagai aktivitas sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Bencana sering kali memberikan dampak yang besar terhadap kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam pendidikan kebencanaan menjadi sangat penting.
Perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan keluarga. Dari seorang ibu, anak-anak belajar tentang kewaspadaan, kepedulian, dan langkah-langkah penyelamatan diri. Dari keluarga yang siap menghadapi bencana, akan lahir masyarakat yang lebih tangguh dan resilien.
Melalui kegiatan peningkatan kapasitas ini, para Bundo Kanduang memperoleh pengetahuan mengenai mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta pentingnya membangun jejaring sosial yang kuat dalam penanggulangan bencana.
Menghidupkan Nilai Adat dalam Aksi Kemanusiaan
Falsafah Minangkabau sakik samo mangadok, ringan samo dijinjiang mengajarkan bahwa setiap persoalan harus dihadapi secara bersama-sama. Nilai kebersamaan tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting dalam situasi kebencanaan.
Demikian pula nilai saciok bak ayam, sadanciang bak basi yang mengajarkan pentingnya persatuan dan kesepahaman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Nilai-nilai luhur ini sangat relevan dengan semangat penanggulangan bencana yang menekankan gotong royong, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama.
Kehadiran Bundo Kanduang DPW IKM DKI Jakarta dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai adat dan budaya tidak hanya dipelihara sebagai warisan leluhur, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Perantau untuk Masyarakat
Sebagai organisasi yang menghimpun warga Minangkabau di perantauan, DPW IKM DKI Jakarta senantiasa mendorong anggotanya untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.
Partisipasi Bundo Kanduang dalam kegiatan ini merupakan bagian dari semangat pengabdian tersebut. Pengetahuan yang diperoleh tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat diteruskan kepada keluarga, komunitas perantau, majelis taklim, organisasi perempuan, dan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak berhenti pada peserta yang hadir, melainkan menyebar lebih luas melalui peran aktif para perempuan Minangkabau sebagai agen edukasi dan penggerak sosial di tengah masyarakat.
Meneguhkan Peran Bundo Kanduang untuk Indonesia Tangguh
Kesiapsiagaan bencana adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, komunitas relawan, dan masyarakat umum memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ketangguhan bangsa.
Partisipasi aktif Bundo Kanduang DPW IKM DKI Jakarta, khususnya para Bundo lintas biro, menunjukkan bahwa perempuan Minangkabau senantiasa hadir dalam setiap ikhtiar membangun masyarakat yang lebih kuat, lebih peduli, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Sebagaimana filosofi Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kepedulian sosial, Bundo Kanduang tidak hanya menjadi penjaga adat, tetapi juga menjadi penggerak kemanusiaan yang terus menebarkan manfaat bagi sesama.
Dari keluarga yang tangguh lahir masyarakat yang kuat. Dari perempuan yang berdaya tumbuh bangsa yang siap menghadapi berbagai tantangan. Itulah kontribusi nyata Bundo Kanduang DPW IKM DKI Jakarta untuk kemanusiaan, kebangsaan, dan masa depan Indonesia yang lebih tangguh terhadap bencana.
“Bundo Kanduang bukan hanya limpapeh rumah nan gadang, tetapi juga penguat sendi-sendi kemanusiaan. Ketika ilmu, kepedulian, dan kebersamaan bertemu, maka lahirlah masyarakat yang tangguh, keluarga yang kuat, dan bangsa yang siap menghadapi berbagai tantangan zaman.”



