Oleh: Ferawati
Jakarta – Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kapasitas Aparatur, Relawan serta Potensi Masyarakat Lainnya dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Auditorium Lantai 5 Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya Nomor 49 Jakarta Pusat, pada Selasa, 2 Juni 2026 M bertepatan dengan 15 Dzulhijjah 1447 H. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana, khususnya gempa bumi yang berpotensi berdampak pada wilayah DKI Jakarta.
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah: 195).
Gempa bumi tidak pernah mengirimkan undangan. Ia datang tanpa aba-aba, mengguncang ruang kehidupan manusia dalam hitungan detik. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Bagi masyarakat DKI Jakarta, kesadaran terhadap ancaman gempa bumi perlu terus dibangun, meskipun ibu kota tidak berada tepat di atas jalur sesar aktif utama.
Berbagai kajian kebencanaan menunjukkan bahwa Jakarta tetap berpotensi merasakan dampak gempa yang bersumber dari zona subduksi di selatan Jawa maupun aktivitas sesar aktif di wilayah Banten dan Jawa Barat. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi serta dominasi bangunan bertingkat, risiko yang muncul tidak dapat dipandang sebelah mata.
Dalam perspektif Islam, menjaga keselamatan jiwa merupakan bagian dari tujuan utama syariat (maqashid syariah). Karena itu, membangun budaya siaga bencana sesungguhnya merupakan bentuk ikhtiar untuk menjaga amanah kehidupan yang telah diberikan Allah SWT.
Dari Kesadaran Menuju Kesiapsiagaan
Selama ini, sebagian masyarakat masih memandang bencana sebagai peristiwa yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, pengalaman berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa korban terbesar sering kali muncul bukan semata karena kekuatan bencana, melainkan karena kurangnya kesiapan menghadapi bencana.
Kesiapsiagaan dimulai dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan dirinya, keluarga, dan lingkungan sekitar. Rumah, sekolah, kantor, tempat ibadah, hingga ruang publik perlu menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi.
Di Jakarta, budaya siaga dapat dibangun melalui langkah-langkah sederhana namun penting, seperti mengenali jalur evakuasi, memahami titik kumpul aman, serta mengetahui prosedur penyelamatan diri saat terjadi gempa.
Keluarga sebagai Benteng Pertama
Keluarga merupakan unit terkecil sekaligus benteng pertama dalam menghadapi bencana. Oleh karena itu, setiap keluarga perlu memiliki rencana darurat yang dipahami oleh seluruh anggota keluarga.
Anak-anak perlu diajarkan cara berlindung ketika terjadi gempa. Orang tua perlu memastikan perabot berat terpasang dengan aman. Dokumen penting hendaknya disimpan di tempat yang mudah dijangkau. Tas siaga yang berisi kebutuhan dasar juga perlu dipersiapkan sebagai langkah antisipasi.
Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, namun dapat menjadi faktor penentu keselamatan ketika keadaan darurat terjadi.
Saat Gempa Terjadi: Tenang dan Bertindak Tepat
Kepanikan sering kali menjadi penyebab munculnya korban tambahan saat gempa berlangsung. Karena itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang.
Apabila berada di dalam bangunan, masyarakat dianjurkan melakukan prinsip "Drop, Cover, and Hold On": merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan berpegangan hingga guncangan berhenti.
Bagi penghuni gedung bertingkat, penggunaan lift harus dihindari. Setelah kondisi aman, evakuasi dilakukan melalui tangga darurat sesuai arahan petugas.
Sementara itu, jika berada di luar ruangan, masyarakat perlu menjauhi bangunan tinggi, tiang listrik, pohon besar, maupun papan reklame yang berpotensi roboh.
Keselamatan diri harus menjadi prioritas utama sebelum melakukan tindakan lainnya.
Menguatkan Solidaritas Sosial
Salah satu kekuatan bangsa Indonesia adalah budaya gotong royong. Nilai ini menjadi sangat penting dalam situasi kebencanaan. Setelah gempa terjadi, masyarakat tidak hanya dituntut menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas merupakan kelompok yang memerlukan perhatian khusus. Kepedulian terhadap sesama menjadi wujud nyata dari ajaran Islam tentang persaudaraan dan kemanusiaan.
Dalam konteks ini, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, komunitas relawan, serta warga sekitar memiliki peran strategis untuk memperkuat ketangguhan masyarakat.
Membangun Jakarta yang Tangguh
Kota yang tangguh terhadap bencana bukanlah kota yang bebas dari ancaman, melainkan kota yang masyarakatnya siap menghadapi ancaman tersebut. Ketangguhan lahir dari pengetahuan, latihan, kedisiplinan, dan kerja sama yang terus dibangun.
Karena itu, edukasi kebencanaan perlu menjadi gerakan bersama. Sekolah, masjid, majelis taklim, organisasi perempuan, organisasi kepemudaan, dan berbagai elemen masyarakat dapat menjadi ruang pembelajaran yang efektif untuk menanamkan budaya siaga bencana.
Kegiatan yang diselenggarakan LLHPB PWA DKI Jakarta ini menjadi salah satu ikhtiar nyata untuk memperkuat kapasitas aparatur, relawan, dan masyarakat agar mampu menjadi garda terdepan dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana di lingkungan masing-masing.
Jakarta membutuhkan warga yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam menghadapi risiko kehidupan. Sebab pada akhirnya, kesiapsiagaan adalah bentuk ikhtiar kolektif untuk menjaga kehidupan dan masa depan.
Menjemput Keselamatan dengan Ikhtiar
Gempa bumi memang tidak dapat dicegah. Namun, dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapan yang matang. Keselamatan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kesadaran dan ikhtiar yang dilakukan secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat Jakarta, kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi harus menjadi bagian dari budaya hidup sehari-hari. Dengan demikian, ketika bencana datang, masyarakat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga bangkit bersama dengan semangat solidaritas dan kemanusiaan.
Sebagaimana pesan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dalam gerakan kemanusiaan, kebencanaan bukan sekadar urusan tanggap darurat, melainkan bagian dari dakwah yang menghadirkan kemaslahatan dan perlindungan bagi sesama.
Karena bencana boleh datang tanpa peringatan, tetapi kesiapsiagaan harus hadir jauh sebelum bencana itu terjadi.
"Dengan ilmu kita bersiap, dengan ikhtiar kita menjaga, dan dengan gotong royong kita menguatkan. Mewujudkan masyarakat yang tangguh bencana adalah bagian dari ikhtiar menghadirkan Islam yang berkemajuan dan rahmatan lil 'alamin."



