Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 6 Juni 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kita terkadang pernah tersentuh oleh penyakit hati yang bernama hasad atau dengki. Saat melihat orang lain memperoleh kesuksesan, kebahagiaan, jabatan, kekayaan, atau berbagai kenikmatan lainnya, hati justru merasa gelisah dan tidak nyaman. Bahkan, ada kalanya seseorang merasa sedih ketika melihat orang lain bahagia.
Padahal, seorang mukmin sejati seharusnya ikut bergembira ketika saudaranya mendapatkan kebaikan dan turut berempati ketika saudaranya tertimpa musibah. Rasulullah ï·º mengajarkan agar sesama muslim saling mencintai, menyayangi, dan mendoakan kebaikan satu sama lain.
Hasad, Penyakit Hati yang Sering Tidak Disadari
Hasad merupakan penyakit hati yang sangat halus. Karena sifatnya yang tersembunyi, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjangkit hasad.
Secara umum, rasa iri dapat dibedakan menjadi dua bentuk:
1. Iri yang Positif (Ghibthah)
Iri yang positif muncul ketika seseorang melihat keberhasilan orang lain, lalu termotivasi untuk memperbaiki diri dan berusaha meraih kebaikan yang sama tanpa menginginkan nikmat tersebut hilang dari orang lain.
Ia menyadari bahwa segala nikmat yang diterima seseorang adalah karunia dari Allah SWT. Hatinya turut bersyukur, mendoakan keberkahan bagi orang lain, dan berusaha meningkatkan kualitas dirinya sendiri.
Sikap seperti ini dikenal dalam Islam sebagai ghibthah, yaitu keinginan memiliki kebaikan yang sama tanpa disertai rasa dengki.
2. Iri yang Negatif (Hasad)
Adapun iri yang negatif adalah hasad yang sesungguhnya. Seseorang merasa tidak senang melihat kebahagiaan atau keberhasilan orang lain, bahkan berharap nikmat tersebut hilang atau berubah menjadi kesulitan.
Inilah penyakit hati yang sangat berbahaya karena menunjukkan ketidakridhaan terhadap pembagian rezeki dan karunia yang telah Allah tetapkan.
Allah SWT berfirman:
"Apakah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?"
(QS. An-Nisa: 54)
Rasulullah ï·º juga mengingatkan:
"Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Dawud)
Rezeki Sudah Diatur oleh Allah
Setiap manusia memiliki bagian rezekinya masing-masing yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Tidak ada yang tertukar dan tidak ada yang terlewat.
Allah SWT berfirman:
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."
(QS. Hud: 6)
Karena itu, dengki kepada orang lain pada hakikatnya merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap ketentuan Allah SWT. Sifat ini dapat menyeret seseorang pada kekufuran nikmat dan menjauhkan hati dari ketenangan.
Sebaliknya, hati yang ridha terhadap takdir Allah akan dipenuhi rasa syukur, ketenteraman, dan kebahagiaan.
Cara Membersihkan Hati dari Hasad
Untuk menjaga kebersihan hati, seorang muslim perlu senantiasa berupaya menjauhkan diri dari berbagai penyakit hati seperti hasad, dengki, riya, sombong, dan ujub.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
- Memperbanyak istighfar dan memohon ampunan.
- Membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi sesama.
- Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang telah dimiliki.
- Berprasangka baik kepada Allah dan terhadap sesama manusia.
- Fokus memperbaiki diri daripada membandingkan diri dengan orang lain.
Sesungguhnya kebahagiaan sejati bukanlah ketika melihat orang lain kehilangan nikmatnya, melainkan ketika hati mampu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada diri sendiri dan turut berbahagia atas kebahagiaan saudara-saudaranya.
Kesimpulan
Hati yang bersih akan selalu senang melihat orang lain memperoleh kebaikan karena ia menyadari bahwa seluruh rezeki, kedudukan, kehormatan, dan kenikmatan berasal dari Allah SWT. Tidak ada yang tertukar dalam ketetapan-Nya dan tidak ada yang luput dari pengaturan-Nya.
Oleh karena itu, daripada sibuk menghitung nikmat yang dimiliki orang lain, lebih baik kita memperbanyak syukur, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT melalui zikir dan ibadah. Sebab, hati yang senantiasa mengingat Allah akan lebih mudah menerima takdir, merasakan ketenangan, serta terhindar dari penyakit hasad yang dapat merusak amal dan menghilangkan keberkahan hidup.
"Boleh jadi apa yang Allah berikan kepada orang lain bukan untuk membuat kita iri, tetapi untuk mengajarkan bahwa Allah juga mampu memberikan yang terbaik kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tugas kita bukan membandingkan, melainkan bersyukur dan terus berikhtiar."


