Serang, infoDKJ.com | “Krisis iklim sesungguhnya bukan hanya krisis lingkungan, melainkan krisis spiritual. Karena itu, agama tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari solusi.”
Pernyataan tersebut disampaikan Fasilitator Nasional Lentera Hijau Indonesia, Syahrul Ramadhan, dalam Seminar Lingkungan Hidup bertema “Mengarusutamakan Isu Lingkungan dalam Gerakan Berkemajuan” yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Serang di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Serang, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Deputi Direktur WALHI Tubagus Soleh Ahmadi, Syahrul Ramadhan dari Lentera Hijau Indonesia, serta aktivis lingkungan N.P. Rahadian dari Rekonvasi Bumi. Seminar diikuti unsur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, akademisi, mahasiswa, dan pegiat lingkungan.
Ketika Kerusakan Alam Menjelma Menjadi Krisis Sosial
Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyoroti berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata dirasakan masyarakat. Mulai dari banjir, pencemaran sungai, persoalan sampah, hingga perubahan iklim yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
Deputi Direktur WALHI Tubagus Soleh Ahmadi mengingatkan bahwa berbagai bencana ekologis yang terus berulang tidak dapat dipisahkan dari persoalan tata kelola lingkungan yang masih lemah.
“Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini bukan semata-mata akibat faktor alam. Ada persoalan tata kelola sumber daya alam yang perlu dibenahi secara serius,” ujarnya.
Sementara itu, N.P. Rahadian memaparkan sejumlah tantangan lingkungan yang dihadapi Kota Serang dan wilayah Banten. Menurutnya, persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar upaya perbaikan tidak hanya berhenti pada tingkat kebijakan, tetapi menjadi gerakan bersama.
Mengembalikan Spirit Keagamaan dalam Merawat Bumi
Menurut Syahrul Ramadhan, salah satu akar persoalan krisis lingkungan saat ini adalah cara pandang manusia yang menempatkan alam hanya sebagai objek eksploitasi dan sumber keuntungan ekonomi.
Padahal, dalam ajaran Islam, manusia diberi amanah sebagai khalifah untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian bumi.
“Banyak pendekatan lingkungan berbicara soal teknologi, investasi, atau regulasi. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Kita juga membutuhkan perubahan kesadaran. Menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia,” kata Syahrul.
Ia menjelaskan bahwa Al-Quran secara tegas mengingatkan manusia untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi serta tidak hidup secara berlebihan. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, relevan untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini.
Syahrul juga mengutip pemikiran cendekiawan Muslim Sayyed Hossein Nasr yang menyebut bahwa jika dahulu manusia harus diselamatkan dari alam, maka saat ini justru alam yang harus diselamatkan dari manusia.
“Ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dihormati dan dijaga, maka eksploitasi menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Di situlah krisis spiritual bermula dan kemudian melahirkan krisis ekologis,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong rumah-rumah ibadah menjadi pusat edukasi dan aksi lingkungan. Menurutnya, pesan-pesan keagamaan tentang tanggung jawab menjaga bumi perlu hadir dalam khotbah, pengajian, pendidikan, maupun gerakan sosial keagamaan.
Syahrul juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas iman dalam menghadapi krisis iklim yang dampaknya dirasakan seluruh umat manusia tanpa memandang agama maupun latar belakang sosial.
“Bumi adalah rumah bersama. Karena itu, perlindungan terhadap lingkungan juga harus menjadi gerakan bersama. Ketika nilai-nilai agama diterjemahkan menjadi aksi nyata, kita tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga menciptakan perubahan,” katanya.
Melalui seminar ini, Muhammadiyah Kota Serang berharap isu lingkungan dapat menjadi bagian integral dari gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, menjaga bumi dipandang bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab moral yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
“Ketika iman bertemu tindakan, harapan untuk menyelamatkan bumi akan selalu ada,” tutup Syahrul Ramadhan.
Tentang Lentera Hijau Indonesia
Didirikan pada 2025 di Jakarta, Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang agama, lingkungan, dan transisi energi berkeadilan. Organisasi ini fokus memperkuat kapasitas komunitas lintas iman dalam ekoteologi, kepemimpinan iklim, serta praktik energi bersih berbasis masyarakat. Melalui pendekatan gerakan akar rumput, Lentera Hijau Indonesia mendorong lahirnya kesadaran publik tentang keadilan iklim, penguatan advokasi kebijakan lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan perubahan sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Selain itu, organisasi ini juga mengembangkan pembiayaan berbasis nilai keagamaan dan tata kelola yang profesional, transparan, serta partisipatif guna mendukung aksi iklim yang berdampak nyata bagi masyarakat luas.
Narahubung:
Sukowati Utami – 081510767004
Farah Adiba – 08112551236



