Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 12 Juni 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Kebanyakan manusia mudah lupa dan lalai dari mengingat Allah. Padahal seluruh fasilitas kehidupan yang dinikmati setiap hari adalah karunia-Nya. Udara yang dihirup, air yang diminum, kesehatan, keluarga, akal, bahkan kesempatan untuk hidup hingga hari ini, semuanya berada dalam kekuasaan Allah dan berlangsung karena kehendak (iradah) serta kuasa (qudrah)-Nya.
Allah berfirman:
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."
(QS. Hud: 6)
Namun, sering kali manusia baru mengingat Allah ketika menghadapi kesulitan, sakit, kehilangan, atau saat menjalankan ibadah tertentu seperti shalat, puasa, dan ibadah ritual lainnya. Padahal, mengingat Allah (dzikir) tidak hanya terbatas pada waktu-waktu ibadah formal. Dzikir yang sesungguhnya adalah hadirnya kesadaran hati kepada Allah dalam seluruh perjalanan hidup.
Allah berfirman:
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring, serta mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi..."
(QS. Ali Imran: 191)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengingat Allah tidak dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu. Seorang mukmin dapat berdzikir dalam setiap keadaan, karena seluruh kehidupan adalah ruang untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Ketika angin sepoi-sepoi bertiup di tengah teriknya matahari, lalu menghadirkan kesejukan dan kenyamanan, sesungguhnya itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah yang sedang dirasakan.
Ketika air yang diminum mengalir melewati tenggorokan dan menghilangkan dahaga, lalu hati menyadari bahwa kenikmatan itu datang dari Allah, maka saat itu seseorang sedang mengingat Allah.
Ketika rasa lapar terobati oleh makanan, ketika rasa lelah digantikan oleh istirahat, ketika kesedihan berubah menjadi ketenangan, bahkan ketika seseorang masih mampu tersenyum dan tertawa bersama orang-orang yang dicintainya, semua itu adalah tanda hadirnya kuasa Allah dalam kehidupan.
Allah berfirman:
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
(QS. Ar-Rahman: 13)
Ayat ini diulang berkali-kali dalam Surat Ar-Rahman agar manusia tidak menjadi makhluk yang lupa dan terbiasa dengan nikmat sehingga menganggap semuanya sebagai hal yang biasa. Padahal, sesuatu yang tampak biasa sebenarnya adalah anugerah yang luar biasa.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang hidup dan orang mati."
(HR. Bukhari)
Dzikir bukan hanya ucapan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir yang keluar dari lisan, tetapi juga kesadaran batin yang selalu menghubungkan setiap peristiwa kepada Allah. Sebab lisan yang berdzikir tanpa kehadiran hati bisa menjadi rutinitas, sedangkan hati yang selalu menyadari karunia Allah akan melahirkan rasa syukur, ketenangan, dan kedekatan dengan-Nya.
Dalam pandangan para ulama tasawuf, seluruh alam semesta adalah ayat-ayat Allah yang terbentang. Merasakan nikmat, menyaksikan keindahan alam, merasakan kasih sayang sesama, bahkan menyadari denyut jantung yang terus berdetak tanpa pernah diperintah oleh manusia, semuanya dapat menjadi jalan untuk mengenal dan mengingat Allah.
Allah berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Karena itu, mengingat Allah tidak harus menunggu berada di masjid, tidak harus menunggu selesai shalat, dan tidak harus menunggu datangnya musibah. Mengingat Allah dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan melalui apa saja yang dirasakan oleh diri.
Merasa sehat lalu mengucapkan syukur, menghirup udara segar sambil menyadari karunia-Nya, merasakan kesejukan angin, menikmati seteguk air, mendengar suara anak-anak, melihat senyum orang tua, atau sekadar menyaksikan terbit dan tenggelamnya matahari dengan hati yang sadar kepada Sang Pencipta, semuanya dapat menjadi bentuk dzikir.
Sebab sesungguhnya, setiap rasa yang hadir dalam diri dan setiap nikmat yang datang dari luar diri adalah jejak kasih sayang Allah yang sedang menyapa hamba-Nya.
Maka, hidup yang dipenuhi kesadaran akan kehadiran Allah akan menjadikan seluruh waktu sebagai ibadah, seluruh nikmat sebagai pengingat, dan seluruh pengalaman sebagai jalan untuk semakin mengenal serta mencintai-Nya.
Pada akhirnya, dzikir bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan kesadaran yang hidup di dalam hati; kesadaran bahwa tidak ada daya, tidak ada kekuatan, tidak ada kenikmatan, dan tidak ada kehidupan kecuali semuanya berasal dari Allah semata.
"Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya."
Ketika manusia mampu merasakan dan menyadari setiap karunia yang mengalir dalam hidupnya, maka pada saat itulah ia sedang berdzikir, sedang bersyukur, dan sedang menyaksikan kehadiran Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tak pernah berhenti menyertai kehidupan.


