Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 17 Juni 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Pengorbanan adalah salah satu sifat mulia yang tidak mudah dimiliki oleh setiap orang. Ia bukan sekadar memberi atau berbagi, tetapi lebih dalam dari itu, yakni kemampuan untuk mendahulukan kepentingan dan kebahagiaan orang lain di atas kepentingan pribadi. Pengorbanan lahir dari hati yang dipenuhi empati, kasih sayang, dan keinginan untuk memperoleh ridha Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Orang yang berkorban sesungguhnya sedang menapaki jalan para nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Mereka rela menanggung kesulitan, menahan keinginan diri, bahkan merasakan kepahitan demi menghadirkan kebahagiaan dan kemaslahatan bagi orang lain. Mereka rela mengenyam yang pahit agar orang lain dapat merasakan yang manis.
Allah SWT berfirman:
"Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini menggambarkan sifat itsar, yaitu mendahulukan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Inilah puncak kemuliaan akhlak yang menjadi ciri orang-orang beriman.
Namun, pengorbanan bukanlah jalan yang selalu mudah dan menyenangkan. Orang yang berkorban sering kali harus menghadapi rasa lelah, kekecewaan, bahkan terkadang tidak mendapatkan penghargaan dari manusia. Karena itu, pengorbanan memerlukan kesabaran yang besar dan keikhlasan yang tulus.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika pengorbanan dilakukan karena Allah, maka sekecil apa pun pengorbanan itu akan bernilai besar di sisi-Nya. Sebaliknya, bila dilakukan demi pujian manusia, maka kelelahan yang diperoleh bisa menjadi sia-sia.
Kepribadian yang mulia seperti ini tidak terbentuk dalam waktu singkat. Ia memerlukan proses panjang berupa pendidikan hati, mujahadah melawan hawa nafsu, serta pembiasaan diri untuk selalu mengingat Allah. Sebab hati manusia mudah berubah dan sering kali dikuasai oleh ego serta kepentingan pribadi.
Allah berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Dzikir, baik yang diucapkan secara jahr (terdengar) maupun secara sirr (di dalam hati), merupakan sarana penyucian jiwa dan penguat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Dengan banyak mengingat Allah, hati menjadi lembut, ego berkurang, dan rasa kasih sayang kepada sesama semakin tumbuh.
Dalam tradisi pendidikan ruhani Islam (tasawuf), pembinaan hati juga dilakukan melalui bimbingan seorang guru mursyid yang memiliki sanad keilmuan dan akhlak yang bersambung kepada para ulama hingga Rasulullah ï·º. Kehadiran seorang pembimbing spiritual bukanlah untuk menggantikan peran Allah, melainkan sebagai penunjuk jalan dan teladan dalam proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), sebagaimana para sahabat dahulu belajar langsung kepada Rasulullah ï·º.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah: 119)
Pada hakikatnya, pengorbanan adalah bahasa cinta. Seorang ibu yang rela begadang demi anaknya, seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya, seorang guru yang sabar mendidik muridnya, dan seseorang yang tetap membantu sesamanya di tengah keterbatasan dirinya, semuanya adalah wujud nyata dari pengorbanan.
Dunia hari ini sangat membutuhkan manusia-manusia yang memiliki jiwa pengorbanan. Sebab banyak kerusakan terjadi ketika manusia hanya mencintai dirinya sendiri dan melupakan orang lain. Sebaliknya, masyarakat akan menjadi damai dan penuh kasih ketika setiap orang memiliki empati, keikhlasan, dan kesediaan untuk berbagi beban sesama.
Pada akhirnya, pengorbanan sejati bukanlah kehilangan, melainkan investasi cinta yang tidak pernah sia-sia. Apa yang mungkin terasa pahit di dunia, akan menjadi manis di sisi Allah. Sebab orang yang hidup untuk dirinya sendiri akan mati bersama dirinya, tetapi orang yang hidup untuk orang lain akan tetap hidup dalam doa, kenangan, dan pahala yang terus mengalir.
Semoga Allah menghiasi hati kita dengan keikhlasan, kesabaran, dan kemampuan untuk berkorban demi kemaslahatan sesama, sehingga hidup ini menjadi jalan menuju cinta dan keridhaan-Nya.
"Orang yang paling mulia bukanlah yang paling banyak menerima, melainkan yang paling ikhlas memberi dan berkorban karena Allah semata."
Wallahu a'lam bish-shawab.


