Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 20 Juni 2026
Dari MBS AR Fachruddin Bekasi untuk Indonesia dan Dunia
Ketika sebagian anak muda sibuk mengejar popularitas, enam santri Muhammadiyah Boarding School AR Fachruddin Bekasi justru menyiapkan diri menjadi penjaga peradaban. Mereka menghafal Al-Qur'an, menguasai tiga bahasa, dan menatap masa depan dengan ilmu serta akhlak. Jumlahnya memang hanya enam orang, tetapi sejarah sering kali dimulai dari angka yang kecil.
Enam Orang yang Tidak Bisa Diukur dengan Angka
Sabtu, 20 Juni 2026 menjadi hari yang bersejarah bagi Muhammadiyah Boarding School (MBS) AR Fachruddin Bekasi. Untuk pertama kalinya, sekolah kader tersebut meluluskan peserta didik program kelas 6–12 sebanyak enam orang, terdiri atas tiga putra dan tiga putri.
Bagi sebagian orang, jumlah enam mungkin terlihat kecil. Namun bagi dunia pendidikan dan kaderisasi, enam orang ini adalah investasi besar bagi masa depan umat dan bangsa. Mereka merupakan generasi yang dibentuk bukan hanya untuk menjadi lulusan sekolah, tetapi menjadi kader Muhammadiyah dan calon pemimpin masa depan Indonesia.
Oase di Tengah Krisis Keteladanan
Kita hidup pada zaman yang penuh paradoks. Kemajuan teknologi berkembang sangat cepat, tetapi pada saat yang sama tantangan moral juga semakin besar. Berbagai bentuk kemaksiatan, kekerasan, penyalahgunaan media sosial, hingga krisis keteladanan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Di tengah kondisi tersebut, lahirnya generasi muda yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup merupakan kabar yang menyejukkan.
Keenam lulusan MBS AR Fachruddin merupakan hafidz dan hafidzah Al-Qur'an dengan capaian hafalan antara 20 hingga 30 juz. Mereka juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab.
Kehadiran mereka ibarat oase di tengah padang pasir. Sebuah tanda bahwa harapan itu masih ada. Bahwa bangsa ini masih memiliki generasi yang siap menjaga nilai, moral, dan peradaban.
Melangkah dengan Ilmu, Berkarya dengan Akhlak
Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah:
"Generasi Qur'ani: Melangkah dengan Ilmu dan Berkarya dengan Akhlak."
Tema tersebut tidak sekadar menjadi slogan seremonial. Ia menjadi gambaran nyata dari proses pendidikan yang dijalankan selama bertahun-tahun.
Para santri tidak hanya dididik untuk menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga dibentuk karakter kepemimpinan, kedisiplinan, kemampuan komunikasi, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Inilah model pendidikan yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia dalam menyongsong peradaban baru: generasi yang cerdas, berkarakter, beriman, dan mampu bersaing di tingkat global.
Dari Al-Qur'an Menuju Gerakan Peradaban
Acara Takrimul Najihiin dihadiri oleh Mudir MBS AR Fachruddin Ririn Edi Setiawan, Kepala Sekolah Sofian, Ketua PCM Pondok Melati Suripto, Ketua PDM Kota Bekasi Subagiyono, para guru, wali santri, dan tamu undangan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, penulis yang mendapat amanah sebagai pembicara menyampaikan bahwa sejarah Muhammadiyah sesungguhnya berawal dari proses membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan.
Dari pemahaman terhadap Al-Qur'an itulah lahir gerakan besar berupa sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, layanan sosial, dan berbagai amal usaha yang kini tersebar di seluruh Indonesia bahkan menjangkau berbagai negara di dunia.
Muhammadiyah membuktikan bahwa Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk melahirkan karya nyata yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Lulusan Perdana, Prestasi Membanggakan
Kepala Sekolah Sofian dalam laporannya menyampaikan bahwa capaian tahun ini merupakan hasil maksimal yang dapat diraih oleh sekolah.
Meskipun masih terdapat berbagai kekurangan yang harus terus diperbaiki, hasil yang dicapai para lulusan sangat membanggakan. Seluruh lulusan berhasil diterima di perguruan tinggi negeri maupun swasta yang memiliki reputasi baik.
Di antaranya diterima di Institut Teknologi Surabaya dan Universitas Negeri Semarang, serta perguruan tinggi lainnya yang menjadi pilihan sesuai minat dan kompetensi masing-masing.
Bagi sebuah lulusan perdana, capaian ini merupakan prestasi yang luar biasa dan menunjukkan bahwa kualitas pendidikan yang dikembangkan MBS AR Fachruddin berada pada jalur yang tepat.
Buah dari Sebuah Perjuangan Panjang
Ketua PCM Pondok Melati, Suripto, menyampaikan bahwa berdirinya MBS AR Fachruddin merupakan hasil perjuangan panjang yang penuh tantangan.
Mulai dari proses perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan sekolah, semuanya membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Namun hari ini, perjuangan tersebut mulai memperlihatkan hasil nyata.
Apa yang dahulu hanya berupa cita-cita kini telah melahirkan kader-kader muda yang siap melanjutkan estafet perjuangan Muhammadiyah dan bangsa Indonesia.
Menanam Enam Benih, Menuai Peradaban
Takrimul Najihiin tahun ini memang hanya melepas enam lulusan.
Namun sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kelompok kecil yang memiliki visi besar. Dahulu Muhammadiyah juga berawal dari sebuah pengajian sederhana yang dipimpin KH Ahmad Dahlan. Kini Muhammadiyah telah menjadi salah satu gerakan Islam terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Karena itu, enam lulusan ini bukan sekadar enam orang santri. Mereka adalah enam benih peradaban.
Mereka adalah calon ulama, ilmuwan, profesional, pemimpin, dan penggerak perubahan yang akan membawa cahaya Al-Qur'an ke tengah kehidupan masyarakat.
Semoga dari Muhammadiyah Boarding School AR Fachruddin Bekasi akan terus lahir generasi-generasi Qur'ani yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan napas perjuangan.
Sebab sesungguhnya masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang cerdas, tetapi oleh mereka yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.
Enam orang hari ini, insya Allah akan melahirkan ribuan cahaya bagi Indonesia di masa depan.
Penulis : Dr. Ir. Narmodo, M.Ag.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat dan Akademisi


