Jakarta, infoDKJ.com | Kamis, 23 Juli 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
"Dunia ini ibarat gunung; apa yang kau serukan akan kembali kepadamu sebagai gema."
— Jalaluddin Rumi ---
Ungkapan Jalaluddin Rumi ini bukan sekadar kiasan yang indah, tetapi sebuah pelajaran tentang hukum kehidupan. Gunung tidak memilih suara apa yang akan dikembalikannya. Ia hanya memantulkan apa yang diterimanya. Jika yang diserukan adalah kata-kata lembut, gema yang terdengar pun lembut. Jika yang diteriakkan adalah kemarahan, maka kemarahan pula yang kembali.
Begitulah kehidupan manusia. Apa yang kita tanam melalui ucapan, sikap, dan perbuatan, cepat atau lambat akan kembali kepada diri kita. Allah telah menetapkan sunnatullah bahwa setiap amal memiliki konsekuensinya.
Allah berfirman:
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya." (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Dalam pandangan sufistik, dunia bukanlah musuh yang harus dibenci, melainkan cermin yang memantulkan keadaan hati manusia. Jika hati dipenuhi kasih sayang, keikhlasan, dan prasangka baik kepada Allah serta sesama, maka seseorang akan lebih mudah melihat keindahan dalam hidup. Sebaliknya, hati yang dipenuhi iri, dengki, dan kebencian akan membuat dunia tampak gelap, walaupun ia hidup dalam limpahan kenikmatan.
Para sufi mengatakan bahwa memperbaiki dunia dimulai dengan memperbaiki hati. Sebab sumber segala ucapan dan tindakan adalah hati. Rasulullah ï·º bersabda:
"Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, sebelum lisan menyalahkan orang lain, tanyakanlah terlebih dahulu kepada hati kita. Jangan menyebarkan kebencian, periksalah apakah hati kita telah dipenuhi cinta kepada Allah. Sering kali yang perlu diubah bukan dunia di sekitar kita, melainkan diri kita sendiri.
Dalam kehidupan sosial, prinsip ini sangat nyata. Senyum melahirkan senyum. Hormat melahirkan penghormatan. Kejujuran menumbuhkan kepercayaan. Sebaliknya, fitnah melahirkan permusuhan, dan kebencian melahirkan kebencian baru. Masyarakat yang damai dibangun bukan hanya oleh aturan, tetapi oleh hati-hati yang bersih.
Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari perubahan batin. Ketika hati berubah, ucapan berubah. Ketika ucapan berubah, perilaku berubah. Ketika perilaku berubah, masyarakat pun ikut berubah.
Seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) tidak hanya sibuk memperbaiki ibadah lahiriahnya, tetapi juga terus membersihkan hati dari kesombongan, riya, dendam, dan kebencian. Sebab ia sadar bahwa setiap bisikan hati akan memengaruhi cara ia memandang dunia.
Maka, jika kita ingin hidup dikelilingi oleh kebaikan, mulailah menjadi sumber kebaikan itu sendiri. Tebarkan salam, maafkan kesalahan, doakan orang lain, dan ringankan beban sesama. Apa yang keluar dari diri kita bukan hanya akan kembali kepada kita sebagai "gema", tetapi juga menjadi amal yang akan kita temui di hadapan Allah kelak.
Pada akhirnya, dunia hanyalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Setiap kata adalah benih. Setiap perbuatan adalah tanaman. Dan setiap hati adalah ladang yang akan menentukan seperti apa hasil panennya.
Semoga Allah menjadikan hati kita bersih, lisan kita lembut, amal kita ikhlas, dan hidup kita menjadi gema kebaikan bagi sesama.
Wallahu a'lam bish-shawab.


