Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 21 Juli 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Ada satu hakikat yang sering terlupakan oleh manusia. Kita terlalu sibuk membangun kehidupan di dunia hingga lupa bahwa dunia bukanlah rumah. Dunia hanyalah tempat singgah, tempat menjalankan peran, sekaligus arena ujian untuk menentukan bagaimana kita akan kembali kepada Allah SWT.
Al-Qur'an mengingatkan:
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak..." (QS. Al-Hadid: 20)
Para ulama tasawuf memandang dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi sesuatu yang tidak boleh menguasai hati. Dunia ibarat panggung sandiwara. Setiap manusia diberi peran yang berbeda. Ada yang menjadi pemimpin, pedagang, guru, buruh, ulama, pejabat, bahkan ada yang diuji dengan kemiskinan dan kesulitan. Semua sedang memainkan naskah yang telah Allah tetapkan dengan penuh hikmah.
Yang menjadi ukuran bukanlah besar kecilnya peran, melainkan apakah peran itu dijalankan dengan penuh keikhlasan dan ketaatan kepada Sang Sutradara kehidupan, Allah SWT.
Bayangkan sebuah pertandingan sepak bola dunia. Seluruh pemain berusaha menampilkan permainan terbaik. Namun mereka tidak boleh bermain sesuka hati. Ada aturan yang wajib ditaati. Ada wasit yang mengawasi. Ada peluit yang sewaktu-waktu mengakhiri pertandingan.
Begitulah kehidupan manusia.
Syariat Allah adalah aturan permainan. Amal saleh adalah strategi kemenangan. Malaikat adalah pencatat setiap gerakan kita. Sedangkan kematian adalah peluit panjang yang menandai berakhirnya pertandingan kehidupan.
Ketika peluit itu berbunyi, semua selesai.
Tidak ada lagi kesempatan memperbaiki permainan. Tidak ada lagi waktu meminta tambahan. Yang tersisa hanyalah hasil akhir dari seluruh perjalanan hidup.
Sebagaimana para pemain sepak bola kembali ke negara masing-masing setelah pertandingan usai, demikian pula seluruh manusia akan kembali ke kampung halamannya yang sejati.
Kampung kita bukan dunia.
Kampung kita adalah akhirat.
Di sanalah manusia akan menetap selama-lamanya. Dunia hanyalah perjalanan yang sangat singkat menuju kehidupan yang kekal.
Seorang sufi pernah berkata, "Orang yang mencintai dunia akan sibuk menghias jalan, sedangkan orang yang mencintai Allah akan sibuk mempersiapkan tujuan."
Karena itu, jangan terlalu larut dengan gemerlap dunia. Harta hanyalah titipan. Jabatan hanyalah amanah. Popularitas hanyalah bayangan. Bahkan tubuh yang kita banggakan pun suatu saat akan kembali menjadi tanah.
Yang akan ikut pulang hanyalah iman, amal saleh, keikhlasan, dan hati yang bersih.
Allah SWT berfirman:
"Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan." (QS. Al-Qari'ah: 6–7)
Dalam pandangan tasawuf, kemenangan terbesar bukanlah ketika manusia dipuji banyak orang, melainkan ketika Allah ridha kepadanya. Kekayaan terbesar bukanlah banyaknya harta, melainkan hati yang merasa cukup dengan Allah. Kemuliaan tertinggi bukanlah ketika nama dikenal manusia, tetapi ketika nama kita disebut dengan penuh kasih di hadapan para malaikat.
Maka bermainlah dengan indah.
Bekerjalah dengan jujur.
Beribadahlah dengan ikhlas.
Bergaullah dengan akhlak yang mulia.
Jangan curang dalam permainan kehidupan, karena Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi. Jangan sombong ketika menang, dan jangan putus asa ketika kalah, sebab setiap keadaan adalah cara Allah mendidik hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.
Semoga ketika peluit kehidupan berbunyi, kita pulang membawa kemenangan yang hakiki. Bukan kemenangan yang dipuji manusia, tetapi kemenangan yang membuat Allah berfirman:
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."(QS. Al-Fajr: 27–30)
Itulah trofi yang sesungguhnya. Bukan piala yang akan berdebu dimakan zaman, melainkan surga yang kenikmatannya tidak akan pernah berakhir.
Semoga kita semua menjadi pemain yang setia mengikuti aturan Sang Maha Pengatur, sehingga saat pulang ke kampung halaman yang abadi, Allah menyambut kita dengan rahmat, ampunan, dan surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.


