Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 4 September 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Dalam Islam, kesalehan bukan hanya diukur dari seberapa rajin kita beribadah di masjid, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang kita berikan untuk orang lain. Karena itu, para ulama membagi kesalehan menjadi dua: saleh personal dan saleh sosial.
1. Saleh Personal: Menjaga Hubungan dengan Allah
Saleh personal adalah kesalehan yang berorientasi vertikal, yaitu hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Ciri utama orang yang saleh personal adalah istiqamah dalam ibadah dan menjaga akhlak saat sendiri. Di sinilah keikhlasan diuji.
Beberapa bentuknya:
- Ibadah mahdhah: shalat tepat waktu, puasa, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan tahajud.
- Akhlak pribadi: jujur, amanah, menjaga lisan, dan menjauhi maksiat.
- Motivasi: mencari ridha Allah, bukan pujian manusia.
Orang yang saleh personal ibarat pohon yang akarnya kuat. Ia baik bukan karena dilihat orang, tetapi karena sadar Allah selalu melihat.
2. Saleh Sosial: Menebar Manfaat untuk Sesama
Saleh sosial adalah kesalehan yang berorientasi horizontal, yaitu hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitarnya.
Islam tidak hanya menuntut kita menjadi hamba yang baik, tetapi juga menjadi khalifah yang membawa rahmat.
Bentuk saleh sosial di antaranya:
- Peduli sesama: membantu tetangga, menyantuni anak yatim, dan melerai konflik.
- Bermanfaat di masyarakat: bekerja dengan amanah, jujur dalam berdagang, serta menjaga kebersihan lingkungan.
- Motivasi: menjalankan sabda Nabi, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."
Orang yang saleh sosial adalah orang yang kehadirannya dirindukan, karena membawa solusi, bukan masalah.
Mengapa Keduanya Harus Seimbang?
Bayangkan jika seseorang hanya saleh personal. Ia rajin shalat dan puasa, tetapi cuek ketika melihat tetangganya kesusahan. Ibadahnya tinggi, tetapi empati sosialnya rendah.
Sebaliknya, jika hanya saleh sosial, ia aktif di kegiatan sosial dan disukai banyak orang, tetapi kosong dari ibadah dan kedekatan dengan Allah. Kebaikannya bisa kehilangan arah.
Islam mengajarkan keseimbangan. Setelah kita sujud menghadap Allah, kita diakhiri dengan salam menoleh ke kanan dan kiri. Itu simbol: setelah urusan dengan Allah, lanjutkan dengan urusan dengan manusia.
Inilah yang disebut hablumminallah wa hablumminannas: menjalin hubungan baik dengan Allah sekaligus dengan sesama.
Penutup
Saleh personal membuat hati kita tenang. Saleh sosial membuat lingkungan kita damai.
Dua-duanya tidak bisa dipisahkan. Karena mukmin yang ideal bukan hanya yang rajin ke masjid, tetapi juga yang dirindukan di pasar, di kantor, di rumah, dan di tengah masyarakat.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Perkuat ibadah personal, lalu perluas dengan aksi sosial. Karena sebaik-baik manusia adalah yang hatinya dekat dengan Allah dan tangannya ringan membantu sesama.


