Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 15 Juli 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Kekecewaan sering lahir ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Kita ingin diperlakukan adil, dihargai, dan melihat kebaikan selalu menang. Namun dunia bukanlah tempat pembalasan, melainkan tempat ujian.
Allah SWT berfirman:
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)
Karena itu, orang jujur bisa difitnah, orang saleh bisa diuji, sementara orang zalim terkadang tampak hidup dalam kemewahan. Bukan karena Allah tidak adil, tetapi karena keadilan-Nya tidak selalu disegerakan di dunia. Ada yang Allah tampakkan di dunia, dan ada yang Dia sempurnakan pada Hari Kiamat.
Allah berfirman:
"Dan jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)
Rasulullah ï·º bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)
Dalam pandangan para sufi, musibah bukan sekadar penderitaan, tetapi undangan untuk semakin mengenal Allah. Saat ujian datang, jangan hanya memohon agar kesulitan segera diangkat. Mohonlah hati yang mampu menangkap hikmah di balik setiap takdir. Sebab boleh jadi sesuatu yang kita anggap buruk justru menjadi jalan datangnya rahmat Allah.
Sebagaimana firman-Nya:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari bahwa setiap kehilangan mengajarkan keikhlasan, setiap luka menggugurkan dosa, dan setiap kesabaran akan berbuah kemuliaan.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka, jangan sibuk menuntut dunia agar selalu berlaku adil. Mintalah kepada Allah agar Dia membuka mata hati untuk melihat hikmah di balik setiap peristiwa. Sebab hati yang dipenuhi hikmah akan tetap tenang meski dunia tidak selalu berjalan sesuai harapan. Orang yang mengenal Allah tidak akan bertanya, "Mengapa ini terjadi kepadaku?" tetapi akan berkata, "Ya Allah, hikmah apa yang ingin Engkau ajarkan kepadaku melalui takdir ini?" Itulah awal lahirnya ridha, maqam yang menjadikan hati damai di bawah setiap ketetapan Allah.Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang sabar, lisan yang senantiasa bersyukur, dan jiwa yang ridha menerima setiap takdir-Nya. Aamiin


