Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 23 Agustus 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Kadang kita merasa telah menjadi orang yang beradab hanya karena pandai bersikap santun di hadapan manusia.
Kita menundukkan kepala, menggunakan bahasa yang halus, mencium tangan, memberikan sanjungan, dan menunjukkan penghormatan kepada seseorang. Namun, ketika keadaan berubah, ketika orang itu tidak lagi berada di hadapan kita, atau ketika kepentingan kita terhadapnya sudah tidak ada, sikap kita pun berubah.
Hari ini kita memuliakan.
Besok kita meremehkan.
Hari berikutnya kita kembali menghormati.
Kemudian berubah lagi.
Lalu kita bertanya dalam hati: Apakah ini hanya sifat manusia yang labil, atau sebenarnya ada sesuatu yang belum selesai dalam pendidikan hati kita?
Dalam perjalanan tasawuf, persoalan seperti ini bukan perkara kecil. Sebab tasawuf pada hakikatnya bukan sekadar memperindah penampilan lahir, tetapi membersihkan batin dari penyakit-penyakit yang tersembunyi.
Adab yang sejati bukan hanya persoalan gerak tubuh dan ucapan lisan. Adab adalah buah dari hati yang telah belajar tunduk kepada Allah.
Adab yang Berubah karena Kepentingan
Ada orang yang sangat santun kepada orang kaya, tetapi kasar kepada orang miskin.
Sangat hormat kepada pejabat, tetapi meremehkan rakyat biasa.
Sangat lembut kepada orang yang dibutuhkan, tetapi dingin kepada orang yang dianggap tidak memiliki manfaat.
Di hadapan orang yang berpengaruh, ia menunduk.
Di belakangnya, ia mencela.
Di depan orang yang memiliki kedudukan, ia memuji.
Ketika orang itu kehilangan kedudukan, pujian berubah menjadi ejekan.
Ini adalah sesuatu yang patut kita jadikan bahan muhasabah.
Sebab boleh jadi yang kita hormati bukan lagi karena Allah, tetapi karena nafsu kita sedang melihat manfaat yang melekat pada diri seseorang.
Ketika manfaat itu hilang, penghormatan ikut hilang.
Di sinilah hati perlu diperiksa.
Jangan-jangan selama ini kita mengira sedang beradab kepada manusia, padahal sebenarnya kita sedang beradab kepada kepentingan diri sendiri.
Tasawuf Mengajarkan Kita Memeriksa Niat
Para salik tidak hanya sibuk memperbaiki apa yang tampak dari luar. Mereka juga sibuk mengawasi gerak hati.
Sebab penyakit hati sering kali sangat halus.
Riya bisa menyamar menjadi kebaikan.
Ujub bisa bersembunyi di balik amal.
Takabbur bisa memakai pakaian tawadhu.
Kepentingan pribadi bisa menyamar menjadi penghormatan.
Bahkan seseorang dapat melakukan sesuatu yang secara lahiriah terlihat baik, tetapi di dalam hatinya terdapat sesuatu yang tidak Allah ridai.
Karena itu, muhasabah bukan sekadar bertanya:
“Apa yang sudah saya lakukan?”
Tetapi juga:
“Untuk siapa saya melakukannya?”
“Apa yang menggerakkan hati saya?”
“Mengapa saya menghormati orang ini?”
“Apakah penghormatan saya tetap ada ketika tidak ada keuntungan yang saya peroleh?”
Pertanyaan seperti ini mungkin terasa menyakitkan bagi ego.
Tetapi justru di situlah muhasabah bekerja.
Ia membawa kita masuk ke ruang batin yang sering kita hindari.
Jangan Sampai Kita Menjadi Dua Wajah
Tasawuf mengajarkan kejujuran batin.
Bukan berarti manusia tidak boleh mengalami perubahan suasana hati. Kita semua memiliki kelemahan. Kita bisa kecewa, marah, tersinggung, bahkan terkadang salah bersikap.
Tetapi seorang yang sedang menempuh jalan penyucian jiwa tidak membiarkan perubahan itu menjadi karakter.
Ia segera kembali.
Ketika tergelincir, ia istighfar.
Ketika hatinya dipenuhi kebencian, ia berusaha membersihkannya.
Ketika egonya muncul, ia menundukkannya.
Ketika merasa lebih baik daripada orang lain, ia segera mengingat bahwa dirinya pun hanyalah seorang hamba.
Sebab penyakit yang paling berbahaya bukan ketika kita memiliki kekurangan.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kita tidak lagi merasa memiliki kekurangan.
Kita bisa saja salah, tetapi merasa benar.
Kita bisa saja menyakiti, tetapi merasa sedang mengajarkan kebaikan.
Kita bisa saja merendahkan, tetapi menganggap diri sedang menegakkan kehormatan.
Di sinilah nafsu dapat menipu manusia dengan sangat halus.
Akhlak adalah Buah dari Hati
Orang yang hatinya dekat kepada Allah akan belajar melihat manusia dengan lebih lembut.
Bukan karena semua manusia baik.
Tetapi karena ia sadar bahwa dirinya pun memiliki banyak kekurangan.
Ia tidak mudah merasa lebih tinggi.
Ia tidak mudah mencabut penghormatan hanya karena berbeda pendapat.
Ia tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk menghina seluruh dirinya.
Ia mampu berkata dalam hati:
“Aku tidak menyukai perbuatannya, tetapi aku tidak berhak merasa lebih suci darinya.”
Inilah salah satu ruh tasawuf.
Menyalahkan perbuatan tidak harus membenci pelakunya.
Menolak kemungkaran tidak harus kehilangan kasih sayang.
Berbeda pendapat tidak harus melahirkan permusuhan.
Dan menegur seseorang tidak harus merusak kehormatannya.
Karena tujuan akhlak bukan memenangkan ego, tetapi menjaga hati agar tetap berada dalam jalan Allah.
Saleh yang Tidak Membutuhkan Panggung
Ada kesalehan yang senang dilihat manusia.
Ada pula kesalehan yang bahkan tidak membutuhkan seorang pun untuk mengetahuinya.
Yang pertama sibuk menjaga penampilan.
Yang kedua sibuk menjaga hati.
Yang pertama takut kehilangan penilaian manusia.
Yang kedua lebih takut kehilangan pandangan Allah.
Orang yang sedang belajar ikhlas tidak terlalu sibuk membangun citra dirinya sebagai orang saleh.
Ia lebih sibuk bertanya:
“Apakah Allah menerima amal saya?”
Ia tidak terlalu bangga ketika manusia memujinya, karena ia tahu pujian manusia tidak menjamin diterimanya amal.
Ia juga tidak terlalu hancur ketika manusia mencelanya, selama ia mengetahui bahwa dirinya sedang berusaha memperbaiki diri di hadapan Allah.
Inilah kemerdekaan hati.
Mari Kita Duduk Bersama Diri Sendiri
Barangkali malam ini kita perlu berhenti sejenak dari menilai orang lain.
Jangan tanyakan siapa yang kurang beradab.
Jangan tanyakan siapa yang berubah sikap.
Jangan tanyakan siapa yang munafik dalam penghormatannya.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah aku juga pernah melakukan hal yang sama?
Pernahkah aku menghormati seseorang karena hartanya?
Pernahkah aku mendekati seseorang karena jabatannya?
Pernahkah aku memuji seseorang di hadapannya, lalu membicarakannya di belakang?
Pernahkah aku berubah sikap hanya karena kepentinganku sudah tidak terpenuhi?
Pernahkah aku merasa lebih mulia karena merasa lebih banyak beribadah?
Pernahkah aku menganggap orang lain rendah hanya karena aku melihat dosa mereka, sementara aku lupa melihat dosa-dosaku sendiri?
Jika jawabannya pernah, jangan berputus asa.
Muhasabah bukan tempat untuk membenci diri.
Muhasabah adalah pintu untuk kembali.
Bersihkan Hati Sebelum Memperindah Zahir
Dalam perjalanan menuju Allah, kita tidak hanya diminta memperindah pakaian, ucapan, dan gerak tubuh.
Kita juga diminta memperindah hati.
Sebab mungkin saja tangan kita tampak santun ketika mencium tangan seseorang, tetapi hati kita menyimpan kesombongan.
Lisan kita mengucapkan penghormatan, tetapi hati kita sedang menghitung keuntungan.
Wajah kita tersenyum, tetapi batin kita penuh kebencian.
Maka jangan berhenti pada adab yang terlihat.
Carilah adab batin.
Adab ketika tidak ada yang melihat.
Adab ketika kita tidak mendapatkan keuntungan.
Adab ketika orang lain tidak membalas kebaikan kita.
Adab ketika kita diperlakukan tidak sesuai harapan.
Adab ketika orang yang kita hormati ternyata memiliki kekurangan.
Dan yang paling tinggi: adab kepada Allah ketika takdir-Nya tidak sesuai dengan keinginan kita.
Di situlah kualitas hati diuji.
Menjadi Hamba yang Saleh dengan Kesalehan yang Asli
Kesalehan yang asli tidak membutuhkan kepura-puraan.
Ia mungkin tidak selalu sempurna, tetapi jujur dalam memperbaiki diri.
Ia mungkin pernah jatuh, tetapi segera bangkit.
Ia mungkin pernah marah, tetapi berusaha memaafkan.
Ia mungkin pernah kecewa, tetapi tidak menjadikan kecewa sebagai alasan untuk berbuat zalim.
Ia mungkin belum mampu mencintai semua orang, tetapi ia berusaha tidak merendahkan mereka.
Dan ketika ia sadar telah salah, ia tidak sibuk mencari pembenaran.
Ia berkata:
“Ya Allah, perbaiki hatiku sebelum Engkau perbaiki penampilanku di mata manusia.”
Sebab yang paling penting bukan bagaimana kita terlihat di hadapan manusia.
Yang paling penting adalah bagaimana keadaan hati kita di hadapan Allah.
Janganlah kita menjadi orang yang tampak beradab, tetapi kehilangan adab ketika tidak ada yang melihat.
Jangan menjadi orang yang tampak tawadhu, tetapi hatinya menunggu penghormatan.
Jangan menjadi orang yang tampak saleh, tetapi diam-diam memelihara kesombongan.
Jadilah hamba yang saleh dengan kesalehan yang asli.
Kesalehan yang tidak bergantung pada siapa yang sedang kita hadapi.
Kesalehan yang tidak berubah karena kedudukan manusia.
Kesalehan yang tidak runtuh karena kepentingan.
Kesalehan yang tetap hidup ketika tidak ada pujian.
Dan akhirnya, kesalehan yang membuat hati semakin dekat kepada Allah, semakin lembut kepada makhluk, semakin sedikit melihat aib orang lain, dan semakin sering menangisi kekurangan diri sendiri.
Karena semakin seseorang mengenal Allah, semestinya semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.
Dan seorang hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya tidak akan sibuk membangun kesalehan di hadapan manusia.
Ia akan sibuk membersihkan hati di hadapan Allah.


