JAKARTA BARAT, infoDKJ.com | Jejak perjuangan ulama Betawi kembali diangkat dalam Kajian Tematik Bulanan ke-89 Majelis Ta’lim Kilmi Syabab. Mengusung tema “Kiprah Ulama Betawi untuk Bumi Nusantara”, kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat sejarah, keteladanan, serta kontribusi ulama Betawi dalam perjalanan bangsa.
Kajian digelar di Pelataran Kilmi Syabab, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (21/8/2026) malam. Kegiatan dimulai pukul 19.45 WIB dan menghadirkan KH. Rakhmad Zailani Kiki, S.Ag., M.M., Pengurus MUI DKI Jakarta, sebagai penceramah utama.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diiringi penampilan Jam’iyyah Hadroh Syabab Barzanji. Suasana religius semakin terasa sebelum kegiatan dilanjutkan dengan sambutan sekaligus prolog yang disampaikan Ust. dr. Ridholloh Ismat, M.Pd.I.
Memasuki acara utama, KH. Rakhmad Zailani Kiki memaparkan perjalanan panjang ulama Betawi, mulai dari masa sebelum kemerdekaan hingga periode setelah Indonesia merdeka.
Pembahasan tidak hanya menyoroti kiprah ulama dalam bidang keagamaan, tetapi juga peran mereka dalam membangun kesadaran masyarakat dan perjuangan menghadapi penjajahan. Sejumlah tokoh ulama Betawi turut diperkenalkan, di antaranya Guru Mansur, Syekh Junaid Al-Batawi, dan Guru Mughni.
Materi tersebut menjadi bagian penting dari upaya Majelis Ta’lim Kilmi Syabab yang dibina Ust. Ridholloh untuk mendekatkan generasi muda Betawi dengan sejarah para ulama dan tokoh agama di tanah kelahirannya.
Penyampaian materi berlangsung lugas, santai, dan segar. Sesekali diselingi canda dan humor sehingga suasana kajian tetap hidup dan jamaah mengikuti materi hingga akhir tanpa kehilangan perhatian.
“Ulama Betawi bukan hanya dikenal sebagai guru agama, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat dan ikut memberikan warna dalam perjuangan bangsa,” menjadi salah satu benang merah pembahasan dalam kajian tersebut.
Kegiatan turut dihadiri perwakilan pengurus MWC NU Kebon Jeruk, PAC Ansor/Banser, Rijalul Ansor, serta IPNU. Kehadiran berbagai unsur kepemudaan dan organisasi keagamaan tersebut memperkuat semangat untuk menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan sejarah ulama Betawi di kalangan generasi muda.
Kajian Tematik Bulanan ke-89 ini berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Acara ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah dalam suasana penuh keakraban.
Melalui kajian rutin tersebut, Kilmi Syabab tidak hanya menghadirkan forum pengajian, tetapi juga berupaya menjadikan sejarah ulama sebagai bagian dari pendidikan karakter generasi muda—agar mereka tidak sekadar mengenal nama para ulama Betawi, tetapi juga memahami perjuangan, keteladanan, dan warisan keilmuan yang mereka tinggalkan untuk umat dan bangsa. (Yansen)





