JAKARTA, infoDKJ.com | Nama Raden Muchamad Ali Mansur, yang lebih dikenal sebagai KH Ali Manshur Shiddiq, mungkin tidak setenar sejumlah tokoh nasional lainnya. Namun, jejak perjuangan dan warisan pemikirannya telah meninggalkan pengaruh yang begitu dalam bagi kehidupan keagamaan dan kebudayaan Islam di Indonesia.
Ia bukan hanya seorang kiai pesantren yang dikenal memiliki kemampuan dalam ilmu sastra. KH Ali Manshur juga merupakan pejuang, birokrat, politisi, sekaligus penggerak umat yang mengabdikan hidupnya untuk agama dan negara.
Dari pesantren hingga panggung politik nasional, perjalanan hidupnya memperlihatkan sosok ulama yang tidak hanya berkutat di ruang pengajian, tetapi juga terlibat langsung dalam dinamika perjalanan bangsa Indonesia.
Dari Jember, Tuban, hingga Lirboyo
KH Ali Manshur lahir di Jember dan kemudian tumbuh besar di Tuban. Sejak muda, kecerdasan dan ketajaman intelektualnya telah terlihat ketika ia menimba ilmu di Pesantren Lirboyo, Kediri.
Lingkungan pesantren menjadi tempat penting bagi pembentukan karakter, wawasan keislaman, sekaligus kemampuan intelektualnya. Bekal tersebut kemudian membawanya terjun ke berbagai bidang pengabdian.
Di tengah pergolakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KH Ali Manshur tidak memilih untuk hanya menjadi penonton. Ia turut terlibat dalam perjuangan fisik dengan bergabung bersama Laskar Hizbullah.
Bagi dirinya, membela agama dan mempertahankan kemerdekaan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya menjadi bagian dari tanggung jawab seorang Muslim terhadap tanah airnya.
Dari Birokrat hingga Konstituante
Selepas masa perjuangan, pengabdian KH Ali Manshur berlanjut melalui jalur pemerintahan. Ia menjalani karier sebagai birokrat dan ditempatkan di berbagai wilayah Nusantara.
Namun, kiprahnya tidak berhenti di dunia birokrasi.
Pada Pemilu 1955, salah satu pemilu paling bersejarah dalam perjalanan demokrasi Indonesia, KH Ali Manshur terpilih sebagai Anggota Konstituante Republik Indonesia dari Partai Nahdlatul Ulama (NU).
Di lembaga tersebut, ia dipercaya menjadi Juru Bicara Fraksi NU.
Posisi itu bukan sekadar kehormatan, tetapi juga menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap kapasitas intelektual dan kemampuan argumentasinya. Dalam perdebatan mengenai arah dan dasar konstitusi negara, suara KH Ali Manshur menjadi salah satu representasi pemikiran politik Islam pada masa itu.
Ia tampil sebagai seorang ulama yang mampu membawa wawasan keislaman ke tengah perdebatan kenegaraan yang kompleks.
Ketika Shalawat Menjadi Senjata Kultural
Namun, dari sekian panjang perjalanan hidupnya, ada satu warisan KH Ali Manshur yang hingga kini paling mudah dikenali masyarakat: Shalawat Badar.
Karya tersebut lahir dalam situasi politik Indonesia yang penuh ketegangan pada era Demokrasi Terpimpin. Pertarungan ideologi berlangsung semakin tajam, sementara pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin kuat.
Pada masa itu, berbagai ekspresi kebudayaan juga menjadi bagian dari pertarungan pengaruh di tengah masyarakat.
Di Banyuwangi, KH Ali Manshur yang ketika itu menjabat sebagai Ketua PCNU Banyuwangi, menggubah bait-bait Shalawat Badar.
Shalawat tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah karya spiritual sekaligus simbol perlawanan kultural umat Islam.
Di tengah derasnya propaganda kebudayaan, lantunan shalawat menghadirkan identitas dan semangat keagamaan yang kuat. Shalawat Badar pun tidak sekadar menjadi rangkaian pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, tetapi menjelma menjadi simbol persatuan dan keberanian umat.
Di Balik Lahirnya Shalawat Badar
Kisah lahirnya Shalawat Badar juga tidak terlepas dari cerita spiritual yang menyertainya.
Menurut kisah yang berkembang, proses penciptaan shalawat tersebut berkaitan dengan mubasyirat, atau mimpi baik, yang dialami oleh keluarga dan tetangga KH Ali Manshur.
Dalam mimpi tersebut, mereka menyaksikan kehadiran para pahlawan Perang Badar di kediaman sang kiai.
KH Ali Manshur sendiri juga mengalami pengalaman spiritual yang kemudian semakin menguatkan proses penciptaan karya tersebut. Dalam mimpinya, ia dikisahkan mendapat kehangatan berupa pelukan dari Nabi Muhammad SAW.
Pengalaman spiritual itulah yang kemudian menjadi bagian dari kisah panjang di balik lahirnya Shalawat Badar.
Terlepas dari bagaimana seseorang memaknai pengalaman tersebut, satu hal yang tidak terbantahkan adalah bagaimana karya itu kemudian tumbuh menjadi bagian penting dari tradisi keislaman masyarakat Indonesia.
Sempat Redup, Kemudian Kembali Menggema
Perjalanan Shalawat Badar tidak selalu berada dalam puncak popularitas. Ada masa ketika gaungnya mengalami pasang surut.
Namun, karya tersebut kembali mendapatkan perhatian luas setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menelusuri keaslian dan sejarah penciptaannya.
Gus Dur kemudian turut mempopulerkan kembali Shalawat Badar di hadapan publik, salah satunya dalam momentum Muktamar NU di Lirboyo.
Sejak saat itu, Shalawat Badar kembali menggema lebih luas. Dari pesantren hingga berbagai forum keagamaan, lantunannya terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bahkan hingga kini, Shalawat Badar menjadi salah satu lantunan yang begitu lekat dengan tradisi keislaman masyarakat Muslim Nusantara.
Warisan yang Tak Berhenti Setelah Sang Kiai Wafat
KH Ali Manshur Shiddiq wafat pada 1971. Namun, wafatnya sang kiai tidak serta-merta mengakhiri pengaruhnya.
Justru salah satu karya terbesarnya terus hidup di tengah masyarakat.
Shalawat Badar menjadi lebih dari sekadar karya sastra religi. Ia menjelma menjadi identitas kultural, simbol spiritualitas, dan bagian dari ingatan kolektif umat Islam Indonesia.
Perjalanan hidup KH Ali Manshur juga memperlihatkan bahwa seorang ulama dapat memainkan banyak peran sekaligus: menjadi pendidik, pejuang, birokrat, politisi, sekaligus budayawan.
Pengabdian panjang tersebut akhirnya mendapatkan pengakuan negara. Atas dedikasi dan jasanya dalam bidang kebudayaan, KH Ali Manshur Shiddiq dianugerahi tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.
Penghargaan itu menjadi penegasan bahwa warisannya tidak hanya memiliki arti bagi umat Islam, tetapi juga bagi perjalanan kebudayaan Indonesia.
Shalawat yang Menjadi Ingatan Bangsa
Puluhan tahun telah berlalu sejak KH Ali Manshur Shiddiq menggubah Shalawat Badar. Generasi telah berganti, zaman telah berubah, dan dinamika politik Indonesia telah jauh berbeda.
Namun, lantunan Shalawat Badar masih terdengar.
Di sanalah jejak seorang kiai terus hidup.
Bukan melalui monumen yang megah, melainkan melalui bait-bait doa yang dilantunkan bersama.
KH Ali Manshur Shiddiq telah pergi, tetapi Shalawat Badar yang diwariskannya tetap menggema—menjadi saksi bahwa perjuangan seorang ulama dapat menjelma menjadi warisan budaya yang hidup melampaui zaman.
Sumber: NU online


