JAKARTA BARAT, infoDKJ.com | Di tengah derasnya kemudahan teknologi yang dinilai dapat membuat anak-anak semakin kurang mandiri, Majelis Ta’lim Kaum Ibu Musholla Nurul Yaqin mengajak para orang tua kembali meneladani perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang sejak kecil telah ditempa berbagai ujian kehidupan.
Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Musholla Nurul Yaqin, Jalan KS Tubun 1, RT 06/RW 02, Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB tersebut dihadiri jamaah dan undangan dari sejumlah Majelis Ta’lim Kaum Ibu di wilayah Kota Bambu Selatan, di antaranya MT Al-Ma’bad, MT Al-Ikhlas, MT Miftahul Jannah, MT Al-Hayah, MT Al-Maksum, dan MT As-Saiyah.
Hadir pula Majelis Ta’lim dari wilayah Petamburan, yakni MT Al-Huda, MT Al-Ikhsan, dan MT Diniyyah Islamiyah.
Hadir sebagai penceramah, Ustadzah Hj. Dra. Ni’matul Husna, MA, M.Psi., bersama Ustadzah Hj. Naseha selaku guru tetap baca Al-Qur’an dan Ustadzah Pepi Linda selaku guru tetap baca Iqro.
Ketua Majelis Ta’lim Nurul Yaqin, Siti Anis Salamah, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya peringatan Maulid Nabi tersebut.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para undangan apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan, khususnya dalam pelayanan kepada jamaah.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, Hj. Eni. Selanjutnya, jamaah bersama-sama mengikuti pembacaan Surat Yasin yang dipimpin Lilis Kurniasih.
Suasana semakin khidmat dengan pembacaan shalawat oleh Tim Qasidah Diniyyah Islamiyyah pimpinan Hj. Ida Rosidah. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kalam Ilahi oleh Ustadzah Hamdiyah.
Memasuki acara inti, Ustadzah Hj. Dra. Ni’matul Husna, MA, M.Psi., menyampaikan tausiyah mengenai keteladanan Rasulullah SAW sekaligus tantangan orang tua dalam mendidik anak di tengah perkembangan teknologi.
Rasulullah Ditempa Sejak Dini
Dalam tausiyahnya, Ustadzah Ni’matul Husna mengajak jamaah melihat kembali perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak masa kanak-kanak.
Menurutnya, Rasulullah SAW telah mengalami berbagai ujian kehidupan sejak usia dini. Ayahanda beliau, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir. Kemudian ibundanya, Siti Aminah, wafat ketika Rasulullah masih kecil.
Setelah itu, kakeknya, Abdul Muthalib, yang merawat beliau juga wafat, disusul pamannya, Abu Thalib.
Rangkaian kehilangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang menempa Rasulullah SAW menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan mandiri.
Keteladanan tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi anak-anak pada masa sekarang.
Perkembangan teknologi telah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan. Namun, di sisi lain, kemudahan yang berlebihan juga perlu disikapi secara bijak agar anak tidak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan, mengambil tanggung jawab, dan membangun kemandirian.
Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam mengarahkan anak agar kemajuan teknologi tetap berjalan seimbang dengan pendidikan karakter dan akhlak.
Keteladanan Nabi Dimulai dari Keluarga
Ustadzah Ni’matul Husna menekankan bahwa meskipun kehidupan masyarakat saat ini sangat berbeda dengan kehidupan pada masa Rasulullah SAW, nilai-nilai keteladanan Nabi tetap relevan untuk diterapkan.
Menurutnya, yang perlu diwariskan kepada anak dan cucu bukanlah bentuk kehidupan masa lalu, melainkan nilai luhur yang diajarkan Rasulullah SAW, seperti keteguhan, tanggung jawab, kemandirian, kesabaran, dan akhlak mulia.
“Walaupun zaman kita jauh berbeda dengan zaman Nabi Muhammad SAW, ruh perjuangan dan keteladanan akhlak beliau tetap dapat kita tanamkan kepada anak-anak dan cucu kita,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya melalui nasihat. Keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam membentuk karakter anak.
Karena itu, perubahan dan perbaikan harus dimulai dari diri sendiri sebelum berharap anak-anak mengikuti nilai-nilai yang diajarkan.
“Mulailah dari diri kita pribadi. Maksimalkan ikhtiar, kemudian hasilnya kita pasrahkan kepada Allah SWT,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa mendidik anak merupakan proses panjang yang membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan ikhtiar yang terus-menerus.
Ditutup Doa dan Ramah Tamah
Usai tausiyah, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh Ustadzah Hj. Dra. Ni’matul Husna, MA, M.Psi.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah antara penceramah, pengurus Majelis Ta’lim Nurul Yaqin, para guru ngaji, serta jamaah.
Seluruh kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung lancar, tertib, dan kondusif.
Melalui kegiatan tersebut, Majelis Ta’lim Nurul Yaqin tidak hanya menjadikan Maulid sebagai momentum meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai ruang muhasabah bagi para orang tua untuk menghadirkan nilai-nilai keteladanan Nabi dalam kehidupan keluarga, khususnya dalam mendidik generasi di tengah perubahan zaman.




