Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 28 September 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Menjadi ustadz terkadang menghadirkan sebuah dilema.
Di satu sisi, ada ilmu agama yang telah dipelajari dan ingin segera disampaikan kepada orang lain. Selagi masih diberi umur, rasanya sayang jika ilmu hanya berhenti di dalam diri. Sebab ilmu yang bermanfaat bukan hanya yang diketahui, tetapi yang mengalir menjadi kebaikan bagi sesama.
Namun di sisi lain, ada suara hati yang bertanya:
"Bukankah sebelum mengajarkan, seharusnya aku sudah mengamalkannya?"
Pertanyaan itu tidak mudah.
Sebab semakin banyak seseorang belajar agama, semakin ia menyadari betapa banyak ilmu yang belum menjadi amal. Ia bisa menjelaskan tentang sabar, tetapi dirinya masih mudah gelisah. Bisa berbicara tentang ikhlas, tetapi hatinya masih ingin dihargai. Bisa mengajarkan tawakal, tetapi dirinya masih sering cemas terhadap masa depan.
Lalu apakah ia harus berhenti mengajarkan kebaikan?
Tidak.
Sebab manusia memang tidak pernah selesai dalam perjalanan memperbaiki diri.
Yang perlu dihindari bukan mengajarkan sesuatu yang belum sempurna kita amalkan, tetapi mengajarkan seolah-olah diri kita sudah sempurna.
Di sinilah kejujuran seorang guru diuji.
Ketika murid bertanya, "Ustadz, apakah ustadz sudah mengamalkan ini?", dan kenyataannya belum, tidak ada salahnya seorang ustadz berkata:
"Saya juga masih belajar mengamalkannya."
Kalimat sederhana, tetapi membutuhkan keberanian.
Sebab ada ego yang harus ditundukkan untuk mengucapkannya.
Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Seorang ustadz tidak harus tampil sebagai manusia yang telah selesai. Ia boleh tampil sebagai seorang hamba yang sedang berjalan.
Mengajarkan kesabaran sambil belajar bersabar. Mengajarkan keikhlasan sambil berjuang membersihkan niat. Mengajarkan tawakal sambil terus belajar melepaskan kecemasan kepada Allah.
Bukankah itu juga bagian dari dakwah?
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Ayat ini bukan alasan untuk berhenti mengajak kepada kebaikan. Ia adalah peringatan agar setiap nasihat yang keluar dari lisan juga mengetuk pintu hati orang yang menyampaikannya.
Karena itu, seorang ustadz sesungguhnya memiliki dua murid: orang yang mendengarkan nasihatnya dan dirinya sendiri.
Bahkan terkadang, murid yang paling sulit dinasihati adalah dirinya sendiri.
Ketika berbicara tentang ikhlas, ia sedang menasihati hatinya. Ketika mengajarkan sabar, ia sedang mengingatkan dirinya. Ketika menjelaskan tentang bahaya kesombongan, ia sedang memeriksa apakah kesombongan itu diam-diam tumbuh dalam dirinya.
Maka ilmu agama jangan hanya menjadi suara yang keluar dari lisan. Biarkan ia perlahan-lahan turun ke hati, lalu tumbuh menjadi akhlak.
Sebab ada orang yang pandai menjelaskan jalan menuju Allah, tetapi lupa berjalan ke sana.
Ada pula orang yang tidak banyak berbicara, tetapi setiap langkah hidupnya menjadi pelajaran.
Yang ideal tentu keduanya: ilmu yang disampaikan dan amal yang diusahakan.
Namun ketika keduanya belum sempurna, jangan berpura-pura telah sempurna.
Katakan dengan jujur:
"Saya juga sedang belajar."
Sebab menjadi guru agama bukan berarti telah selesai menjadi manusia. Menjadi ustadz justru seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya adalah hamba yang masih banyak kekurangan.
Ilmu bukanlah mahkota untuk merasa lebih tinggi.
Ilmu adalah cahaya untuk melihat betapa banyak kekurangan dalam diri sendiri.
Maka jangan berhenti mengajarkan kebaikan hanya karena belum sempurna. Tetapi jangan pula berhenti berusaha mengamalkan kebaikan hanya karena sudah pandai mengajarkannya.
Sampaikan ilmu yang benar. Amalkan semampunya. Akui kekurangan dengan jujur. Lalu teruslah berjalan.
Sebab perjalanan seorang guru agama bukan perjalanan untuk menjadi manusia tanpa cela.
Ia adalah perjalanan untuk menjadi hamba yang setiap kali mengetahui kekurangannya, semakin ingin kembali kepada Allah.
Kejujuran memang membutuhkan keberanian. Tetapi terkadang, keberanian terbesar seorang ustadz bukan ketika ia mampu menjawab semua pertanyaan muridnya—melainkan ketika ia berani berkata, “Saya belum mampu mengamalkannya. Saya juga masih belajar.”
Dan mungkin, dari kejujuran itulah sebuah ilmu mulai benar-benar menjadi cahaya.


