JAKARTA BARAT, infoDKJ.com | Puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Al-Bushaeriyyah Jakarta berlangsung penuh nuansa religius dan kebersamaan. Kegiatan yang dirangkaikan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW itu tidak hanya menjadi ajang peringatan keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat persatuan, kerukunan, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan digelar pada Sabtu (24/10/2026) malam hingga Minggu (25/10/2026) dini hari, bertempat di bawah rel kereta api, Jalan Gang Burung Dalam, RT 08/RW 02, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat.
Sejak sore hingga malam, jamaah dan undangan mulai berdatangan. Suasana semakin semarak dengan lantunan hadroh dan pembacaan Maulid Diba yang dibawakan para santri Pondok Pesantren Al-Bushaeriyyah.
Rangkaian acara diawali pembacaan Surah Al-Fatihah oleh Umi Hajjah Nining. Selanjutnya, para santri menampilkan berbagai kreasi, termasuk penampilan anak-anak TK Bani Sholeh, ceramah santri, drama bertema “Resolusi Jihad”, hingga penampilan ibu-ibu Majelis Taklim Al-Bushaeriyyah.
Momentum tersebut juga diisi dengan penyerahan piagam penghargaan kepada santri berprestasi dalam lomba ceramah yang diserahkan secara langsung oleh Sekretaris Kecamatan Tamansari, Mustika Berliantoro.
Hari Santri, Momentum Meneruskan Perjuangan Ulama
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Bushaeriyyah, KH. Dede Nurdiansyah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan.
Ia menilai peringatan Hari Santri yang dirangkaikan dengan Maulid Nabi memiliki pesan yang sangat kuat bagi generasi muda.
Para santri, menurutnya, tidak hanya dituntut memahami ilmu agama, tetapi juga harus mampu meneruskan perjuangan para ulama dan menjadi generasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ulama merupakan pewaris para nabi. Karena itu, para santri harus mempersiapkan diri untuk meneruskan perjuangan para pendahulu,” menjadi pesan penting yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pemerintah Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan
Sekretaris Kecamatan Tamansari, Mustika Berliantoro, turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang digelar Pondok Pesantren Al-Bushaeriyyah.
Menurutnya, Hari Santri merupakan momentum untuk kembali mengingat perjuangan ulama dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Ia mengajak masyarakat untuk terus menggelorakan semangat Hari Santri dan Resolusi Jihad, sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan.
“Semangat Hari Santri harus menjadi energi untuk memperkuat kebersamaan. Jangan sampai perbedaan justru menjadi alasan untuk terpecah,” pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
KH Manarul Hidayat: Indonesia Rumah Bersama
Pesan persatuan semakin kuat dalam tausiyah yang disampaikan Prof. Dr. KH. Manarul Hidayat, M.A.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah, menjaga kerukunan antarumat beragama, serta memperkuat peran ulama dan Nahdlatul Ulama dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, Indonesia merupakan rumah besar yang dihuni seluruh elemen bangsa. Karena itu, menjaga Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.
Semangat persatuan, toleransi dan kebersamaan harus terus dirawat agar kehidupan masyarakat tetap harmonis.
Ketika Ada Persoalan, Kedepankan Tabayun
Salah satu pesan penting yang disampaikan KH Manarul Hidayat adalah pentingnya tabayun ketika masyarakat menghadapi persoalan, termasuk dalam menyikapi kebijakan pemerintah.
Ia mengingatkan agar ketidakpuasan atau keberatan tidak langsung berkembang menjadi kesalahpahaman dan konflik.
Masyarakat diimbau mengutamakan komunikasi serta menyampaikan aspirasi melalui jalur yang tersedia, mulai dari tingkat RT/RW, kelurahan hingga kecamatan.
Tabayun, kata dia, bukan sekadar mencari klarifikasi, tetapi juga membangun budaya musyawarah dan komunikasi agar persoalan dapat diselesaikan dengan kepala dingin.
Pesan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban dan kerukunan di tengah masyarakat.
NKRI Harga Mati
Dalam tausiyahnya, KH Manarul Hidayat juga menegaskan bahwa NKRI adalah harga mati yang harus dipertahankan bersama.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, persatuan dan keutuhan bangsa.
Pemerintahan yang berjalan dengan dukungan nilai-nilai agama, menurutnya, akan semakin kuat apabila masyarakat turut berperan menjaga stabilitas dan memberikan kontribusi positif.
Kegiatan semakin semarak dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, Sholawat Badar, lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan, serta lantunan Maulid Al-Barzanji yang diiringi hadroh.
Selain itu, panitia juga memberikan santunan kepada anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial.
Dikawal Banser, Ansor, Pagar Nusa dan Karang Taruna
Untuk memastikan kegiatan berjalan tertib, personel Banser, Ansor, Pagar Nusa serta Karang Taruna Unit RW 02 Pinangsia turut terlibat dalam pengamanan.
Sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, para asatidz dan asatidzah, pengurus lingkungan, serta jamaah turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Rangkaian acara akhirnya ditutup dengan doa yang berlangsung hingga sekitar pukul 00.20 WIB.
Secara keseluruhan, peringatan Hari Santri Nasional 2026 dan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Bushaeriyyah berlangsung aman, tertib dan kondusif.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan tersebut meninggalkan pesan kuat: santri harus berilmu, berakhlak, mampu meneruskan perjuangan ulama, menjaga persaudaraan, mengedepankan tabayun, serta berdiri bersama dalam menjaga keutuhan NKRI.
(Karno)


