Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 3 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Ada sebuah kisah yang menyimpan pelajaran besar.
Suatu hari, seorang kyai kedatangan dua kelompok tamu murid.
Kelompok pertama banyak bertanya soal dunia: pekerjaan, urusan rumah tangga, persoalan teknis kehidupan sehari-hari. Sang kyai melayani dengan sabar, menjawab sesuai kebutuhan mereka—mengarahkan, menasihati, dan membimbing urusan dunia.
Namun tak lama kemudian, datang seorang murid lain. Tiba-tiba suasana pembicaraan berubah total. Kyai itu tidak lagi membahas dunia. Yang keluar dari lisannya hanyalah tentang akhirat, dzikir, dan jalan menuju Allah.
Seakan-akan urusan dunia menjadi kecil. Seolah di hadapan murid ini, yang layak dibahas hanyalah urusan langit.
Di sinilah hikmah besarnya:
Para guru yang arif berbicara sesuai kapasitas dan kesiapan ruhani muridnya.
1. Nabi ï·º pun Berdakwah Bertingkat Sesuai Kemampuan Orang
Rasulullah ï·º bersabda:
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kapasitas akalnya.”
(Diriwayatkan dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Karena itu, bukan hal aneh jika seorang kyai berbicara berbeda kepada orang yang berbeda.
Ada orang yang masih perlu dituntun dalam urusan dunia—cara bekerja, cara mengatur hidup, menjaga keluarga, dan menata akhlak.
Ada pula yang sudah waktunya ditarik naik menuju pemahaman akhirat—maka pembicaraan pun berubah.
2. Al-Qur’an Menuntun Manusia Melalui Tangga Ilmu
Allah berfirman:
“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu itu bertingkat-tingkat. Ada tahap awal, ada tahap lanjut.
Ada ilmu syariat.
Ada ilmu akhlak.
Ada ilmu ma’rifat.
Dan guru yang bijak tahu: murid ini sedang berdiri di tangga yang mana.
3. Tanda Ilmu yang Menghidupkan: Akhirat Lebih Besar daripada Dunia
Allah mengingatkan:
“Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 17)
Ketika seorang murid sudah siap naik, dunia bukan lagi tujuan utama. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak lagi menjadi pusat hati.
Karena itu, bagi murid tertentu, pembicaraan dunia terasa terlalu kecil dibanding kedahsyatan akhirat.
4. Kesimpulan: Hikmah Besar dalam Cara Membimbing
Ada manusia yang perlu dibimbing agar urusan dunianya rapi, hidupnya tertata, dan tidak rusak.
Ada manusia yang sudah harus diarahkan kepada akhirat, karena jiwanya siap didekatkan kepada Allah.
Maka, guru sejati bukan sekadar menjawab pertanyaan, tetapi menjaga maqam murid.
Ia tidak memberi “porsi ilmu” secara rata, tetapi secara tepat.
Itulah mengapa kyai bicara berbeda kepada orang yang berbeda.
Karena guru sejati bukan hanya mengajar ilmu—
tetapi menuntun jiwa.
Semoga Allah menjadikan kita murid yang siap naik derajat,
dan mempertemukan kita dengan guru-guru yang arif, yang mampu membaca keadaan hati kita.


