Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 13 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Sebuah Renungan Iman
Dalam perjalanan hidup, Allah mempertemukan kita dengan berbagai keadaan manusia. Ada yang sehat, kuat, dan sempurna secara fisik. Namun, tidak sedikit pula yang hidup dengan keterbatasan: kaki yang buntung, tangan yang hilang, tubuh yang cacat sejak lahir, atau mata yang tidak dapat melihat sehingga harus berjalan dengan tongkat penuntun.
Sebagian kondisi itu sudah ada sejak bayi, sebagian lainnya hadir setelah dewasa akibat kecelakaan atau musibah.
Pertanyaannya: mengapa Allah menampakkan semua itu kepada kita?
Islam mengajarkan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang kita lihat tanpa hikmah. Sering kali, hikmah itu justru kembali kepada kita yang melihat, bukan hanya kepada orang yang sedang diuji.
1. Cermin agar kita bersyukur
Allah menampilkan orang-orang yang memiliki kekurangan di hadapan kita untuk membangunkan rasa syukur yang mungkin telah lama tertidur. Manusia kerap terlena dengan nikmat tubuhnya, lupa bahwa semua itu bisa hilang dalam sekejap.
Ketika kita melihat seseorang berjalan dengan satu kaki, seakan Allah berbicara kepada hati kita:
“Lihatlah nikmat kakimu yang lengkap. Sudahkah engkau bersyukur? Sudahkah engkau menggunakannya untuk ketaatan dan ibadah?”
2. Ujian: adakah empati dalam hati kita?
Orang yang diuji dengan kekurangan fisik bukanlah tontonan, melainkan ujian bagi hati manusia.
Apakah yang muncul adalah empati, kasih sayang, dan keinginan membantu?
Ataukah justru kesombongan, meremehkan, dan merasa diri lebih mulia?
Rasulullah ï·º bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mencintai di sini termasuk merasakan penderitaan orang lain, memahami keadaannya, dan tidak merendahkannya.
3. Pelajaran tentang ketegaran dan kesabaran
Tidak sedikit orang yang memiliki keterbatasan fisik justru menunjukkan semangat hidup yang luar biasa. Mereka jarang mengeluh, tegar, bahkan lebih sabar daripada orang-orang yang tubuhnya sempurna.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Melihat mereka berarti belajar tentang kesabaran dan penerimaan terhadap takdir.
Terkadang Allah ingin kita belajar langsung dari kehidupan nyata, bukan hanya dari buku atau ceramah.
4. Pengingat bahwa kesempurnaan bukan pada rupa, tetapi pada takwa
Islam menghapus standar kesempurnaan lahiriah. Kemuliaan manusia tidak diukur dari sehat atau cacatnya fisik.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Maka kekurangan fisik yang kita lihat adalah pengingat bahwa nilai manusia terletak pada takwa, bukan pada anggota tubuhnya.
5. Ujian keimanan: bertambah atau tidak?
Allah menguji sebagian hamba-Nya dengan keterbatasan fisik, dan pada saat yang sama Allah juga menguji kita yang melihatnya.
Apakah iman kita bertambah? Apakah hati kita menjadi lebih lembut?
Rasulullah ï·º bersabda:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam hal dunia), dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”
(HR. Muslim)
Orang-orang yang hidup dengan keterbatasan fisik termasuk bagian dari mereka yang Allah perintahkan untuk kita lihat agar kita bersyukur dan melakukan introspeksi diri.
6. Allah mengajarkan rahmat melalui peristiwa nyata
Hidup adalah madrasah. Setiap peristiwa adalah pelajaran.
Kadang Allah tidak hanya menasihati melalui ayat, tetapi menghadirkannya dalam bentuk realita agar hati kita tersentuh dan sadar.
Setiap orang yang kita temui bisa menjadi guru kehidupan yang Allah kirimkan.
Penutup: Hikmah yang kembali kepada kita
Semua kekurangan fisik yang Allah tampakkan di hadapan kita adalah:
- Ujian rasa syukur
- Ujian empati dan kasih sayang
- Pelajaran kesabaran
- Pengingat nilai sejati manusia
- Pendorong untuk meningkatkan iman
Maka setiap kali kita melihat orang yang diuji dengan keterbatasan fisik, berdoalah:
“Ya Allah, Engkau telah memberinya ujian yang berat. Maka kuatkanlah dia, dan jadikanlah aku hamba-Mu yang pandai bersyukur.”
Semoga hati kita tidak hanya melihat, tetapi juga belajar dan berubah.


