Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 13 Januari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Banyak orang hidup dalam kegelisahan yang sama: takut rezekinya kurang, takut kalah saing, takut “didahului” orang lain. Dari rasa takut itu, sebagian orang tergelincir: mulai menghalalkan cara demi hasil. Padahal dalam iman, ada satu ketenangan besar yang sering kita lupakan: rezeki sudah ditakar oleh Allah. Yang diuji bukan “apakah kita dapat rezeki”, tetapi bagaimana cara kita menjemputnya.
1) Rezeki Itu Takdir, tapi Ikhtiar Tetap Wajib
Rezeki memang bagian dari takdir Allah. Namun takdir bukan alasan untuk pasif. Allah memerintahkan manusia untuk berusaha, bekerja, dan bergerak. Hanya saja, ikhtiar seorang mukmin dibingkai oleh keyakinan: hasil bukan milik strategi semata, hasil milik Allah.
Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…”
(QS. Hud: 6)
Ayat ini bukan untuk membuat kita berhenti bekerja, melainkan agar kita bekerja tanpa panik, berusaha tanpa putus asa, dan berdagang tanpa menggadaikan iman.
2) Rezeki Bisa “Lebih” karena Kita Jadi Jalan Rezeki Orang Lain
Kadang Allah melapangkan rezeki seseorang bukan hanya untuk dirinya, tetapi karena ia memikul amanah banyak orang.
- Seorang ayah bisa dilapangkan rezekinya karena di pundaknya ada anak dan istri.
- Seorang pemimpin usaha (bos) bisa dilapangkan rezekinya karena ada karyawan yang menggantungkan hidup.
- Seorang yang dermawan sering “ditambah” karena ia gemar menyalurkan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai hikmah-Nya:
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya…”
(QS. Ar-Ra’d: 26)
Jadi, kalau rezeki kita terasa “lebih”, boleh jadi itu bukan sekadar untuk dinikmati—melainkan untuk ditunaikan: menafkahi, membantu, menolong, dan menguatkan orang lain.
3) Orang yang Menipu Tidak Mengurangi Rezekimu, tapi Mengotori Rezekinya
Dalam bisnis atau urusan apa pun, kita kadang dizalimi: ditipu, dicurangi, dipermainkan. Pertanyaan yang sering muncul: “Kalau aku ditipu, berarti rezekiku berkurang dong?”
Secara iman, jawabannya: tidak. Rezeki yang Allah tetapkan untukmu tidak akan “hilang” hanya karena kelicikan manusia. Yang terjadi: si penipu sedang mengambil bagian rezekinya dengan cara haram, dan itu bukan kemenangan—itu beban.
Rasulullah ï·º mengingatkan:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kelicikan mungkin memberi hasil cepat, tapi ia menanam masalah panjang: gelisah, tidak berkah, rusak reputasi, bahkan mengundang pertanggungjawaban di akhirat.
Lebih jauh, Allah menegaskan ancaman keras bagi kecurangan timbangan dan transaksi:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang…”
(QS. Al-Muthaffifin: 1)
Artinya, rezeki yang “didapat” dengan menipu bukanlah rezeki yang menenangkan, melainkan rezeki yang mengundang celaka.
4) Kunci Ketenangan: Jangan Takut Kehilangan, Takutlah Kehilangan Berkah
Ada paradoks yang sering terjadi: seseorang terlihat banyak uang, tetapi hidupnya sempit; sementara yang lain rezekinya sederhana, tapi hatinya lapang. Di sinilah kita belajar: rezeki bukan sekadar angka—ada unsur barakah (keteguhan kebaikan dalam nikmat).
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan kepadaku bahwa seorang jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya…”
(HR. Ibnu Hibban; maknanya masyhur di kalangan ulama)
Pesan moralnya kuat: rezeki tidak akan tertukar. Maka tidak ada alasan untuk “menyikut” orang lain dengan cara haram. Kalau pun rezekimu datang melalui jalan yang berbeda, ia tetap akan sampai sesuai ketetapan Allah—yang penting engkau tetap berada di jalan yang halal.
Allah memberi jaminan ketenangan bagi orang yang bertakwa:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka…”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ini bukan janji “kaya raya” instan, tetapi janji bahwa takwa melahirkan jalan, dan Allah mampu mengirim rezeki melalui pintu yang tidak kita perkirakan.
5) Ikhtiar yang Cerdas: Pakai Akal, Pilih Cara yang Halal
Karena rezeki tidak akan berkurang, maka yang perlu kita jaga bukan kecerdikan untuk “mengakali orang”, melainkan kecerdikan untuk:
- memilih bisnis yang bersih,
- menghindari praktik riba, suap, dan manipulasi,
- menjaga amanah dan kualitas,
- membangun reputasi jangka panjang.
Ingat, cara haram mungkin mempercepat hasil, tetapi sering mempercepat pula kerusakan. Allah memerintahkan:
“Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi…”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Dan Rasulullah ï·º mengingatkan bahwa doa pun bisa terhalang jika sumbernya haram—seseorang makan, minum, dan berpakaian dari yang haram, lalu bagaimana doanya dikabulkan? (Makna hadits sahih, HR. Muslim).
Penutup: Halal Itu Tidak Membuat Rezeki Berkurang, Justru Membuat Hidup Bertambah Tenang
Jadi, jangan pernah takut kehilangan rezeki hanya karena kamu memilih jalan halal. Rezekimu tidak akan habis, tidak akan tertukar, dan tidak akan dicuri dari takdirmu. Yang bisa hilang justru ketenangan, bila rezeki dijemput dengan cara yang haram.
Pegang prinsip ini:
- Rezeki sudah ditakar, tapi akhlak cara mencari rezeki adalah ujian.
- Yang menipu tidak mengurangi rezekimu, ia hanya mengotori hidupnya sendiri.
- Jalan halal mungkin terasa lebih pelan, tapi ia membawa berkah, kehormatan, dan ketenangan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kuat ikhtiar, lurus jalan, dan diberi rezeki yang halal lagi berkah. Aamiin.


