Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 1 Februari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Hujan dan panas adalah sunnatullah—hukum alam yang telah Allah ﷻ tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi. Ia bukan peristiwa acak, bukan pula kebetulan. Hujan turun membawa rahmat, menghidupkan bumi yang mati, memberi minum makhluk hidup, dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Namun pertanyaannya hari ini bukan sekadar mengapa hujan turun, melainkan:
mengapa hujan yang sama kini sering menghadirkan bencana?
Hujan deras, meski berdurasi singkat, berulang kali menyebabkan banjir di berbagai wilayah. Banyak orang berkata, “Ini memang musim hujan.” Tetapi ingatan kolektif umat tidak bisa dibohongi: di tahun-tahun sebelumnya, musim hujan tidak selalu identik dengan banjir parah dan kerusakan luas.
Maka patut direnungkan: ada yang berubah—dan yang berubah bukanlah langit, melainkan bumi yang dikelola manusia.
1. Hujan adalah Rahmat, Banjir adalah Peringatan
Allah ﷻ berfirman:
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.”
(QS. Qaf: 9)
Dalam ayat ini, hujan disebut sebagai air yang penuh berkah. Artinya, secara hakikat, hujan adalah rahmat, bukan musibah. Namun rahmat bisa berubah menjadi peringatan ketika manusia tidak menyiapkan wadah yang benar untuk menerimanya.
Banjir bukan semata karena hujan terlalu banyak, tetapi karena:
- saluran air tersumbat,
- sungai dipersempit,
- tanah kehilangan daya serap,
- ruang hijau digantikan beton dan aspal,
- alam diperlakukan sebagai objek eksploitasi, bukan amanah.
2. Kerusakan Alam adalah Akibat Ulah Manusia
Allah ﷻ telah mengingatkan dengan sangat tegas:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menjelaskan bahwa sebagian bencana bukan hukuman semata, tetapi peringatan agar manusia sadar dan kembali. Kerusakan lingkungan bukan misteri, melainkan konsekuensi dari keserakahan, kelalaian, dan pengabaian amanah.
Allah tidak menzalimi manusia, tetapi manusialah yang sering menzalimi bumi tempat ia berpijak.
3. Alam Adalah Amanah, Bukan Sekadar Properti
Islam memandang manusia sebagai khalifah, bukan pemilik mutlak.
Allah ﷻ berfirman:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Khalifah berarti pengelola, penjaga, dan penata—bukan perusak. Jalan air harus ditata, sungai harus dijaga, hutan harus dilestarikan, agar seluruh makhluk Allah—bukan hanya manusia—mendapatkan hak hidupnya sesuai qadar Ilahi.
4. Makhluk Lain Juga Punya Hak atas Bumi
Sering kali manusia membangun tanpa mempertimbangkan makhluk lain: air, tanah, tumbuhan, dan hewan. Padahal Islam mengajarkan keadilan ekologis.
Ketika manusia menutup aliran air, merusak resapan, dan menghilangkan habitat, maka yang terganggu bukan hanya manusia, tetapi seluruh makhluk Allah. Ketidakseimbangan ini pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri dalam bentuk banjir, longsor, dan krisis lingkungan.
5. Hujan Lebat sebagai Bahasa Alam
Boleh jadi hujan yang “over kuantitas dan over kapasitas” bukan kesalahan hujan, melainkan ketidaksiapan manusia. Alam seolah berbicara dengan bahasa yang keras karena bahasa yang lembut tidak lagi didengar.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa saat hujan:
“Allahumma shayyiban nafi‘an.”
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”
(HR. Bukhari)
Doa ini mengandung pengakuan bahwa hujan bisa membawa manfaat atau mudarat, tergantung bagaimana manusia menyikapinya.
Penutup
Hujan lebat bukan musuh. Ia adalah cermin. Jika pantulannya tampak mengerikan, mungkin yang perlu dibenahi bukan langit, tetapi cara manusia memperlakukan bumi.
Semoga hujan kembali menjadi rahmat, bukan peringatan yang menyakitkan. Dan semoga manusia segera sadar, sebelum alam terus berbicara dengan cara yang semakin keras.


