Jakarta, infoDKJ.com | Jum'at, 6 Februari 2026
Percayalah, setiap pertemuan dalam hidup ini bukanlah kebetulan. Dalam keyakinan seorang mukmin, tidak ada takdir yang berjalan tanpa makna. Allah mempertemukan kita dengan seseorang bukan sekadar untuk hadir lalu pergi, melainkan membawa pesan, pelajaran, dan hikmah—yang sering kali baru kita pahami setelah waktu berlalu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).”
(QS. Al-Qamar: 49)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap peristiwa, termasuk pertemuan antarmanusia, telah berada dalam ketentuan Allah. Tidak ada satu pun yang hadir dalam hidup kita tanpa alasan Ilahi.
Pertemuan sebagai Sarana Belajar
Ada orang-orang yang Allah hadirkan untuk mengajarkan kita banyak hal. Bisa jadi melalui nasihat yang menegur ego, melalui akhlak dan amal kebaikannya yang diam-diam menggerakkan hati, atau bahkan melalui kekurangan dan kesalahannya—yang darinya kita belajar tentang sabar, empati, dan kelapangan dada.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Pertemuan antarmanusia sejatinya adalah ladang untuk saling menolong dalam kebaikan, saling menguatkan iman, dan saling mengingatkan saat lalai.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Agama itu adalah nasihat.”
(HR. Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa hubungan sesama mukmin tidak lepas dari proses saling menasihati. Kadang kita menjadi pihak yang diingatkan, di lain waktu kita yang mengingatkan. Keduanya adalah bentuk kasih sayang.
Saling Mengisi, Bukan Sekadar Singgah
Tidak semua pertemuan berakhir dengan kebersamaan yang panjang. Ada yang hanya singgah sebentar, namun meninggalkan bekas yang mendalam. Namun Islam mengajarkan bahwa bahkan perpisahan pun tetap bernilai, selama pertemuan itu membawa pelajaran iman.
Allah Ta’ala berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan hidup bukan hanya tentang iman pribadi, tetapi juga tentang proses saling menasihati dan bersabar. Pertemuan dengan orang lain adalah cara Allah agar kita tidak berjalan sendirian di atas kebenaran.
Kadang Kita Ditugaskan Mengajar, Kadang untuk Diajari
Ada kalanya Allah menghadirkan seseorang agar kita menjadi sebab kebaikan baginya—melalui nasihat, teladan akhlak, atau sekadar menjadi pendengar yang tulus. Namun di waktu lain, justru kita yang sedang diuji untuk belajar darinya.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.”
(HR. Abu Dawud)
Cermin tidak selalu menampilkan hal yang indah. Ia kadang menunjukkan kekurangan. Namun dari situlah perbaikan bermula.
Penutup
Setiap pertemuan adalah amanah. Tidak ada yang sia-sia di hadapan Allah. Entah seseorang tinggal lama atau pergi cepat, entah ia membawa tawa atau luka, semuanya mengandung pelajaran menuju kedewasaan iman.
Tugas kita hanyalah menjaga adab, bersabar di jalan kebenaran, dan mengambil hikmah dari setiap perjumpaan. Karena bisa jadi, melalui seseorang itulah Allah sedang membentuk hati kita agar semakin dekat kepada-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
.jpeg)

.jpeg)