JAKARTA, infoDKJ.com | Demam “War Takjil” benar-benar terasa di kawasan Kelapa Dua, Jakarta Barat. Seolah menjadi agenda wajib setiap sore, ratusan warga rela berdesakan demi mendapatkan menu berbuka puasa favorit mereka. Fenomena ini mengubah ruas jalan yang biasanya menjadi jalur lalu lintas, menjadi pusat perburuan kuliner paling meriah selama bulan Ramadan.
Titik Panas “War” Takjil: Di Sini Lokasinya
Bagi para pemburu takjil, ada satu “medan tempur” utama di Kelapa Dua yang tak boleh dilewatkan, yakni Jalan Panjang Arteri Kelapa Dua.
Sejak pukul 16.00 WIB, kawasan ini sudah dipadati warga yang berburu hidangan berbuka. Lokasinya yang strategis serta pilihan menu yang beragam menjadikan tempat ini titik favorit masyarakat. Deretan lapak pedagang berjejer rapi, menyajikan aneka hidangan dengan aroma menggoda yang sulit diabaikan siapa pun yang melintas.
Menu “Wajib” yang Jadi Incaran
Yang diburu warga bukan hanya gorengan hangat yang renyah. Beragam takjil tradisional dan kekinian tersedia lengkap, mulai dari kolak pisang, biji salak, bubur sumsum, hingga es pisang hijau yang menyegarkan.
Aneka kue basah berwarna-warni juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak ketinggalan, minuman kekinian turut meramaikan pilihan, membuat kantong belanjaan warga cepat penuh menjelang waktu berbuka.
“Bukan cuma soal makanannya, tapi vibes ngabuburit dan kebersamaannya itu yang dicari. Rasanya kurang lengkap kalau belum ikut keriuhan ini,” ujar salah satu pengunjung yang tengah asyik memilih takjil.
Berkah Ramadan, Cuan Mengalir untuk UMKM
Keriuhan “War Takjil” ini menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku UMKM. Kehadiran pedagang, termasuk yang musiman, menjadi magnet yang menghidupkan denyut ekonomi rakyat. Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga peluang bagi pedagang kecil untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.
Dengan suasana penuh energi, canda, dan semangat kebersamaan, kawasan Kelapa Dua menjadi potret nyata kehangatan sosial masyarakat Jakarta di bulan Ramadan. Tradisi berburu takjil bukan sekadar soal kuliner, melainkan juga tentang kebersamaan dan kebahagiaan sederhana menjelang waktu berbuka. (Yansen)



